
Kualitas udara di sejumlah wilayah Indonesia memburuk akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Berdasarkan pemantauan Indeks Kualitas Udara atau Air Quality Index (AQI) pada Kamis (15/10/2026), dua kota di Indonesia masuk dalam daftar 10 kota dengan kualitas udara terburuk di dunia.
Dalam laporan tersebut, Jambi menempati posisi pertama dengan skor AQI 269 atau masuk kategori parah. Sementara itu, Pekanbaru berada di urutan keempat dengan skor 186 yang termasuk kategori tidak sehat.
AQI digunakan untuk menggambarkan tingkat pencemaran udara berdasarkan sejumlah polutan. Beberapa di antaranya adalah partikel halus PM2.5, PM10, nitrogen dioksida (NO₂), sulfur dioksida (SO₂), dan karbon monoksida (CO).
Tingginya tingkat polusi menjadi perhatian karena paparan udara tercemar dapat berdampak pada kesehatan, terutama bagi anak-anak, lansia, ibu hamil, serta orang yang memiliki gangguan pernapasan.
Daftar 10 Kota dengan Kualitas Udara Terburuk di Dunia
Berdasarkan data AQI (US) pada Kamis (15/10/2026) pukul 12.12 waktu setempat, berikut daftar 10 kota dengan kualitas udara terburuk di dunia dalam laporan tersebut.
- Jambi, Indonesia – Skor AQI 269 (parah)
- Muzaffarnagar, India – Skor AQI 190 (tidak sehat)
- Sitapur, India – Skor AQI 189 (tidak sehat)
- Pekanbaru, Indonesia – Skor AQI 186 (tidak sehat)
- Nagpur, India – Skor AQI 185 (tidak sehat)
- Thrissur, India – Skor AQI 184 (tidak sehat)
- Xiaoganzhan, China – Skor AQI 182 (tidak sehat)
- Bulandshahr, India – Skor AQI 180 (tidak sehat)
- Gurgaon, India – Skor AQI 176 (tidak sehat)
- Kota, India – Skor AQI 174 (tidak sehat)
Peringkat tersebut dapat berubah seiring perubahan kondisi atmosfer, sumber polusi, dan waktu pengukuran. Karena itu, daftar ini menggambarkan kondisi pada waktu pemantauan, bukan peringkat tetap sepanjang hari.
Palangka Raya dan Pangkalan Bun Catat PM2.5 Tinggi
Selain Jambi dan Pekanbaru, sejumlah wilayah Indonesia juga mengalami pencemaran udara yang berkaitan dengan karhutla. Laporan yang sama mencatat tingginya konsentrasi PM2.5 di beberapa lokasi, termasuk Palangka Raya dan Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah.
PM2.5 merupakan partikel berukuran sangat kecil yang dapat masuk jauh ke dalam paru-paru. Sebagian partikel ini juga dapat mencapai aliran darah sehingga paparan berlebih berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan.
Berdasarkan data yang dikutip dalam laporan per 15 Oktober 2026, berikut 10 lokasi dengan konsentrasi PM2.5 tertinggi di Indonesia:
- Palangka Raya – 1.056,4
- Pangkalan Bun – 957,3
- Musi 2, Palembang – 188,8
- Talang Betutu, Palembang – 185
- Mempawah, Kalimantan Barat – 177,9
- Sintang, Kalimantan Barat – 170,9
- Kototabang, Sumatera Barat – 169,1
- Kubu Raya, Kalimantan Barat – 166,4
- Medan – 159,4
- Muaro Jambi – 140,9
Angka konsentrasi PM2.5 tersebut menggunakan satuan dan metode pengukuran yang berbeda dari skor AQI. Oleh sebab itu, nilainya tidak dapat dibandingkan secara langsung dengan skor AQI pada daftar kota sebelumnya.
Mengapa Karhutla Memperburuk Kualitas Udara?
Kebakaran hutan dan lahan menghasilkan asap serta partikel polutan dari pembakaran material organik, termasuk vegetasi dan lahan gambut. Ketika asap menyebar dan terkumpul di atmosfer, kualitas udara di wilayah terdampak dapat menurun.
Kondisi cuaca dan pergerakan angin juga dapat memengaruhi penyebaran serta penumpukan polutan. Akibatnya, wilayah yang jauh dari titik kebakaran pun dapat terdampak asap.
Salah satu polutan yang perlu diwaspadai adalah PM2.5 karena ukurannya yang sangat kecil membuat partikel ini mudah terhirup. Paparan polusi dapat memicu iritasi saluran pernapasan dan memperburuk kondisi kesehatan tertentu. Dalam jangka panjang, paparan polusi partikulat juga dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular.
Cara Mengurangi Paparan Polusi Udara
Ketika kualitas udara memburuk, masyarakat perlu memperhatikan informasi kualitas udara dari sumber pemantauan yang tepercaya. Aktivitas fisik berat di luar ruangan sebaiknya dikurangi ketika tingkat polusi tinggi, terutama bagi kelompok yang lebih rentan.
Masyarakat juga dapat mengurangi paparan dengan membatasi waktu di luar ruangan saat asap pekat, menutup jendela ketika kondisi udara luar memburuk jika situasi memungkinkan, serta menggunakan masker yang sesuai ketika harus beraktivitas di area berasap.
Di sisi lain, pencegahan karhutla dan penanganan kebakaran lahan tetap penting untuk mengurangi sumber pencemaran. Menjaga lingkungan dan tidak melakukan pembakaran terbuka dapat menjadi bagian dari upaya bersama untuk menekan risiko polusi udara.
Data kualitas udara dapat berubah dari waktu ke waktu. Karena itu, masyarakat sebaiknya memeriksa pembaruan indeks kualitas udara sebelum menentukan aktivitas di luar ruangan.







