BRTV

Institut STIAMI Dorong Kolaborasi Pendidikan dan Industri untuk Generasi Emas

JAKARTA — Simposium bertajuk Education, Ergonomics & Innovation Symposium 2026 resmi digelar di Merlynn Park Hotel, Jakarta, Rabu (21/5/2026). Kegiatan ini menjadi forum kolaborasi lintas sektor yang mempertemukan pemerintah, akademisi, industri, dan praktisi pendidikan untuk membahas tantangan pendidikan di era digital serta pentingnya lingkungan belajar yang sehat dan ergonomis.

Sekitar 200 peserta hadir dalam kegiatan tersebut, mulai dari perwakilan institusi pendidikan, komunitas orang tua, pelaku industri, hingga media. Simposium membahas sejumlah isu, seperti dampak penggunaan perangkat digital terhadap kesehatan siswa, beban tas sekolah, postur tubuh, hingga inovasi teknologi ergonomis untuk mendukung proses belajar.

Rektor Institut STIAMI, Prof. Dr. Hj. Sylviana Murni mengatakan, dunia pendidikan saat ini menghadapi tantangan besar akibat perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) serta perubahan pola belajar generasi muda.

Menurutnya, Indonesia telah memiliki regulasi yang mendukung transformasi pendidikan, namun penguatan sumber daya manusia masih perlu terus dilakukan.

“Dari segi regulasi kita sudah siapkan, tetapi dari segi SDM kita masih perlu pengembangan. Artinya kita harus terus belajar, belajar dan belajar,” ujar Sylviana.

Ia menilai pendidikan tidak hanya berkaitan dengan kualitas SDM, tetapi juga menyangkut infrastruktur, kesehatan, dan ekosistem pembelajaran secara menyeluruh. Karena itu, kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dunia usaha, media, dan masyarakat dinilai penting dalam menciptakan inovasi pendidikan.

“Kalau kolaborasi ini terjadi, akan timbul inovasi-inovasi baru, transfer of knowledge dan transfer of technology menuju Indonesia Emas 2045,” katanya.

Sylviana juga menyoroti pentingnya lingkungan belajar yang nyaman dan ergonomis di tengah meningkatnya isu kesehatan mental dan kejenuhan belajar pada siswa maupun mahasiswa.

Menurut dia, kerja sama dengan mitra Jepang seperti Tsuchiya Kaban dan Indonesia Research Institute Japan diharapkan dapat menghadirkan inovasi pendidikan yang memperhatikan kesehatan fisik dan mental peserta didik.

“Kalau badan kita sehat, otak kita akan makin cerdas. Karena itu perangkat sekolah yang ergonomis menjadi penting agar mendukung proses belajar anak,” ujarnya.

Sementara itu, Staf Ahli Menteri Bidang Pendanaan dan Pembiayaan Ekonomi Kreatif, Restog Krisna Kusuma mengatakan generasi muda perlu terus meningkatkan kemampuan agar mampu bersaing di tengah perkembangan AI dan teknologi digital.

Menurut Restog, kemajuan teknologi harus dimanfaatkan sebagai sarana pembelajaran yang mudah diakses dan terjangkau.

“Tidak ada cara lain selain belajar. Sekarang akses pembelajaran sangat mudah dan murah. Anak muda harus memanfaatkan teknologi untuk terus belajar dan menguasai perkembangan tersebut,” katanya.

Ia menambahkan, inovasi produk pendidikan yang ergonomis juga dapat menjadi peluang bagi industri kreatif nasional. Transfer teknologi dari Jepang dinilai dapat mendorong lahirnya produk lokal yang memiliki nilai tambah dan daya saing.

“Saya pikir seluruh inovasi sangat dibutuhkan karena kebutuhan menciptakan rasa nyaman dalam proses pembelajaran juga semakin penting,” ujarnya.

Di sisi lain, Wakil Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta, Drs. Sarjoko menegaskan perkembangan teknologi digital tidak dapat dihindari dalam dunia pendidikan. Namun, penggunaan gawai di lingkungan sekolah perlu diatur secara bijak.

Menurutnya, Dinas Pendidikan DKI Jakarta telah mengeluarkan surat edaran terkait pembatasan penggunaan gawai pada jam pelajaran agar penggunaannya tetap sesuai kebutuhan pembelajaran.

“Kita tidak melarang siswa memanfaatkan gadget, tetapi membatasi pada waktu-waktu tertentu. Prinsipnya bagaimana sekolah tetap aman dan nyaman bagi siswa,” katanya.

Sarjoko juga menyebut isu ergonomi, seperti beban tas sekolah, mulai menjadi perhatian dalam upaya menciptakan lingkungan belajar yang sehat dan nyaman.

“Ini menjadi terobosan baru bagaimana ada intervensi terkait ergonomi kaitannya dengan beban tas yang dibawa siswa,” ujarnya.

Simposium tersebut turut menghadirkan sejumlah pembicara dari Jepang dan Indonesia, di antaranya Presiden Direktur Tsuchiya Kaban Masanori Tsuchiya, General Manager Overseas Business Tsuchiya Kaban Takaaki Midorikawa, akademisi Telkom University Dr. Muchlis, serta panel diskusi bersama praktisi pendidikan dan kesehatan.

Melalui kegiatan ini, para peserta berharap tercipta kolaborasi jangka panjang antara pemerintah, industri, dan akademisi untuk membangun ekosistem pendidikan yang sehat, inovatif, dan berdaya saing global.

Redaksi: Moch Andrian Syah
Foto: Ahmad Fikri Zaki