
Usia senja tak selalu identik dengan tubuh yang lemah dan aktivitas yang terbatas. Mary Coroneos menjadi salah satu contohnya. Di usia 100 tahun, ia masih rutin datang ke pusat kebugaran dan melakukan latihan fisik untuk menjaga tubuhnya tetap kuat.
Mary bahkan masih melakukan latihan beban menggunakan dumbel dan resistance band. Aktivitas tersebut dilakukan bersama pelatih pribadi di sebuah pusat kebugaran di Norwalk, Connecticut, Amerika Serikat.
Latihan yang dijalaninya berfokus pada sejumlah bagian tubuh, terutama kaki, lengan, dan otot inti. Bagi Mary, olahraga bukan sekadar rutinitas kesehatan, tetapi juga tantangan yang membuatnya tetap bersemangat.
Menariknya, ketika kisahnya diberitakan, Mary berusia 100 tahun. Ia kemudian genap berusia 101 tahun pada Juni 2026.
Tetap Latihan Meski Sudah Seabad
Program olahraga Mary tidak dibuat dengan beban ekstrem. Ia melakukan sejumlah latihan sederhana seperti resistance band, leg extension, gerakan duduk lalu berdiri, serta latihan kaki dengan beban ringan.
Putrinya, Athena Coroneos, mengatakan latihan tersebut penting untuk mempertahankan kekuatan otot kaki dan bagian tengah tubuh.
Menurut Athena, kekuatan pada kedua bagian tersebut membantu ibunya tetap mampu bangun, bergerak, dan menjalankan aktivitas sehari-hari. Kekuatan otot juga penting untuk membantu menekan risiko jatuh yang lebih tinggi pada kelompok usia lanjut.
Kebiasaan aktif sebenarnya bukan sesuatu yang baru bagi Mary. Sejak muda, ia sudah terbiasa melakukan aktivitas fisik. Saat kuliah, ia pernah bermain bola voli dan basket.
Bagi Mary, tubuh harus terus digunakan agar tetap berfungsi dengan baik.
Bukan Cuma Olahraga, Ini Kebiasaan Mary
Aktif bergerak memang menjadi salah satu bagian dari gaya hidup Mary. Namun, ia juga menjalankan sejumlah kebiasaan lain yang menurut keluarganya turut mendukung kehidupannya yang panjang dan tetap aktif.
1. Banyak Bergerak
Mary telah terbiasa menjalani kehidupan yang aktif sejak masih muda. Kebiasaan tersebut terus dipertahankan hingga memasuki usia lanjut.
Selain berolahraga, ia juga tetap melakukan berbagai aktivitas secara mandiri. Ia bahkan masih bekerja sebagai guru pengganti hingga usia 90-an dan baru berhenti mengemudi ketika berusia sekitar 95 tahun.
2. Memperhatikan Asupan Makanan
Pola makan juga menjadi perhatian dalam keluarga Mary. Ia terbiasa mengonsumsi banyak sayuran dengan porsi daging yang relatif sedikit.
Makanan cepat saji bukan bagian dari kebiasaannya. Mary juga dikenal tidak berlebihan ketika makan dan cenderung berhenti ketika sudah merasa kenyang.
Saat berusia 100 tahun, sup menjadi salah satu makanan yang disukainya karena mudah dikonsumsi sekaligus membantu memenuhi kebutuhan cairan tubuh.
3. Tetap Menikmati Makanan Favorit
Menjaga kesehatan bukan berarti Mary sepenuhnya menghindari makanan yang disukai.
Ia masih menikmati makanan penutup seperti tiramisu, es krim, serta berbagai makanan bercita rasa manis. Sup krim kentang, sup krim jamur, dan sup kerang juga termasuk makanan yang menjadi favoritnya.
Kuncinya bukan sekadar melarang diri dari makanan tertentu, melainkan tetap memperhatikan pola makan secara keseluruhan.
4. Terus Mengasah Pikiran
Mary tidak hanya menjaga tubuhnya tetap aktif. Ia juga berusaha mempertahankan aktivitas mental.
Membaca menjadi salah satu kegemarannya. Ia bahkan memanfaatkan ponsel milik putrinya untuk mencari berita dan berbagai informasi.
Putrinya menggambarkan Mary sebagai sosok yang memiliki rasa ingin tahu tinggi. Menurutnya, pikiran sang ibu seolah tidak pernah berhenti bekerja.
5. Tidak Menjauh dari Orang Lain
Selain olahraga, makanan, dan aktivitas mental, hubungan sosial juga dianggap penting oleh Mary dan keluarganya.
Mary menikmati kebersamaan dengan orang-orang di sekitarnya, termasuk orang-orang yang lebih muda. Menurut Athena, interaksi sosial dapat memberikan energi dan membantu seseorang tetap memiliki tujuan dalam menjalani kehidupan.
Isolasi sosial dan rasa kesepian justru dapat menjadi tantangan tersendiri bagi orang lanjut usia.
Usia Boleh Bertambah, Aktivitas Jangan Berhenti
Kisah Mary menunjukkan bahwa menjaga kebugaran di usia lanjut bukan hanya soal melakukan olahraga berat. Kebiasaan bergerak secara konsisten, menjaga pola makan, tetap belajar, serta mempertahankan hubungan dengan orang lain juga dapat menjadi bagian dari gaya hidup sehat.
Meski demikian, kondisi setiap lansia berbeda. Jenis dan intensitas olahraga sebaiknya disesuaikan dengan kemampuan tubuh dan kondisi kesehatan masing-masing, terutama bagi mereka yang baru ingin mulai berolahraga.
Yang terpenting, bertambahnya usia tidak harus menjadi alasan untuk berhenti aktif. Selama dilakukan secara aman dan sesuai kemampuan, aktivitas fisik dapat membantu lansia mempertahankan kekuatan serta kemandirian dalam menjalani keseharian.







