BRTV

Bukan Sekadar Faktor Usia, Lansia 100 Tahun Ternyata Punya Pertahanan Imun yang Tak Biasa

Ilustrasi lansia. Foto: Pinterest

Selama ini, bertambahnya usia kerap dikaitkan dengan menurunnya kemampuan sistem kekebalan tubuh. Namun, penelitian terbaru menunjukkan gambaran yang lebih menarik. Orang yang mampu mencapai usia 100 tahun bahkan lebih ternyata memiliki karakteristik sistem imun yang berbeda dari kelompok usia lanjut pada umumnya.

Peneliti menemukan peningkatan jumlah salah satu jenis sel imun yang dikenal sebagai CD4 cytotoxic T lymphocytes (CD4 CTL) pada kelompok lansia dengan usia ekstrem. Sel tersebut merupakan bagian dari sistem pertahanan tubuh yang memiliki kemampuan untuk mengenali sekaligus menyerang sel abnormal, termasuk sel yang berpotensi berkembang menjadi kanker.

Temuan ini berasal dari penelitian yang melibatkan 28 orang dewasa yang dikelompokkan berdasarkan usia, mulai dari 70–99 tahun, 100–109 tahun, hingga mereka yang berusia 110 tahun atau lebih.

Hasil penelitian memperlihatkan adanya perbedaan mencolok pada jumlah CD4 CTL. Pada kelompok usia 70–99 tahun, sel tersebut rata-rata hanya menyusun sekitar 4 persen dari populasi sel yang diamati. Jumlahnya kemudian meningkat menjadi sekitar 9,6 persen pada kelompok berusia 100–109 tahun.

Pada orang yang telah mencapai usia 110 tahun atau lebih, proporsinya bahkan mencapai sekitar 17,6 persen.

Para peneliti juga menemukan adanya proses penggandaan sel imun secara besar-besaran atau clonal expansion. Artinya, ketika tubuh menghadapi ancaman tertentu, sejumlah sel imun dapat memperbanyak diri dan menjadi lebih dominan.

Dalam salah satu sampel dari individu berusia lebih dari 100 tahun, satu kelompok klon CD4 CTL bahkan menyumbang lebih dari separuh populasi sel CD4 CTL yang ditemukan dalam darahnya.

Berpotensi Menjadi Pertahanan terhadap Kanker

Yang membuat temuan tersebut semakin menarik adalah karakteristik genetik dari sel-sel imun tersebut. Ketika dibandingkan dengan data medis yang tersedia, profil sel tersebut memiliki kemiripan dengan sel imun yang biasanya berperan dalam menghadapi berbagai penyakit kronis, termasuk sejumlah jenis kanker.

Menariknya, para lansia dengan usia ekstrem yang diteliti tidak memiliki diagnosis kanker yang menjadi perhatian dalam analisis tersebut.

Kondisi ini memunculkan dugaan bahwa sistem imun mereka mungkin mampu mengenali dan menyingkirkan sel-sel abnormal sejak lebih awal, sebelum berkembang menjadi penyakit yang lebih serius.

Peneliti dari Osaka University, Kosuke Hashimoto, menilai penuaan sistem imun tidak selalu berarti penurunan kemampuan secara sederhana. Sistem kekebalan ternyata dapat beradaptasi terhadap perubahan yang terjadi di dalam tubuh seiring bertambahnya usia.

Seiring proses penuaan, tubuh memang menghadapi peningkatan jumlah sel yang mengalami kerusakan atau perubahan. Karena itu, kemampuan sistem imun untuk beradaptasi dan mempertahankan fungsi pertahanan menjadi salah satu hal yang menarik untuk dipelajari.

Meski demikian, temuan ini belum berarti bahwa CD4 CTL merupakan satu-satunya alasan seseorang dapat hidup hingga usia 100 atau 110 tahun. Penelitian tersebut memberikan petunjuk mengenai hubungan antara sistem imun dan umur panjang, tetapi masih diperlukan penelitian lebih lanjut untuk memahami mekanisme serta faktor lain yang ikut berperan.

Dengan kata lain, usia yang semakin tua tidak selalu identik dengan sistem imun yang semakin tidak berdaya. Pada sebagian orang yang mencapai usia sangat panjang, tubuh justru tampaknya memiliki bentuk adaptasi kekebalan yang unik.