Skip to main content

BRTV

Mengapa Kabut Asap Karhutla Bisa Ganggu Penerbangan? Ini Penjelasan BMKG

Ilustrasi kabut asap yang mengganggu jarak pandang. Foto: Pinterest

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak hanya menimbulkan persoalan lingkungan dan kesehatan. Asap yang dihasilkan juga dapat mengganggu aktivitas penerbangan, terutama ketika konsentrasinya cukup tebal hingga menurunkan jarak pandang di sekitar bandara.

Kondisi tersebut menjadi perhatian pada periode puncak musim kemarau. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan puncak musim kemarau 2026 berlangsung pada Juli hingga September. Pada kondisi kering, potensi terjadinya kebakaran hutan dan lahan dapat meningkat.

El Nino Bukan Penyebab Langsung Karhutla

BMKG menjelaskan bahwa El Nino bukan penyebab langsung terjadinya kebakaran hutan dan lahan. Fenomena iklim tersebut dapat memengaruhi pola curah hujan di Indonesia.

Ketika El Nino berlangsung dengan intensitas kuat, sejumlah wilayah dapat mengalami penurunan curah hujan. Kondisi yang lebih kering kemudian dapat meningkatkan risiko kekeringan dan membuat vegetasi lebih mudah terbakar.

Situasi kering juga dapat diperkuat oleh kondisi IOD positif. Kombinasi faktor tersebut berpotensi membuat sebagian wilayah Indonesia mengalami periode yang lebih kering.

Asap Kebakaran Dapat Terbawa Angin

Saat kebakaran terjadi, asap dan berbagai partikel hasil pembakaran dapat menyebar mengikuti arah angin. Jika asap bergerak menuju wilayah bandara, konsentrasinya dapat mengurangi jarak pandang atau visibility.

Dalam dunia penerbangan, jarak pandang merupakan salah satu informasi meteorologi yang sangat penting. Kondisi atmosfer di sekitar bandara harus memenuhi persyaratan tertentu agar pesawat dapat melakukan proses lepas landas maupun pendaratan dengan aman.

Semakin pekat asap yang berada di sekitar bandara, semakin terbatas pula jarak pandang yang tersedia. Apabila jarak pandang berada di bawah batas operasional yang ditetapkan, penerbangan dapat mengalami penyesuaian.

Penerbangan Bisa Ditunda atau Dialihkan

Jarak pandang yang tidak memenuhi ketentuan keselamatan dapat membuat jadwal penerbangan harus diubah. Bentuk penyesuaiannya dapat berupa penundaan keberangkatan, pengalihan penerbangan ke bandara lain, hingga pembatasan operasi. Keputusan tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan keselamatan penerbangan. Karena itu, gangguan jadwal akibat kabut asap bukan semata-mata persoalan teknis, tetapi berkaitan langsung dengan kondisi keselamatan operasional pesawat.