
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Timur tidak hanya mengancam kawasan hutan, tetapi juga kehidupan satwa liar. Sebanyak 11 orang utan harus dievakuasi dari kawasan sekolah hutan, sementara seekor tenggiling ditemukan mengalami luka serius akibat kebakaran.
Sebelas orang utan tersebut berasal dari sekolah hutan Jejak Pulang yang berada di kawasan KHDTK Samboja, Kabupaten Kutai Kartanegara. Untuk sementara, seluruh satwa ditempatkan di kandang evakuasi karena kondisi di habitat asalnya belum sepenuhnya dinyatakan aman.
Head of Orangutan Care Jejak Pulang, Siti Nur Badriyah, mengatakan kondisi kesehatan seluruh orang utan sejauh ini masih baik. Namun, perubahan lingkungan membuat aktivitas mereka menjadi jauh lebih terbatas.
Di habitat hutan, orang utan dapat bergerak bebas, mencari makanan, serta memperoleh berbagai stimulasi alami. Sementara di kandang evakuasi, ruang gerak dan aktivitas mereka tidak dapat disamakan dengan kondisi di alam.
Setelah sekitar dua hari berada di tempat evakuasi, sejumlah orang utan mulai menunjukkan tanda-tanda kebosanan. Tim perawat tetap memberikan stimulasi dan menjaga kondisi mereka, tetapi lingkungan buatan tersebut belum dapat menggantikan sepenuhnya kehidupan di hutan.
Para orang utan juga belum dapat dikembalikan ke sekolah hutan. Tim masih menunggu sampai ancaman kebakaran benar-benar terkendali dan kawasan tersebut dinilai aman bagi satwa.
Tenggiling Ditemukan di Tengah Lokasi Kebakaran
Dampak karhutla juga dialami seekor tenggiling di Kampung Merasa, Kabupaten Berau.
Satwa tersebut ditemukan ketika tim sedang melakukan pemadaman kebakaran pada Rabu malam (2/9/2026). Saat itu, terdapat sekitar delapan titik api di wilayah Kampung Merasa.
Tenggiling tersebut ditemukan bersembunyi di dalam batang kayu yang terbakar. Tim pemadam kemudian mengevakuasinya setelah mengetahui kondisi tubuhnya mengalami cedera berat.
Dua kaki belakang tenggiling mengalami luka parah hingga bagian tulangnya terlihat. Bagian ekornya juga mengalami luka bakar.
Saat ditemukan, kondisi satwa tersebut membutuhkan penanganan intensif. Tim kemudian memberikan perawatan untuk membantu menyelamatkan nyawanya.
Karhutla Mengancam Habitat Satwa Liar
Peristiwa ini menunjukkan bahwa kebakaran hutan tidak hanya menyebabkan kerusakan vegetasi, tetapi juga memberikan tekanan langsung terhadap satwa yang bergantung pada kawasan hutan sebagai tempat tinggal dan sumber makanan.
Bagi orang utan, perpindahan sementara ke kandang evakuasi berarti hilangnya ruang jelajah dan berbagai aktivitas alami yang biasa mereka lakukan. Sementara bagi satwa yang tidak sempat menghindar dari kobaran api, seperti tenggiling yang ditemukan di Berau, kebakaran dapat menyebabkan luka bahkan mengancam keselamatan mereka.
Upaya penyelamatan dan evakuasi menjadi penting selama kondisi hutan masih belum aman. Satwa yang terdampak membutuhkan penanganan khusus agar dapat bertahan hingga habitatnya kembali memungkinkan untuk dihuni.
Kasus di Kalimantan Timur ini sekaligus menjadi pengingat bahwa penanganan karhutla perlu memperhatikan dampaknya terhadap ekosistem secara keseluruhan. Perlindungan terhadap satwa liar harus berjalan bersamaan dengan upaya pemadaman dan pencegahan meluasnya kebakaran.







