Skip to main content

BRTV

8 Ton Garam Disemai di Langit Jambi, Mengapa Hujan Belum Juga Turun?

Ilustrasi kabut asap. Foto: Pinterest

Upaya mengatasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Jambi dilakukan dengan berbagai cara, termasuk melalui operasi modifikasi cuaca (OMC). Hingga awal September 2026, sebanyak 8 ton garam telah disemai dari udara. Namun, hujan yang diharapkan belum kunjung turun.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat OMC di Jambi telah dilakukan dalam delapan kali penerbangan atau sortie. Operasi tersebut berlangsung selama periode 26 Agustus hingga 2 September 2026 dengan total waktu penerbangan mencapai 15 jam 32 menit.

Dalam operasi itu, petugas menyebarkan sekitar 8.000 kilogram natrium klorida (NaCl) atau garam dari udara. Penyemaian dilakukan sebagai salah satu upaya untuk membantu memicu turunnya hujan di wilayah yang terdampak karhutla.

Mengapa Garam Belum Menghasilkan Hujan?

Tidak adanya hujan bukan berarti penyemaian garam gagal sepenuhnya. Efektivitas OMC sangat bergantung pada kondisi atmosfer, terutama keberadaan awan yang memenuhi syarat untuk disemai.

Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, menjelaskan bahwa keterbatasan awan potensial menjadi salah satu kendala utama pelaksanaan OMC di Jambi.

Berdasarkan pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), pertumbuhan awan yang dibutuhkan untuk mendukung operasi tersebut masih terbatas. Kondisi ini diperkirakan berlanjut hingga 10 September 2026.

Dengan kondisi seperti itu, penyemaian garam tidak serta-merta dapat menciptakan hujan. Teknologi modifikasi cuaca bekerja dengan memanfaatkan awan yang sudah tersedia, bukan menghasilkan awan dari kondisi langit yang benar-benar cerah.

OMC Tetap Dilakukan untuk Bantu Penanganan Karhutla

Operasi modifikasi cuaca menjadi salah satu strategi pemerintah dalam menangani karhutla, terutama di wilayah yang sulit dijangkau melalui jalur darat.

Selain OMC, penanganan kebakaran di Jambi juga dilakukan melalui operasi darat dan udara. Tim di lapangan terus berupaya mengendalikan titik api agar tidak meluas.

Kondisi cuaca menjadi faktor penting dalam penanganan kebakaran. Ketika hujan belum turun dan kondisi lahan tetap kering, risiko kebakaran masih dapat meningkat.

Karena itu, keberadaan awan yang potensial menjadi sangat penting. Jika kondisi atmosfer mendukung, penyemaian bahan seperti garam dapat dilakukan untuk membantu proses pembentukan atau peningkatan curah hujan.

Bukan Sekadar Menaburkan Garam ke Udara

OMC kerap dipahami secara sederhana sebagai kegiatan menaburkan garam dari pesawat agar hujan turun. Padahal, prosesnya bergantung pada sejumlah kondisi meteorologis.

Garam yang disemai berfungsi sebagai bahan untuk membantu proses di dalam awan. Jika tidak terdapat awan yang sesuai, penyemaian tidak akan memberikan hasil seperti yang diharapkan.

Karena itu, meskipun sudah ada 8 ton garam yang disebarkan selama beberapa kali penerbangan, keberhasilan operasi tetap bergantung pada kondisi atmosfer saat penyemaian dilakukan.

Keterbatasan awan potensial inilah yang membuat hujan belum turun meski OMC telah dilakukan berulang kali.

Penanganan Karhutla Masih Berlanjut

Dengan kondisi cuaca yang belum mendukung, penanganan karhutla di Jambi masih mengandalkan kombinasi berbagai metode. OMC akan terus bergantung pada perkembangan kondisi cuaca dan keberadaan awan yang memungkinkan untuk disemai.

Sementara itu, operasi pemadaman melalui jalur darat dan udara tetap dilakukan untuk mengendalikan kebakaran.

Dengan demikian, 8 ton garam yang telah disemai bukan berarti otomatis dapat menghasilkan hujan. Faktor utama yang menentukan efektivitas OMC adalah tersedianya awan potensial serta kondisi atmosfer yang sesuai.

Upaya mendatangkan hujan melalui modifikasi cuaca pada akhirnya tetap bergantung pada alam. Teknologi tersebut dapat membantu ketika kondisi meteorologis mendukung, tetapi tidak dapat menjamin hujan turun setiap kali penyemaian dilakukan.