Skip to main content

BRTV

Keseringan Begadang Bisa Ganggu Proses Pembersihan Otak, Ini Penjelasannya

Ilustrasi sering begadang. Foto: Pinterest

Begadang kerap menjadi kebiasaan ketika seseorang harus menyelesaikan pekerjaan, mengerjakan tugas, atau menghabiskan waktu dengan hiburan. Sebagian orang bahkan merasa tubuhnya sudah terbiasa tidur hanya empat hingga lima jam setiap malam.

Namun, kebiasaan kurang tidur yang berlangsung dalam jangka panjang dapat berdampak pada kesehatan. Tidur bukan sekadar waktu untuk mengistirahatkan tubuh, tetapi juga berperan penting dalam menjaga fungsi otak dan mendukung proses pemulihan tubuh.

Dokter spesialis saraf dari Brain Wellness & Sleep Center Seraphim Medical Center, dr Oktaviana Niken P, SpN, menjelaskan bahwa tidur malam memiliki peran penting dalam mekanisme pembersihan alami otak.

Menurutnya, gangguan tidur yang terjadi sesekali umumnya tidak perlu langsung dikhawatirkan. Namun, jika berlangsung terus-menerus dalam jangka panjang, dampaknya dapat memengaruhi kesehatan.

Kondisi ini juga menjadi pengingat bahwa merasa terbiasa begadang tidak selalu berarti tubuh telah beradaptasi dengan baik terhadap kekurangan tidur.

Tidur Malam Berperan dalam Pemulihan Otak

Ketika seseorang tidur, tubuh menjalankan berbagai proses pemulihan, termasuk mekanisme yang membantu membersihkan sisa metabolisme di otak.

Proses tersebut berkaitan dengan pergerakan cairan di sekitar otak yang membantu mengangkut zat sisa dari aktivitas sel. Mekanisme ini merupakan bagian dari sistem pemeliharaan otak yang berlangsung selama tidur.

Jika waktu tidur terus-menerus berkurang atau kualitas tidur terganggu, proses pemulihan tersebut dapat ikut terpengaruh.

Dr Niken menjelaskan bahwa gangguan tidur satu atau dua kali tidak serta-merta menimbulkan masalah jangka panjang. Namun, kebiasaan begadang yang terus berulang perlu diperhatikan karena tubuh tetap membutuhkan tidur yang cukup.

Dengan demikian, tidur sebaiknya tidak dianggap sebagai waktu yang bisa terus dikurangi demi menyelesaikan aktivitas lain.

Merasa Terbiasa Begadang Bukan Berarti Tubuh Sudah Beradaptasi

Sebagian orang merasa tetap mampu menjalani aktivitas meskipun hanya tidur beberapa jam setiap malam. Mereka mungkin tidak lagi terlalu mengantuk atau menganggap pola tersebut sebagai rutinitas biasa.

Namun, rasa terbiasa itu tidak selalu menunjukkan bahwa kebutuhan tubuh telah terpenuhi.

Kurang tidur dapat memengaruhi konsentrasi, kewaspadaan, kemampuan mengambil keputusan, dan pengaturan emosi. Akibatnya, seseorang mungkin lebih sulit mempertahankan fokus ketika belajar, bekerja, atau melakukan kegiatan yang membutuhkan perhatian.

Dampaknya juga tidak selalu langsung terasa. Seseorang bisa saja tetap menjalankan aktivitas sehari-hari, tetapi mengalami penurunan performa atau lebih mudah melakukan kesalahan.

Karena itu, penting untuk membedakan antara terbiasa menjalani pola tidur tertentu dan benar-benar memperoleh waktu tidur yang cukup.

Begadang Berkepanjangan Bisa Berdampak pada Kesehatan

Selain berpengaruh terhadap fungsi otak, kurang tidur dalam jangka panjang juga berkaitan dengan berbagai masalah kesehatan.

Dr Niken menjelaskan bahwa kebiasaan tidur yang tidak memadai dapat memengaruhi suasana hati dan emosi. Kondisi tersebut juga dapat berkontribusi terhadap gangguan metabolisme, tekanan darah tinggi, serta peningkatan berat badan.

Kurang tidur dapat memengaruhi pengaturan hormon dan proses metabolisme yang berperan dalam keseimbangan tubuh. Jika berlangsung terus-menerus, dampaknya berpotensi meningkatkan risiko sejumlah penyakit kronis.

Meski demikian, risiko kesehatan tidak ditentukan oleh kebiasaan begadang saja. Pola makan, aktivitas fisik, kondisi kesehatan, dan faktor lainnya juga dapat berperan.

Hal yang perlu diperhatikan adalah menghindari kebiasaan menjadikan tidur sebagai aktivitas yang selalu dikorbankan ketika jadwal harian terasa padat.

Cara Menjaga Pola Tidur agar Lebih Teratur

Menjaga pola tidur dapat dimulai dengan membangun rutinitas yang konsisten. Waktu tidur dan bangun sebaiknya diatur agar kebutuhan istirahat dapat terpenuhi setiap hari.

Beberapa kebiasaan yang dapat membantu antara lain mengurangi konsumsi minuman berkafein menjelang waktu tidur, membatasi penggunaan gawai sebelum beristirahat, serta menciptakan suasana kamar yang nyaman dan tenang.

Selain itu, pekerjaan atau tugas sebaiknya direncanakan agar tidak terus-menerus mengambil waktu tidur. Jika sesekali tidur terlambat, usahakan kembali ke jadwal tidur yang teratur pada hari berikutnya.

Tidur tambahan pada hari libur mungkin membantu mengurangi rasa kantuk, tetapi tidak sepenuhnya menggantikan manfaat pola tidur yang cukup dan konsisten.

Pada akhirnya, tidur merupakan bagian penting dari upaya menjaga kesehatan otak dan tubuh. Mengurangi kebiasaan begadang dan memberikan waktu istirahat yang memadai dapat membantu mempertahankan konsentrasi, kestabilan suasana hati, serta kesehatan dalam jangka panjang.