
Jakarta – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak hanya menimbulkan kerusakan lingkungan, tetapi juga membawa dampak terhadap kesehatan masyarakat. Salah satu kelompok yang paling rentan terkena dampaknya adalah bayi dan anak di bawah lima tahun (balita).
Asap yang muncul akibat kebakaran hutan mengandung partikel halus yang dapat masuk ke saluran pernapasan. Jika terhirup secara terus-menerus, paparan tersebut berisiko menyebabkan berbagai gangguan kesehatan, terutama pada anak-anak yang sistem pernapasannya masih berkembang.
Penggunaan masker sering dianggap sebagai salah satu cara untuk melindungi diri dari paparan asap. Namun, cara ini tidak selalu mudah diterapkan pada balita. Sebagian anak merasa tidak nyaman ketika memakai masker sehingga cenderung melepasnya.
Kondisi tersebut membuat orang tua perlu mengetahui langkah perlindungan lain agar anak tetap aman ketika kualitas udara memburuk akibat karhutla.
Mengapa Balita Sulit Menggunakan Masker?
Balita, terutama yang masih berusia sekitar dua tahun, umumnya belum terbiasa menggunakan masker dalam waktu lama. Mereka juga belum sepenuhnya memahami pentingnya memakai alat pelindung tersebut.
Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Respirologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr. Khairiyadi Ismail, SpA, Subsp Respi(K), menjelaskan bahwa anak usia dini memiliki keterbatasan dalam menggunakan masker secara konsisten.
Karena itu, masker tidak bisa dijadikan satu-satunya perlindungan untuk mencegah balita terpapar asap kebakaran hutan.
Mengungsi ke Tempat yang Lebih Aman
Salah satu langkah yang dapat dilakukan untuk melindungi balita adalah mengurangi paparan asap secara langsung. Ketika kondisi udara semakin buruk, orang tua dapat mempertimbangkan untuk membawa anak ke tempat yang kualitas udaranya lebih baik.
Keberadaan rumah aman atau safe house juga menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan. Tempat tersebut idealnya memiliki sistem penyaring udara yang memadai untuk membantu mengurangi partikel asap di dalam ruangan.
Langkah ini penting, terutama bagi masyarakat yang tinggal di wilayah terdampak karhutla dan harus menghadapi kabut asap dalam waktu cukup lama.
Anak dengan Penyakit Penyerta Lebih Rentan
Balita yang memiliki penyakit penyerta, seperti asma, membutuhkan perhatian lebih ketika terjadi kebakaran hutan dan lahan.
Paparan asap dapat memperburuk gangguan pada saluran pernapasan. Selain itu, kondisi udara yang tercemar juga dapat meningkatkan risiko munculnya masalah kesehatan, termasuk infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).
Orang tua sebaiknya memperhatikan kondisi anak selama kabut asap berlangsung. Jika anak mengalami batuk berkepanjangan, sesak napas, atau keluhan pernapasan lainnya, segera cari pertolongan medis.
Pentingnya Menjaga Kualitas Udara di Sekitar Anak
Selain menjauhkan anak dari sumber asap, menjaga kualitas udara di lingkungan tempat tinggal juga menjadi langkah penting.
Orang tua dapat membatasi aktivitas balita di luar ruangan ketika kualitas udara sedang buruk. Pastikan pula ruangan tempat anak beraktivitas memiliki sirkulasi dan penyaringan udara yang sesuai.
Melindungi balita dari asap karhutla membutuhkan perhatian lebih dari orang tua. Mengingat penggunaan masker belum tentu dapat dilakukan secara konsisten oleh anak usia dini, mengurangi paparan asap dan menyediakan tempat yang lebih aman menjadi langkah perlindungan yang perlu diprioritaskan.
Informasi menarik lainnya seputar kesehatan, lingkungan, dan kehidupan sehari-hari dapat dibaca melalui brtv.co.id.







