
Abu vulkanik yang muncul setelah erupsi gunung api tidak hanya berpotensi mengganggu pernapasan dan penglihatan. Partikel abu yang menempel pada tubuh juga dapat menimbulkan masalah pada kulit, mulai dari rasa gatal hingga kemerahan dan iritasi.
Sejumlah penelitian menunjukkan adanya hubungan antara paparan abu vulkanik dengan gangguan pada kulit. Salah satu penelitian terhadap masyarakat yang terdampak erupsi Gunung Eyjafjallajökull di Islandia menemukan adanya kaitan antara paparan abu dan iritasi kulit. Peneliti menjelaskan bahwa abu vulkanik segar dapat memiliki lapisan yang bersifat asam sekaligus mempunyai karakter abrasif, sehingga berpotensi mengganggu permukaan kulit.
Kondisi tersebut dapat menyebabkan kulit terasa tidak nyaman, kemerahan, atau gatal. Risiko iritasi dapat semakin besar ketika seseorang terpapar abu dalam jumlah tinggi atau dalam waktu yang cukup lama.
Mengapa abu vulkanik bisa membuat kulit gatal?
Abu vulkanik terdiri atas partikel-partikel sangat kecil yang berasal dari material hasil erupsi. Ketika partikel tersebut jatuh dan menempel pada permukaan kulit, teksturnya yang abrasif dapat menimbulkan gesekan serta iritasi.
Selain faktor fisik, komposisi kimia abu juga berpengaruh. Abu vulkanik yang baru dikeluarkan dapat memiliki lapisan garam dan senyawa asam yang terbentuk dari gas vulkanik. Dalam kondisi tertentu, sifat asam tersebut dapat meningkatkan iritasi ketika abu bersentuhan langsung dengan kulit.
Bukan hanya kulit, abu vulkanik juga diketahui dapat mengganggu mata dan saluran pernapasan. Karena itu, paparan abu sebaiknya tidak dianggap sebagai persoalan ringan, terutama ketika konsentrasinya tinggi.
Risiko lebih besar pada kulit sensitif
Orang yang sudah memiliki gangguan kulit tertentu dapat mengalami gejala yang lebih berat ketika terpapar abu vulkanik.
Penelitian terhadap pasien dermatitis atopik yang terpapar abu erupsi Gunung Etna menemukan bahwa sebagian peserta mengalami perburukan gejala kulit. Dalam penelitian tersebut, 26,9 persen pasien melaporkan memburuknya gejala kulit setelah terpapar abu, termasuk gatal, kemerahan, dan keluarnya cairan dari lesi kulit.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa abu vulkanik dapat menjadi salah satu faktor lingkungan yang memperburuk kondisi kulit yang sebelumnya sudah mengalami peradangan.
Namun, dampak abu tidak selalu sama pada setiap orang. Jenis material vulkanik, kandungan kimianya, ukuran partikel, konsentrasi abu di udara, serta lama paparan dapat memengaruhi tingkat gangguan kesehatan yang muncul.
Apa yang harus dilakukan jika kulit terkena abu?
Jika tubuh terkena abu vulkanik, langkah utama adalah segera membersihkan kulit dengan air. Hindari menggosok kulit terlalu keras karena partikel abu yang bersifat abrasif justru dapat memperparah iritasi.
Pembersihan juga penting untuk mencegah abu bertahan lebih lama di permukaan kulit. Jika muncul iritasi yang menetap atau semakin parah, sebaiknya dilakukan pemeriksaan oleh tenaga medis.
Masyarakat yang berada di wilayah terdampak hujan abu juga sebaiknya mengurangi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan perlindungan yang sesuai. Langkah tersebut tidak hanya membantu mengurangi paparan pada kulit, tetapi juga melindungi mata dan saluran pernapasan.
Dengan demikian, rasa gatal atau kemerahan setelah terkena abu vulkanik bukan sekadar reaksi biasa. Secara ilmiah, partikel abu memang dapat memberikan efek iritatif pada kulit, terutama jika paparan terjadi dalam jumlah besar atau berlangsung berulang.







