Skip to main content

BRTV

Buang-Buang Makanan Ternyata Bikin Bumi Makin Panas, Ini Alasannya

BRTV.co.id — Kebiasaan membuang makanan yang masih layak dikonsumsi ternyata bukan hanya persoalan pemborosan. Di balik makanan yang berakhir di tempat sampah, terdapat dampak lingkungan yang ikut memperburuk perubahan iklim.

Makanan yang terbuang berarti sumber daya yang digunakan untuk memproduksi, mengolah, mengemas, dan mengangkut makanan tersebut juga ikut terbuang. Mulai dari air, lahan, energi hingga bahan bakar telah digunakan sebelum makanan akhirnya tidak dikonsumsi.

Makanan terbuang, emisi ikut bertambah

Ketika makanan dibuang dan berakhir di tempat pembuangan akhir, bahan organik seperti nasi, sayuran, buah, daging, dan makanan lainnya akan mengalami proses penguraian.

Dalam kondisi minim oksigen, proses tersebut dapat menghasilkan gas metana. Gas metana merupakan salah satu gas rumah kaca yang memiliki kemampuan kuat dalam memerangkap panas di atmosfer.

Akibatnya, semakin banyak sampah makanan yang masuk ke tempat pembuangan akhir, semakin besar pula potensi emisi gas rumah kaca yang dihasilkan.

Bukan hanya sampahnya yang menjadi masalah

Dampak makanan terbuang sebenarnya sudah dimulai jauh sebelum makanan masuk ke tempat sampah.

Untuk menghasilkan satu porsi makanan, dibutuhkan berbagai sumber daya. Petani membutuhkan lahan dan air untuk menanam bahan pangan. Setelah panen, makanan dapat melalui proses pengolahan, penyimpanan, pengemasan dan distribusi sebelum sampai ke konsumen.

Jika makanan tersebut kemudian tidak dimakan, seluruh sumber daya dan energi yang digunakan dalam proses tersebut menjadi sia-sia.

Dengan kata lain, membuang makanan juga berarti membuang air, energi, lahan, tenaga, dan bahan bakar yang telah digunakan untuk menghasilkan makanan tersebut.

Sampah makanan menjadi persoalan global

Persoalan sampah makanan terjadi di berbagai negara dan pada berbagai tahap, mulai dari proses produksi hingga rumah tangga.

Makanan dapat terbuang karena hasil panen tidak terserap pasar, kerusakan selama distribusi, penyimpanan yang kurang baik, ukuran atau bentuk produk yang tidak sesuai standar, hingga kebiasaan konsumen membeli makanan secara berlebihan.

Di tingkat rumah tangga, makanan juga sering terbuang karena tidak segera dikonsumsi atau karena seseorang mengambil porsi lebih banyak daripada yang mampu dihabiskan.

Kebiasaan sederhana bisa membantu

Mengurangi sampah makanan tidak selalu membutuhkan perubahan besar. Masyarakat dapat memulainya dari kebiasaan sehari-hari.

Beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan antara lain:

  • Membeli bahan makanan sesuai kebutuhan.
  • Membuat daftar belanja sebelum pergi ke pasar atau supermarket.
  • Mengambil makanan secukupnya.
  • Menyimpan makanan dengan cara yang tepat agar tidak cepat rusak.
  • Mengolah kembali makanan yang masih aman dikonsumsi.
  • Memeriksa persediaan makanan sebelum membeli bahan baru.
  • Membagikan makanan berlebih yang masih layak dikonsumsi.

Langkah tersebut tidak hanya membantu menghemat pengeluaran, tetapi juga mengurangi jumlah sampah yang berakhir di tempat pembuangan.

Menghabiskan makanan adalah bagian dari menjaga lingkungan

Menjaga lingkungan ternyata tidak selalu harus dilakukan melalui aksi besar. Menghabiskan makanan yang sudah diambil dan membeli sesuai kebutuhan juga merupakan bentuk sederhana dalam mengurangi dampak terhadap lingkungan.

Setiap makanan yang berhasil dikonsumsi berarti sumber daya yang digunakan untuk menghasilkan makanan tersebut tidak berakhir sia-sia.

Karena itu, mulai sekarang kebiasaan mengambil makanan secukupnya dan mengurangi makanan yang terbuang dapat menjadi langkah kecil yang memberikan dampak lebih besar bagi lingkungan.

BRTV.co.id — Mengurangi sampah makanan bukan hanya soal menghemat uang dan menghargai makanan, tetapi juga menjadi salah satu cara sederhana untuk membantu mengurangi tekanan terhadap lingkungan dan perubahan iklim.