
Gunung Anak Krakatau kembali menunjukkan aktivitas erupsi pada Selasa (8/9/2026) pagi. Aktivitas tersebut terjadi setelah sebelumnya fase erupsi menerus gunung api tersebut dinyatakan berakhir.
Berdasarkan laporan pemantauan aktivitas vulkanik, erupsi kembali terekam pada Selasa pagi. Aktivitas letusan tersebut tercatat melalui seismograf, sementara kondisi visual gunung pada saat kejadian tidak sepenuhnya dapat diamati karena tertutup kabut dan awan.
Kembalinya aktivitas letusan menunjukkan bahwa Gunung Anak Krakatau masih berada dalam kondisi aktif. Sebelumnya, gunung yang berada di Selat Sunda tersebut juga mengalami episode erupsi cukup panjang yang berlangsung selama lebih dari satu hari.
Dalam pemantauan terbaru, setidaknya tiga kejadian erupsi tercatat sejak dini hari hingga pagi. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena potensi aktivitas vulkanik lanjutan masih ada.
Status masih Level III
Meskipun aktivitas erupsi sempat mengalami perubahan karakter, status Gunung Anak Krakatau tetap berada pada Level III atau Siaga. Masyarakat diminta mengikuti informasi resmi dari lembaga terkait dan tidak melakukan aktivitas di kawasan yang masuk radius berbahaya.
Potensi bahaya yang perlu diwaspadai antara lain lontaran material vulkanik dan hujan abu di sekitar gunung. Kondisi angin juga menjadi faktor penting karena dapat menentukan arah pergerakan abu setelah terjadi erupsi.
Sebelumnya, sebaran abu vulkanik Anak Krakatau sempat berdampak terhadap aktivitas penerbangan. Sejumlah bandara bahkan mengalami penutupan sementara akibat adanya potensi bahaya abu vulkanik bagi penerbangan.
Aktivitas masih perlu dipantau
Munculnya kembali erupsi pada Selasa pagi menunjukkan bahwa aktivitas Anak Krakatau belum sepenuhnya berhenti. Karena itu, pemantauan terhadap kegempaan, kondisi kawah, arah sebaran abu, serta perubahan aktivitas vulkanik terus dilakukan.
Masyarakat di sekitar Selat Sunda, khususnya wilayah Banten dan Lampung, diimbau tetap tenang dan mengandalkan informasi dari Badan Geologi, PVMBG, BMKG, BNPB, serta instansi resmi lainnya.
Warga juga disarankan tidak mendekati kawasan gunung dalam radius yang telah ditetapkan sebagai daerah berbahaya. Informasi mengenai aktivitas terbaru sebaiknya diperoleh dari kanal resmi untuk menghindari kepanikan maupun penyebaran kabar yang tidak terverifikasi.







