Skip to main content

BRTV

Indonesia Siapkan PLTN 7 GW, di Mana Pembangkit Nuklir Akan Dibangun?

Ilustrasi pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN). Foto: Pexels

Indonesia tengah bersiap memasuki babak baru dalam pengembangan energi. Pemerintah menargetkan pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) dengan total kapasitas mencapai 7 gigawatt (GW).

Rencana tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah memperkuat ketahanan energi sekaligus memenuhi kebutuhan listrik yang diperkirakan terus meningkat seiring pertumbuhan ekonomi dan industrialisasi.

Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi Hashim Djojohadikusumo menyebut target 7 GW tersebut telah masuk dalam rencana energi nasional. Pemerintah juga menyiapkan pembangunan PLTN secara bertahap, bukan langsung dalam satu proyek besar.

Namun, ada satu pertanyaan yang kemudian muncul: di mana PLTN tersebut akan dibangun?

Belum ada satu lokasi yang ditetapkan

Untuk saat ini, masyarakat belum bisa menunjuk satu wilayah sebagai lokasi pasti pembangunan PLTN pertama Indonesia.

Pemerintah masih melakukan berbagai kajian sebelum menetapkan tapak. Deputi Bidang Koordinasi Energi dan Sumber Daya Mineral Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Elen Setiadi mengatakan penetapan lokasi ditargetkan dilakukan pada 2026 atau paling lambat 2027.

Pemilihan lokasi tidak bisa dilakukan hanya berdasarkan ketersediaan lahan. Teknologi reaktor yang nantinya dipilih juga akan menjadi salah satu pertimbangan dalam menentukan tapak PLTN.

Dengan demikian, sejumlah wilayah yang selama ini disebut dalam pembahasan PLTN belum otomatis berarti telah diputuskan sebagai lokasi pembangunan.

Bangka Belitung masuk radar

Salah satu wilayah yang cukup sering muncul dalam rencana pengembangan PLTN adalah Bangka Belitung.

BAPETEN mencatat calon tapak di Bangka Belitung telah masuk dalam proses persiapan perizinan. Bahkan, PLN Nusantara Power sebelumnya menyebut target PLTN pertama diarahkan berlokasi di Bangka, Sumatera, dengan target operasi komersial pada 2032.

Namun, tahapan tersebut masih merupakan bagian dari proses panjang evaluasi tapak dan perizinan.

Bangka Belitung juga memiliki sejarah cukup panjang dalam pembahasan energi nuklir. Wilayah ini telah lama menjadi salah satu kandidat yang dikaji karena sejumlah faktor teknis dan potensi sumber daya yang dimilikinya.

Kalimantan Barat juga dipertimbangkan

Selain Bangka Belitung, Kalimantan Barat menjadi wilayah lain yang masuk dalam rencana pengembangan PLTN.

BAPETEN menyebut calon tapak di Kalimantan Barat juga tengah memasuki tahapan proses perizinan. Dalam dokumen RUPTL yang menjadi acuan pengembangan kelistrikan, PLN Indonesia Power sebelumnya menyebut dua proyek PLTN masing-masing berkapasitas 250 megawatt (MW) direncanakan berada di Kalimantan Barat dan Bangka Belitung.

Artinya, pembahasan mengenai PLTN di Indonesia saat ini tidak hanya terpusat pada satu pulau.

Kenapa lokasi PLTN harus dipilih sangat hati-hati?

Berbeda dengan pembangkit listrik biasa, pembangunan PLTN membutuhkan persyaratan tapak yang sangat ketat.

Kondisi geologi, risiko gempa, kepadatan penduduk, karakteristik lingkungan, ketersediaan air, jaringan listrik, hingga faktor keselamatan menjadi bagian dari evaluasi.

BAPETEN telah menyiapkan kerangka pengawasan yang mencakup evaluasi tapak, keselamatan desain reaktor, komisioning, kualifikasi operator, hingga tahapan ketika pembangkit nantinya berhenti beroperasi atau memasuki masa dekomisioning.

Karena itu, lokasi yang disebut sebagai kandidat belum tentu menjadi lokasi final. Setiap calon tapak harus melewati rangkaian evaluasi sebelum memperoleh persetujuan.

Mengapa Indonesia mulai serius mengembangkan nuklir?

Ada alasan besar di balik ambisi tersebut.

Kebutuhan listrik Indonesia diproyeksikan meningkat seiring pertumbuhan industri. Pada saat yang sama, pemerintah ingin mengurangi ketergantungan terhadap sumber energi fosil dan meningkatkan porsi energi rendah emisi.

PLTN dianggap dapat menyediakan listrik secara stabil karena dapat beroperasi sebagai pembangkit beban dasar atau baseload. Pemerintah juga melihat energi nuklir sebagai salah satu pilihan untuk mendukung target dekarbonisasi jangka panjang.

PLN sebelumnya juga mengungkapkan bahwa kebutuhan tambahan pembangkit dalam jumlah besar akan menjadi tantangan jika hanya mengandalkan pembangkit berbahan bakar gas. Kebutuhan LNG yang besar menjadi salah satu alasan PLN melihat nuklir sebagai alternatif dalam perencanaan energi jangka panjang.

Dari 250 MW menuju 7 GW

Target 7 GW tidak berarti seluruh kapasitas tersebut akan langsung dibangun sekaligus.

Roadmap PLN menunjukkan pengembangan pembangkit nuklir dilakukan secara bertahap. Kapasitas awal yang direncanakan jauh lebih kecil, sebelum kemudian meningkat mengikuti kesiapan teknologi, regulasi, pembiayaan, dan sistem ketenagalistrikan.

Dalam roadmap yang dipaparkan PLN pada 2026, kapasitas nuklir dalam Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional bahkan diproyeksikan dapat berkembang jauh lebih besar dalam jangka panjang, hingga puluhan gigawatt pada 2060.

Sementara target 7 GW menjadi salah satu sasaran pengembangan hingga sekitar 2040.

Kapan PLTN pertama Indonesia beroperasi?

Pemerintah mengarahkan pembangunan PLTN pertama dalam dekade mendatang. Sejumlah dokumen dan rencana pemerintah sebelumnya menempatkan target operasi awal sekitar 2032.

Namun, pembangunan pembangkit nuklir bukan proyek yang bisa diselesaikan dalam waktu singkat. Selain konstruksi, ada proses penentuan teknologi, evaluasi tapak, perizinan, pembiayaan, pembangunan kelembagaan, hingga persiapan sumber daya manusia.

PLN memperkirakan keseluruhan pengembangan infrastruktur tenaga nuklir dapat membutuhkan waktu sekitar 10 hingga 15 tahun. Dalam roadmap tersebut, salah satu target penting adalah kesiapan untuk mengundang penawaran atau melakukan negosiasi kontrak PLTN pertama pada 2027.

Jadi, ketika mendengar Indonesia akan membangun PLTN hingga 7 GW, bukan berarti sejumlah pembangkit nuklir tersebut sudah siap dibangun di lokasi yang telah ditentukan.

Untuk saat ini, Bangka Belitung dan Kalimantan Barat termasuk wilayah yang telah masuk dalam proses persiapan dan kajian tapak, sementara pemerintah masih menargetkan penetapan lokasi PLTN pertama pada 2026 atau 2027.

Jika seluruh tahapan berjalan sesuai rencana, pembangunan PLTN akan menjadi salah satu proyek energi terbesar sekaligus paling strategis dalam perjalanan sistem kelistrikan Indonesia.