Skip to main content

BRTV

Kabar Baik dari Way Kambas, Dua Badak Sumatra Bersiap Jadi Induk Lagi

Ilustrasi badak sumatra. Foto: Pinterest

Kabar menggembirakan datang dari Taman Nasional Way Kambas, Lampung. Dua badak Sumatra betina yang menghuni Suaka Rhino Sumatra (SRS), Ratu dan Delilah, kini tengah mengandung.

Keduanya dipantau secara intensif oleh tim konservasi untuk memastikan kondisi induk dan calon anak tetap sehat hingga proses kelahiran. Kehamilan tersebut menjadi kabar penting bagi upaya menjaga keberlangsungan salah satu satwa paling terancam di Indonesia.

Ratu diketahui sedang mengandung anak keempatnya dari pejantan Andalas. Pada 3 Oktober 2026, usia kebuntingannya telah mencapai 238 hari atau sekitar 7,9 bulan.

Sementara itu, Delilah tengah mengandung anak keduanya dari pejantan Harapan. Usia kebuntingannya tercatat 251 hari atau sekitar 8,3 bulan.

Kabar baik dari hutan Way Kambas

Kehamilan dua badak tersebut bukan sekadar penambahan dua calon individu baru. Bagi dunia konservasi, setiap kelahiran badak Sumatra memiliki arti besar karena spesies ini menghadapi ancaman kepunahan.

Direktur Konservasi Spesies dan Genetik Kementerian Kehutanan Ahmad Munawir menyebut kehamilan Ratu dan Delilah sebagai bagian dari upaya jangka panjang untuk mempertahankan populasi badak Sumatra.

Program tersebut dilakukan melalui pengembangbiakan yang terencana, pengelolaan kesehatan reproduksi, serta pemantauan kondisi setiap individu secara intensif.

Dengan usia kebuntingan keduanya yang sudah cukup lanjut, perhatian tim kini semakin tertuju pada kondisi induk hingga masa kelahiran nanti.

Delilah punya cerita istimewa

Bagi Delilah, kehamilan kali ini menjadi babak berikutnya dalam perjalanan yang cukup istimewa.

Delilah sendiri lahir di Suaka Rhino Sumatra pada 2016. Beberapa tahun kemudian, ia kembali mencatat sejarah ketika melahirkan anak pertamanya, Indra, pada November 2023.

Kelahiran tersebut menjadikan Delilah sebagai badak betina hasil kelahiran di SRS yang kemudian berhasil bereproduksi. Keberhasilan itu menjadi salah satu pencapaian penting dalam program pengembangbiakan badak Sumatra.

Kini, Delilah kembali menjalani masa kebuntingan. Jika kelak melahirkan dengan selamat, calon anak keduanya akan menjadi tambahan penting bagi populasi badak yang dikembangkan melalui program konservasi tersebut.

Ratu juga bukan pendatang baru dalam program konservasi

Sementara itu, Ratu telah lebih dulu menjadi bagian penting dari sejarah SRS Way Kambas.

Ia merupakan induk dari beberapa badak yang lahir melalui program pengembangbiakan di kawasan tersebut. Salah satunya adalah Andatu yang lahir pada 2012.

Secara keseluruhan, SRS Way Kambas telah mencatat lima kelahiran badak Sumatra melalui program pengembangbiakan alami, yakni Andatu pada 2012, Delilah pada 2016, Sedah Mirah pada 2022, serta Anggi dan Indra pada 2023.

Keberhasilan tersebut membuat SRS memiliki peran penting dalam upaya mempertahankan keberadaan badak Sumatra melalui pengembangbiakan terencana.

Hidup di kawasan yang dibuat senatural mungkin

Meski berada dalam fasilitas konservasi, badak-badak di SRS tidak terus-menerus berada dalam kandang.

Kawasan tersebut menerapkan sistem semi-in situ. Badak mendapatkan ruang hutan untuk menjalankan berbagai perilaku alaminya, mulai dari mencari makanan, menjelajah, berkubang, hingga beristirahat.

Interaksi manusia juga dibuat seminimal mungkin. Perawatan rutin dilakukan oleh keeper, dokter hewan, dan paramedis, sementara sebagian besar waktu badak dihabiskan di kawasan hutan yang telah disiapkan untuk mereka.

Pendekatan tersebut menjadi bagian dari strategi agar program pengembangbiakan tidak sekadar menghasilkan kelahiran, tetapi juga mempertahankan perilaku alami satwa.

Setiap kelahiran membawa harapan

Badak Sumatra bukan sekadar salah satu satwa khas Indonesia. Keberadaannya menjadi bagian penting dari keanekaragaman hayati dunia.

Karena jumlahnya di alam masih sangat terbatas, kelahiran setiap individu baru menjadi momentum yang ditunggu. International Rhino Foundation menyebut populasi badak Sumatra di alam diperkirakan tidak lebih dari 80 individu.

Itulah sebabnya kabar kehamilan Ratu dan Delilah terasa begitu istimewa.

Untuk sementara, perhatian para pegiat konservasi masih tertuju pada dua calon induk tersebut. Perjalanan menuju kelahiran masih membutuhkan pemantauan dan perawatan yang cermat.

Jika semuanya berjalan baik, Way Kambas akan kembali menyambut dua penghuni baru. Dua kelahiran yang bukan hanya menambah jumlah individu, tetapi juga membawa secercah harapan bagi masa depan badak Sumatra.