
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menjadi tantangan di sejumlah wilayah Indonesia. Meski upaya pemadaman terus dilakukan, api di beberapa kawasan belum sepenuhnya berhasil dikendalikan. Salah satu penyebabnya adalah karakteristik lahan gambut yang memungkinkan bara bertahan di bawah permukaan tanah.
Kondisi tersebut membuat penanganan karhutla tidak cukup hanya dengan memadamkan kobaran api yang terlihat. Petugas juga perlu memastikan tidak ada bara yang tersisa di lapisan tanah agar kebakaran tidak kembali muncul.
Berdasarkan laporan pemerintah pada 12 Oktober 2026, sekitar 639,23 hektare lahan di enam provinsi prioritas masih dalam proses pemadaman. Wilayah tersebut meliputi Kalimantan Tengah, Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan, Jambi, Kalimantan Barat, dan Riau.
Lantas, apa saja yang membuat karhutla sulit dipadamkan?
1. Api Bisa Menjalar di Bawah Permukaan Tanah
Salah satu tantangan utama dalam menangani kebakaran lahan gambut adalah api yang dapat merambat di bawah permukaan tanah.
Gambut terbentuk dari tumpukan sisa tumbuhan yang mengalami penguraian selama waktu yang panjang. Ketika kandungan airnya cukup tinggi, gambut relatif sulit terbakar. Namun, saat mengering, material organik tersebut dapat menjadi bahan bakar bagi api.
Kebakaran yang merambat di lapisan gambut tidak selalu terlihat seperti kobaran api di permukaan. Dalam kondisi tertentu, bara dapat bertahan di dalam tanah dan menghasilkan asap meskipun api yang terlihat sudah padam.
Karakteristik ini membuat petugas perlu melakukan pemeriksaan secara menyeluruh untuk memastikan sumber panas benar-benar telah hilang.
2. Kondisi Gambut yang Kering Memperbesar Risiko Kebakaran
Kandungan air menjadi faktor penting yang menentukan kerentanan lahan gambut terhadap kebakaran.
Ketika curah hujan rendah dan permukaan air tanah menurun, lapisan gambut dapat kehilangan kelembapannya. Kondisi tersebut membuat material organik lebih mudah terbakar ketika terkena sumber api.
Gambut yang mengalami kekeringan juga dapat lebih sulit dibasahi kembali. Akibatnya, proses pemadaman membutuhkan upaya tambahan untuk mengembalikan kelembapan pada lapisan yang terdampak.
Karena itu, pengelolaan tata air gambut dan pencegahan kekeringan menjadi bagian penting dalam mengurangi risiko karhutla, terutama ketika musim kemarau berlangsung.
3. Pemadaman Tidak Cukup dengan Menyiram Permukaan
Pada kebakaran biasa, penyiraman air dapat membantu menurunkan suhu dan memadamkan api yang terlihat. Namun, penanganan kebakaran gambut membutuhkan pendekatan berbeda.
Air yang disiramkan ke permukaan belum tentu mencapai bagian tanah yang masih membara. Jika bara di lapisan bawah tidak terkena air secara memadai, kebakaran berpotensi bertahan dan muncul kembali.
Petugas karena itu perlu melakukan pembasahan secara menyeluruh, termasuk pada lapisan gambut yang menjadi sumber panas.
Proses pendinginan lanjutan atau cooling dan pembersihan titik bara atau mopping up juga diperlukan untuk memastikan tidak ada sisa kebakaran yang tertinggal.
4. Keterbatasan Sumber Air dan Akses Lokasi
Tantangan lainnya berkaitan dengan ketersediaan air serta akses menuju titik kebakaran.
Di sejumlah lokasi, sumber air untuk pemadaman tidak selalu tersedia dalam jumlah yang cukup. Kondisi lahan dan jarak dari sumber air juga dapat menyulitkan petugas menjangkau area terdampak.
Ketika kebakaran terjadi di kawasan yang sulit diakses, distribusi air dan pergerakan personel membutuhkan perencanaan tambahan.
Situasi tersebut dapat memperlambat proses pemadaman, terutama jika api sudah menyebar ke area yang luas atau menjalar ke lapisan gambut di bawah tanah.
Oleh sebab itu, koordinasi antarpersonel dan pemilihan metode pemadaman sesuai kondisi lapangan menjadi bagian penting dalam penanganan karhutla.
5. Cuaca Kering dan Angin Dapat Memperluas Kebakaran
Kondisi cuaca turut memengaruhi perkembangan kebakaran hutan dan lahan.
Suhu tinggi, kelembapan rendah, dan minimnya hujan dapat membuat vegetasi serta lapisan gambut semakin kering. Sementara itu, angin berpotensi membantu api menyebar ke area di sekitarnya.
Kombinasi kondisi tersebut membuat titik api yang awalnya terbatas dapat berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas.
Ketika situasi atmosfer memungkinkan, pemerintah dapat melakukan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk meningkatkan peluang terjadinya hujan di wilayah prioritas.
Meski demikian, pelaksanaan OMC bergantung pada kondisi atmosfer dan ketersediaan awan yang memenuhi persyaratan teknis. Metode ini menjadi salah satu upaya pendukung dan tidak menggantikan kebutuhan pemadaman langsung di lapangan.
6. Bara yang Tersisa Bisa Memicu Kebakaran Kembali
Kebakaran gambut tidak selalu benar-benar selesai ketika kobaran api di permukaan menghilang.
Bara yang tertinggal di dalam lapisan tanah dapat kembali memicu kebakaran apabila kondisi sekitarnya mendukung, terutama ketika gambut masih kering dan tersedia oksigen.
Karena itu, petugas perlu melakukan pemantauan setelah pemadaman awal. Area yang sebelumnya terbakar harus diperiksa untuk mendeteksi titik panas atau asap yang mengindikasikan masih adanya bara.
Tahap ini penting agar kebakaran tidak kembali muncul di lokasi yang sebelumnya telah ditangani.
Pemerintah Gabungkan Pemadaman Darat dan Udara
Untuk menghadapi berbagai kendala tersebut, pemerintah mengoptimalkan pemadaman melalui jalur darat dan udara.
Pemadaman darat dilakukan dengan mengerahkan personel untuk menjangkau titik api, membasahi lahan, dan mendinginkan area yang terbakar. Sementara itu, operasi udara melalui water bombing dilakukan untuk membantu menjatuhkan air ke kawasan kebakaran.
Kedua metode tersebut memiliki peran yang saling melengkapi. Operasi udara membantu menangani kobaran di area tertentu, sedangkan petugas darat diperlukan untuk memastikan bara di permukaan maupun di lapisan gambut dapat ditangani.
Pemerintah juga mengoptimalkan koordinasi antarlembaga dan operasi modifikasi cuaca untuk mendukung upaya pemadaman.
Pencegahan Tetap Menjadi Langkah Penting
Karhutla di lahan gambut menunjukkan bahwa penanganan kebakaran tidak hanya bergantung pada kecepatan memadamkan api. Karakteristik tanah, kondisi cuaca, ketersediaan air, dan akses menuju lokasi turut menentukan tingkat kesulitan penanganan.
Karena itu, pencegahan perlu dilakukan melalui pengawasan kawasan rawan kebakaran, pengelolaan tata air gambut, serta upaya menghindari aktivitas yang dapat memicu munculnya api.
Dengan menjaga kelembapan lahan dan memperkuat pemantauan, risiko kebakaran dapat ditekan sebelum berkembang menjadi peristiwa yang lebih luas.
Penanganan karhutla pun membutuhkan kerja sama berkelanjutan antara pemerintah, petugas di lapangan, pengelola lahan, dan masyarakat untuk melindungi lingkungan serta mengurangi dampak asap terhadap kesehatan.






