Skip to main content

BRTV

Kenali Gejala Influenza A pada Balita dan Cara Penanganan yang Tepat

Ilustrasi balita demam. Foto: Pinterest

BRYV.CO.ID – Influenza A merupakan salah satu infeksi saluran pernapasan yang dapat menyerang siapa saja, termasuk bayi dan balita. Penyakit ini sering dianggap sebagai flu biasa karena gejalanya mirip pilek, tetapi influenza dapat menimbulkan kondisi yang lebih serius, terutama pada anak berusia di bawah lima tahun.

Gejala influenza A pada balita dapat muncul secara tiba-tiba, mulai dari demam, batuk, pilek, hingga tubuh yang terlihat sangat lemas. Pada sebagian anak, infeksi juga dapat menyebabkan muntah, diare, dan kesulitan makan atau minum.

Meskipun sebagian besar anak dapat pulih dengan perawatan yang tepat, orang tua tetap perlu mengenali tanda-tanda bahaya agar komplikasi dapat ditangani sedini mungkin.

Lantas, apa saja gejala influenza A pada balita dan bagaimana cara penanganannya? Berikut penjelasan lengkapnya.

Apa Itu Influenza A?

Influenza A adalah infeksi saluran pernapasan yang disebabkan oleh virus influenza tipe A. Virus ini dapat menginfeksi manusia dan sejumlah jenis hewan serta menjadi penyebab berbagai wabah influenza musiman.

Penularannya dapat terjadi melalui partikel pernapasan yang dilepaskan ketika orang terinfeksi batuk, bersin, berbicara, atau berada dalam jarak dekat. Penularan juga dapat terjadi melalui tangan yang terkontaminasi virus kemudian menyentuh hidung, mulut, atau mata.

Balita lebih rentan mengalami komplikasi influenza karena sistem kekebalan tubuhnya masih berkembang. Anak berusia di bawah dua tahun memiliki risiko komplikasi yang lebih tinggi dibandingkan anak yang lebih besar.

Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), anak di bawah lima tahun termasuk kelompok yang lebih berisiko mengalami komplikasi akibat influenza.

7 Gejala Influenza A pada Balita yang Perlu Dikenali

Gejala influenza A dapat berbeda pada setiap anak. Berikut beberapa tanda yang perlu diperhatikan orang tua.

1. Demam yang Muncul Mendadak

Salah satu gejala influenza yang umum adalah demam yang muncul secara tiba-tiba. Suhu tubuh anak dapat meningkat dan disertai menggigil, wajah kemerahan, atau tubuh terasa panas.

Demam dapat berlangsung selama beberapa hari. Namun, tidak semua anak yang terinfeksi influenza mengalami demam, sehingga orang tua perlu memperhatikan gejala lainnya.

Jika bayi berusia di bawah tiga bulan mengalami suhu tubuh 38°C atau lebih, segera bawa untuk mendapatkan penilaian medis.

2. Batuk dan Pilek

Influenza A dapat menyebabkan batuk kering, hidung berair, atau hidung tersumbat. Batuk terkadang cukup mengganggu sehingga anak sulit tidur dan menjadi lebih rewel.

Pada sebagian anak, batuk dapat bertahan lebih lama daripada demam atau gejala lainnya, bahkan selama dua minggu atau lebih.

Orang tua perlu waspada apabila batuk disertai napas cepat, tarikan dinding dada ke dalam, atau kesulitan bernapas.

3. Tubuh Lemas dan Mudah Mengantuk

Balita yang mengalami influenza dapat terlihat kurang aktif, kehilangan minat bermain, dan lebih sering ingin berbaring.

Kondisi ini dapat terjadi karena tubuh sedang melawan infeksi. Namun, penting untuk membedakan rasa lelah biasa dengan penurunan kesadaran.

Jika anak sangat sulit dibangunkan, tidak merespons seperti biasanya, atau tampak sangat lemah, segera cari pertolongan medis.

4. Nafsu Makan Menurun

Saat sakit, balita mungkin menolak makanan, minum lebih sedikit, atau hanya ingin mengonsumsi makanan tertentu.

Penurunan nafsu makan dalam waktu singkat dapat terjadi ketika anak mengalami demam dan hidung tersumbat. Akan tetapi, asupan cairan tetap harus menjadi perhatian utama.

Berikan ASI, susu, air putih sesuai usia, atau cairan lain yang sesuai dengan kondisi anak dalam jumlah kecil tetapi sering.

5. Nyeri Tubuh dan Rewel

Anak yang lebih besar mungkin mengeluhkan sakit kepala atau nyeri otot. Sementara itu, balita yang belum mampu mengungkapkan keluhan dapat menjadi lebih rewel, menangis, atau tidak nyaman ketika digendong dan bergerak.

Nyeri tubuh dan kelelahan merupakan gejala yang dapat menyertai influenza, meskipun tingkat keparahannya berbeda pada setiap anak.

6. Mual, Muntah, atau Diare

Sebagian anak yang terkena influenza mengalami gangguan pencernaan, seperti muntah atau diare. Gejala ini dapat meningkatkan risiko dehidrasi, terutama jika anak juga mengalami demam dan menolak minum.

Perhatikan frekuensi buang air kecil, kelembapan mulut, serta ada tidaknya air mata ketika anak menangis.

Jika anak terus muntah dan tidak mampu mempertahankan asupan cairan, segera konsultasikan dengan tenaga kesehatan.

7. Demam atau Batuk yang Sempat Membaik Lalu Memburuk

Gejala influenza umumnya berangsur membaik dalam beberapa hari hingga sekitar satu minggu. Namun, sebagian anak dapat mengalami komplikasi, termasuk pneumonia atau infeksi telinga.

Jika demam atau batuk sempat membaik kemudian kembali memburuk, kondisi tersebut perlu diperiksa dokter karena dapat menandakan komplikasi atau infeksi lain.

Perlu diingat, gejala saja tidak dapat memastikan bahwa anak mengalami influenza A. Pemeriksaan dokter dan, bila diperlukan, tes diagnostik dapat membantu menentukan penyebab infeksi.

Cara Penanganan Influenza A pada Balita

Penanganan influenza bergantung pada usia anak, tingkat keparahan gejala, dan kondisi kesehatannya. Untuk gejala ringan, beberapa langkah berikut dapat membantu mendukung pemulihan.

1. Pastikan Anak Mendapatkan Istirahat yang Cukup

Biarkan anak beristirahat dan tidur sesuai kebutuhannya. Kurangi aktivitas yang menguras energi selama demam atau ketika tubuh masih terasa lemas.

Pastikan lingkungan istirahat nyaman, memiliki ventilasi yang baik, dan tidak dipenuhi asap rokok.

2. Penuhi Kebutuhan Cairan

Demam, muntah, dan diare dapat menyebabkan tubuh kehilangan cairan lebih cepat.

Berikan ASI lebih sering pada bayi yang menyusu. Untuk balita, tawarkan air putih atau cairan yang sesuai dengan usia secara berkala. Jika anak mengalami muntah atau diare, larutan oralit dapat membantu mengganti cairan dan elektrolit yang hilang sesuai petunjuk penggunaannya.

Jangan memaksa anak minum dalam jumlah besar sekaligus jika ia merasa mual. Berikan sedikit demi sedikit dan pantau apakah anak tetap mampu minum serta buang air kecil.

3. Berikan Obat Penurun Demam dengan Tepat

Jika anak merasa tidak nyaman akibat demam, parasetamol dapat dipertimbangkan sesuai dosis berdasarkan berat badan dan petunjuk tenaga kesehatan atau kemasan obat anak.

Jangan memberikan dosis berdasarkan perkiraan atau menggunakan obat dewasa tanpa petunjuk medis. Ibuprofen memiliki batasan penggunaan pada kondisi tertentu, termasuk dehidrasi, sehingga sebaiknya dikonsultasikan terlebih dahulu jika anak kurang minum atau mengalami muntah dan diare.

Jangan memberikan aspirin kepada anak yang mengalami dugaan influenza, karena terdapat risiko sindrom Reye, yaitu kondisi langka tetapi serius.

Hindari pula memberikan beberapa obat flu sekaligus tanpa memeriksa kandungannya karena dapat menyebabkan pemberian bahan aktif yang sama secara berlebihan.

4. Konsultasikan Penggunaan Obat Antivirus

Dokter dapat mempertimbangkan obat antivirus, seperti oseltamivir, untuk anak dengan influenza yang terkonfirmasi atau dicurigai berdasarkan kondisi klinis.

Obat antivirus bekerja melawan virus influenza, bukan bakteri. Pengobatan paling efektif jika dimulai sedini mungkin, idealnya dalam 48 jam pertama sejak gejala muncul.

Anak di bawah lima tahun, terutama yang berusia di bawah dua tahun, termasuk kelompok berisiko lebih tinggi mengalami komplikasi. Karena itu, orang tua sebaiknya segera menghubungi dokter jika balita dicurigai terkena influenza, terutama bila gejalanya baru dimulai.

Pada penyakit berat atau anak berisiko tinggi, antivirus tetap dapat bermanfaat meskipun diberikan setelah 48 jam. Keputusan mengenai jenis obat dan dosis harus dilakukan oleh dokter.

5. Hindari Pemberian Antibiotik Tanpa Indikasi

Influenza disebabkan oleh virus, sehingga antibiotik tidak dapat mengobati infeksi influenza itu sendiri.

Antibiotik hanya digunakan jika dokter menemukan atau mencurigai infeksi bakteri yang memerlukan pengobatan tersebut. Memberikan antibiotik tanpa indikasi dapat menimbulkan efek samping dan meningkatkan risiko resistansi antibiotik.

6. Kurangi Risiko Penularan di Rumah

Agar anggota keluarga lain tidak mudah tertular, lakukan langkah berikut:

  • Biasakan mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir.
  • Ajarkan anak menutup mulut dan hidung saat batuk atau bersin sesuai kemampuannya.
  • Tingkatkan ventilasi ruangan dengan membuka jendela jika memungkinkan.
  • Bersihkan permukaan yang sering disentuh.
  • Hindari kontak dekat dengan bayi, lansia, dan orang yang memiliki penyakit penyerta selama anak masih sakit.
  • Jika anak sakit, istirahatkan di rumah dan hindari penitipan anak sampai kondisinya membaik.

Tanda Bahaya Influenza A pada Balita: Kapan Harus ke Rumah Sakit?

Orang tua tidak boleh menunggu jika muncul tanda-tanda komplikasi. Segera bawa anak ke instalasi gawat darurat apabila mengalami salah satu kondisi berikut:

  • Kesulitan bernapas: napas sangat cepat, tampak sesak, atau dada tertarik ke dalam saat bernapas.
  • Bibir atau wajah kebiruan: dapat menandakan kekurangan oksigen.
  • Dehidrasi: tidak buang air kecil selama sekitar delapan jam, mulut sangat kering, tidak ada air mata saat menangis, atau tidak mampu minum.
  • Penurunan kesadaran: anak sulit dibangunkan, tidak berinteraksi seperti biasanya, atau mengalami kejang.
  • Nyeri berat: termasuk nyeri otot yang membuat anak menolak berjalan.
  • Kondisi kembali memburuk: demam atau batuk sempat mereda tetapi kembali muncul atau bertambah parah.

Untuk bayi berusia di bawah tiga bulan, demam dengan suhu 38°C atau lebih membutuhkan penilaian medis segera.

Jangan menunda pertolongan hanya karena anak sebelumnya telah diperiksa atau sempat terlihat membaik.

Bagaimana Cara Mencegah Influenza A pada Balita?

Pencegahan dapat membantu mengurangi risiko infeksi dan komplikasi. Berikut langkah yang dapat dilakukan keluarga.

1. Pertimbangkan vaksinasi influenza tahunan. Vaksin influenza membantu mengurangi risiko terkena influenza dan mengalami penyakit berat. Konsultasikan jadwal vaksinasi dengan dokter anak, terutama untuk anak yang belum pernah mendapat vaksin influenza.

2. Biasakan perilaku hidup bersih. Cuci tangan sebelum makan, setelah menggunakan toilet, dan setelah menyentuh benda yang mungkin terkontaminasi.

3. Jaga sirkulasi udara. Ventilasi yang baik dapat membantu mengurangi penumpukan partikel pernapasan di dalam ruangan.

4. Hindari kontak dekat dengan orang yang sedang sakit. Jika anggota keluarga mengalami batuk, pilek, atau demam, kurangi kontak dekat dengan balita dan gunakan masker ketika diperlukan serta sesuai usia anak.

5. Penuhi kebutuhan nutrisi dan tidur. Berikan makanan bergizi seimbang dan waktu tidur yang cukup untuk mendukung kesehatan anak secara keseluruhan.

Vaksinasi tidak menjamin anak sepenuhnya bebas influenza, tetapi dapat membantu mengurangi risiko penyakit berat dan komplikasi.

Kesimpulan

Influenza A pada balita dapat menimbulkan gejala berupa demam mendadak, batuk, pilek, tubuh lemas, nafsu makan menurun, hingga muntah dan diare. Sebagian besar anak dapat pulih dengan perawatan yang sesuai, tetapi balita memiliki risiko komplikasi yang perlu diperhatikan.

Orang tua dapat membantu pemulihan dengan memastikan anak cukup istirahat, memenuhi kebutuhan cairan, dan memberikan obat sesuai anjuran tenaga kesehatan. Jika influenza dicurigai, konsultasi dini penting karena dokter dapat menilai apakah anak membutuhkan antivirus.

Jangan abaikan tanda bahaya seperti sesak napas, dehidrasi, kejang, atau anak sulit dibangunkan. Penanganan yang cepat dapat membantu mencegah kondisi berkembang menjadi lebih serius.

Untuk mendapatkan informasi lainnya seputar kesehatan keluarga, tumbuh kembang anak, dan gaya hidup sehat, kunjungi BRYV.co.id.