Skip to main content

BRTV

Kenapa AI Menghabiskan Banyak Air? Ini Alasan, Cara Kerja, dan Dampaknya bagi Bumi

BRTV.co.id — Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) kini semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari. Mulai dari chatbot, mesin pencari, aplikasi penerjemah, hingga berbagai layanan digital, semuanya membutuhkan infrastruktur komputasi dalam jumlah besar.

Di balik kemudahan tersebut, ada satu sumber daya yang mungkin jarang terlihat: air.

AI memang tidak secara langsung “meminum” air. Namun, pusat data atau data center yang menjalankan sistem AI membutuhkan listrik dan sistem pendingin untuk menjaga ribuan hingga jutaan perangkat komputer tetap beroperasi pada suhu yang aman.

Mengapa AI Membutuhkan Air?                                           

Sistem AI dijalankan menggunakan komputer berperforma tinggi, termasuk GPU dan chip khusus yang menghasilkan panas dalam jumlah besar ketika melakukan perhitungan.

Jika panas tersebut tidak dikendalikan, perangkat dapat mengalami penurunan performa bahkan kerusakan. Karena itu, pusat data menggunakan berbagai sistem pendinginan.

Salah satu metode yang umum digunakan adalah pendinginan berbasis air. Air dapat membantu menyerap panas dari peralatan sebelum panas tersebut dilepaskan ke lingkungan.

Artinya, semakin besar kebutuhan komputasi, semakin besar pula kebutuhan energi dan, dalam sistem tertentu, kebutuhan air untuk pendinginan.

Bukan Hanya Saat AI Digunakan

Penggunaan air tidak hanya berkaitan dengan ketika seseorang bertanya kepada chatbot.

Sebelum sebuah model AI dapat digunakan, model tersebut harus melalui proses pelatihan. Proses ini membutuhkan komputasi dalam skala besar dan dapat berlangsung selama berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan lebih lama tergantung pada ukuran dan kompleksitas model.

Selama proses tersebut, server bekerja terus-menerus dan menghasilkan panas yang harus dikendalikan.

Setelah model digunakan oleh masyarakat, pusat data tetap membutuhkan sumber daya untuk menjalankan permintaan pengguna setiap hari.

Dengan kata lain, jejak lingkungan AI muncul sepanjang siklus hidupnya, mulai dari pelatihan model, penggunaan sehari-hari, hingga pembangunan dan pengoperasian infrastruktur pusat data.

Dari Mana Air Itu Berasal?

Kebutuhan air pusat data dapat berasal dari berbagai sumber, tergantung lokasi dan teknologi yang digunakan. Sebagian fasilitas menggunakan air untuk sistem pendinginan, sementara fasilitas lain berusaha mengurangi penggunaan air dengan memanfaatkan teknologi pendinginan yang lebih efisien.

Persoalannya menjadi lebih serius ketika pusat data berada di wilayah yang sudah mengalami tekanan terhadap sumber daya air.

Penggunaan air dalam jumlah besar di daerah dengan ketersediaan air terbatas berpotensi menimbulkan persaingan antara kebutuhan industri dan kebutuhan masyarakat maupun ekosistem.

Dampaknya bagi Lingkungan

Jejak air AI menjadi bagian dari persoalan lingkungan yang lebih luas.

Selain air, pusat data membutuhkan listrik dalam jumlah besar. Jika listrik tersebut masih berasal dari bahan bakar fosil, kebutuhan energi untuk menjalankan AI juga dapat berkontribusi terhadap emisi gas rumah kaca.

Karena itu, dampak lingkungan AI tidak hanya dapat dilihat dari satu aspek.

Ada jejak air, jejak energi, kebutuhan pembangunan pusat data, penggunaan bahan baku untuk perangkat elektronik, hingga limbah elektronik ketika perangkat sudah tidak digunakan.

Namun, besarnya dampak tersebut tidak sama untuk setiap sistem. Teknologi pendinginan, lokasi pusat data, sumber listrik, efisiensi perangkat keras, serta sumber air yang digunakan dapat membuat jejak lingkungan sebuah pusat data berbeda dengan pusat data lainnya.

Apakah Berarti Kita Harus Berhenti Menggunakan AI?

Tidak sesederhana itu.

AI juga memiliki potensi untuk membantu manusia dalam berbagai bidang, termasuk penelitian, pendidikan, kesehatan, efisiensi energi, dan pengelolaan lingkungan.

Tantangannya adalah bagaimana perkembangan AI dapat berjalan tanpa memberikan tekanan lingkungan yang tidak terkendali.

Pengembang teknologi dan operator pusat data dapat mengurangi dampaknya melalui penggunaan energi terbarukan, sistem pendinginan yang lebih hemat air, pemanfaatan kembali air, serta pembangunan pusat data di lokasi yang memiliki ketersediaan sumber daya yang sesuai.

Di sisi lain, pengguna juga dapat memahami bahwa setiap layanan digital memiliki kebutuhan infrastruktur di belakang layar.

Teknologi Canggih, Tantangan Lama

AI mungkin terlihat seperti teknologi yang berada di dunia digital. Namun, di balik layar komputer dan algoritma terdapat bangunan fisik, server, listrik, air, serta sumber daya alam lainnya.

Inilah paradoks perkembangan teknologi modern: semakin pintar sistem yang kita gunakan, semakin besar pula infrastruktur yang dibutuhkan untuk membuatnya bekerja.

Karena itu, pembicaraan mengenai masa depan AI tidak cukup hanya membahas seberapa cerdas teknologi tersebut.

Kita juga perlu bertanya: berapa banyak energi yang dibutuhkan, berapa banyak air yang digunakan, dan bagaimana teknologi tersebut dapat berkembang tanpa membebani bumi?

Pada akhirnya, masa depan AI bukan hanya tentang membuat mesin semakin pintar, tetapi juga memastikan bahwa teknologi tersebut dapat berkembang secara lebih efisien, bertanggung jawab, dan berkelanjutan.

BRTV.co.id — Mengabarkan teknologi, memahami dampaknya bagi kehidupan.