BRTV

Mengapa Karhutla Sering Terjadi di Kalimantan?

Ilustrasi kebakaran hutan dan lahan. Foto: Pinterest

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menjadi salah satu persoalan yang kerap muncul di Kalimantan, terutama ketika memasuki musim kemarau. Kondisi lingkungan serta aktivitas manusia membuat beberapa wilayah di Kalimantan memiliki risiko kebakaran yang cukup tinggi.

Ada beberapa faktor utama yang menyebabkan karhutla sering terjadi di wilayah tersebut.

1. Banyaknya Lahan Gambut

Kalimantan memiliki kawasan gambut yang cukup luas, khususnya di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan. Lahan gambut terbentuk dari sisa-sisa tumbuhan yang menumpuk dalam waktu sangat lama dan pada kondisi alami mengandung banyak air.

Ketika musim kemarau datang, gambut dapat kehilangan kelembapannya dan menjadi kering sehingga mudah terbakar. Kebakaran di lahan gambut juga sulit ditangani karena api dapat menjalar hingga ke bawah permukaan tanah. Bara bahkan dapat bertahan dalam waktu lama meskipun api di permukaan sudah terlihat padam.

Kondisi ini semakin berisiko apabila lahan gambut mengalami pengeringan akibat pembuatan kanal atau perubahan penggunaan lahan. Karena itu, menjaga kelembapan dan tinggi muka air gambut menjadi salah satu langkah penting untuk mengurangi risiko kebakaran.

2. Kondisi Musim Kemarau

Faktor berikutnya adalah musim kemarau. Saat curah hujan berkurang, tanah dan tumbuh-tumbuhan menjadi lebih kering. Vegetasi yang kehilangan banyak kelembapan kemudian lebih mudah terbakar ketika terkena sumber api.

Risiko tersebut dapat meningkat ketika kondisi kemarau berlangsung lebih panjang dan diperkuat oleh fenomena iklim seperti El Niño. Perpaduan kondisi yang kering dengan vegetasi yang mudah terbakar membuat potensi karhutla semakin besar.

Di Kalimantan, periode yang perlu diwaspadai biasanya berada pada sekitar Juli hingga September karena bertepatan dengan musim kemarau.

3. Pembukaan Lahan dengan Membakar

Selain faktor lingkungan, kegiatan manusia juga menjadi salah satu penyebab penting terjadinya karhutla. Pembukaan lahan dengan menggunakan api masih dilakukan karena dianggap lebih mudah dan murah.

Namun, api yang digunakan untuk membersihkan lahan dapat menyebar tanpa terkendali, terutama ketika kondisi lahan kering dan angin cukup kuat. Risiko tersebut semakin besar jika pembakaran dilakukan di kawasan gambut karena api dapat bergerak di bawah permukaan tanah dan sulit diketahui.

Oleh sebab itu, pembukaan lahan dengan cara membakar sangat berisiko dan dapat menyebabkan kebakaran meluas ke kawasan di sekitarnya.

Dampak Karhutla

Karhutla tidak hanya menyebabkan kerusakan hutan dan lahan, tetapi juga memberikan dampak langsung kepada masyarakat. Asap kebakaran dapat menurunkan kualitas udara dan mengganggu aktivitas sehari-hari. Dalam kondisi yang parah, kabut asap juga dapat menghambat transportasi serta kegiatan pendidikan.

Dari sisi lingkungan, kebakaran dapat merusak habitat satwa, mengganggu ekosistem gambut, dan meningkatkan emisi karbon.

Karena itu, pencegahan karhutla perlu dilakukan sebelum musim kemarau tiba. Pengelolaan lahan gambut, pemantauan titik panas, serta kesadaran masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran sembarangan menjadi langkah penting dalam mengurangi risiko kebakaran hutan dan lahan.