Skip to main content

BRTV

Mengapa Kita Sering Menguap saat Melihat Orang Lain Menguap?

Ilustrasi menguap. Foto: Pinterest

Jakarta – Pernahkah kamu tiba-tiba menguap setelah melihat orang lain melakukannya? Fenomena ini cukup sering terjadi, bahkan terkadang hanya dengan mendengar suara seseorang menguap atau membaca kata yang berkaitan dengan menguap, seseorang bisa ikut merasakan dorongan yang sama.

Dalam dunia sains, fenomena tersebut dikenal sebagai contagious yawning atau menguap menular. Meski disebut menular, kondisi ini bukan disebabkan oleh virus atau bakteri, melainkan berkaitan dengan respons otak terhadap perilaku orang lain.

Apa Itu Menguap Menular?

Menguap menular merupakan kondisi ketika seseorang ikut menguap setelah melihat, mendengar, atau bahkan memikirkan orang lain yang sedang menguap.

Fenomena ini dapat terjadi secara spontan tanpa disadari. Seseorang mungkin tidak merasa mengantuk sebelumnya, tetapi tiba-tiba menguap setelah melihat teman, keluarga, atau orang di sekitarnya melakukan hal serupa.

Menurut Cleveland Clinic, menguap juga dapat dipicu oleh rasa lelah, kebosanan, bangun tidur, serta melihat atau mendengar orang lain menguap.

Hubungannya dengan Aktivitas Otak

Salah satu penjelasan yang banyak diteliti berkaitan dengan cara otak memproses perilaku sosial. Ketika melihat orang lain menguap, otak merespons rangsangan visual tersebut dan dapat memunculkan dorongan untuk melakukan gerakan serupa.

Sejumlah penelitian menggunakan pemindaian aktivitas otak menemukan adanya bagian otak yang aktif ketika seseorang melihat orang lain menguap. Temuan ini menunjukkan bahwa menguap menular melibatkan jaringan otak yang berkaitan dengan pemrosesan diri dan interaksi sosial.

Namun, mekanisme pasti yang menyebabkan seseorang ikut menguap masih belum sepenuhnya dipahami oleh para peneliti.

Apakah Menguap Menular Berhubungan dengan Empati?

Menguap menular juga sering dikaitkan dengan empati, yaitu kemampuan memahami atau merasakan keadaan emosional orang lain.

Beberapa penelitian menemukan adanya hubungan antara respons menguap dan kedekatan sosial. Seseorang dalam sebuah penelitian lebih sering mengalami menguap menular ketika melihat orang yang memiliki hubungan dekat dengannya dibandingkan orang asing.

Meski begitu, hubungan antara menguap menular dan empati masih menjadi bahan penelitian. Sejumlah kajian menyebutkan bahwa bukti ilmiah mengenai kaitan keduanya belum sepenuhnya konsisten.

Karena itu, seseorang yang tidak ikut menguap setelah melihat orang lain melakukannya bukan berarti tidak memiliki empati.

Mengapa Kita Bisa Ikut Menguap Hanya dengan Membacanya?

Menariknya, menguap menular tidak selalu membutuhkan kehadiran orang lain secara langsung. Membaca atau memikirkan aktivitas menguap juga dapat memicu respons serupa.

Hal ini menunjukkan bahwa otak dapat merespons bukan hanya gerakan yang dilihat secara langsung, tetapi juga gambaran atau ingatan mengenai suatu tindakan.

Fenomena tersebut menjadi salah satu contoh menarik tentang bagaimana otak manusia memproses informasi dan merespons perilaku di lingkungan sosial.

Fenomena Sederhana yang Masih Diteliti

Menguap setelah melihat orang lain menguap merupakan fenomena alami yang dialami banyak orang. Meski sudah banyak penelitian dilakukan, para ilmuwan masih terus mempelajari mekanisme yang mendasarinya.

Dengan demikian, menguap menular bukan sekadar kebiasaan yang terjadi tanpa alasan. Fenomena ini memperlihatkan adanya hubungan antara respons tubuh, aktivitas otak, dan interaksi sosial manusia.

Demikian informasi mengenai alasan seseorang sering menguap setelah melihat orang lain menguap. Temukan berbagai artikel sains, kesehatan, dan fakta menarik lainnya hanya di brtv.co.id.