
Memilih pasta gigi tidak selalu sesederhana melihat merek atau rasa yang disukai. Salah satu hal yang sering menjadi perhatian adalah keberadaan Sodium Lauryl Sulfate (SLS), yaitu bahan yang membantu menghasilkan busa ketika gigi disikat.
Di sisi lain, tersedia pula pasta gigi tanpa SLS atau yang dikenal sebagai non-SLS. Lantas, apakah pasta gigi tanpa SLS otomatis lebih baik untuk kesehatan gigi dan mulut?
Mengenal SLS dalam Pasta Gigi
SLS merupakan salah satu jenis surfaktan yang digunakan dalam produk pasta gigi. Bahan ini membantu menghasilkan busa sekaligus membantu penyebaran bahan-bahan lain selama proses menyikat gigi.
Karena adanya SLS, pasta gigi tertentu dapat menghasilkan busa yang cukup banyak. Namun, banyaknya busa tidak dapat dijadikan patokan bahwa gigi akan menjadi lebih bersih.
Pembersihan gigi terutama terjadi karena gerakan mekanis sikat gigi. Sementara itu, bahan aktif seperti fluoride memiliki peran penting dalam membantu melindungi gigi dari karies.
Bagaimana dengan Pasta Gigi Non-SLS?
Pasta gigi non-SLS adalah produk yang tidak menggunakan SLS sebagai surfaktannya. Meski demikian, bukan berarti pasta gigi jenis ini sama sekali tidak menghasilkan busa.
Beberapa produk non-SLS menggunakan bahan lain, misalnya cocoamidopropyl betaine (CAPB), yang juga dapat menghasilkan busa dengan karakter berbeda.
Dengan demikian, perbedaan utama antara kedua jenis pasta gigi tersebut bukan terletak pada banyak atau sedikitnya busa, melainkan pada bahan yang digunakan untuk menghasilkan busa.
Apakah SLS Berbahaya?
Untuk sebagian besar orang, penggunaan SLS dalam pasta gigi pada umumnya tidak menjadi masalah. Namun, ada orang tertentu yang dapat merasa lebih sensitif atau mengalami iritasi di dalam mulut.
Salah satu kondisi yang sering dikaitkan dengan pembahasan SLS adalah sariawan yang berulang. Sejumlah penelitian menunjukkan adanya kemungkinan pasta gigi bebas SLS membantu mengurangi frekuensi, lama berlangsung, atau rasa sakit sariawan pada sebagian orang.
Meski demikian, bukti ilmiahnya belum cukup kuat untuk menyimpulkan bahwa semua orang yang mengalami sariawan harus menggunakan pasta gigi non-SLS. Hasil penelitian yang ada juga belum sepenuhnya konsisten.
Apakah Non-SLS Berarti Lebih Baik?
Jawabannya belum tentu.
Pasta gigi non-SLS dapat menjadi pilihan bagi orang yang merasa tidak nyaman menggunakan pasta gigi dengan SLS, khususnya mereka yang memiliki pengalaman sariawan berulang. Namun, tidak adanya SLS tidak otomatis membuat suatu pasta gigi lebih efektif dalam mencegah kerusakan gigi.
Hal yang jauh lebih penting adalah memperhatikan kandungan fluoride di dalam pasta gigi.
Fluoride Tetap Menjadi Pertimbangan Utama
Fluoride memiliki peranan penting dalam membantu mencegah karies. Karena itu, ketika memilih pasta gigi, konsumen sebaiknya tidak hanya terpaku pada label SLS atau non-SLS.
Kenyamanan saat digunakan juga penting. Pasta gigi yang terasa nyaman akan lebih mudah digunakan secara rutin sesuai kebiasaan menyikat gigi yang baik.
Selain itu, setelah menyikat gigi, terlalu banyak berkumur dengan air dapat mengurangi fluoride yang masih tertinggal pada permukaan gigi. Karena itu, salah satu pendekatan yang dapat dilakukan adalah meludahkan sisa pasta gigi tanpa langsung berkumur dengan banyak air.
Jadi, Mana yang Lebih Baik?
Tidak ada satu pilihan yang paling tepat untuk semua orang.
Pasta gigi yang mengandung SLS tetap dapat digunakan apabila terasa nyaman dan tidak menimbulkan gangguan pada mulut. Sebaliknya, pasta gigi non-SLS dapat menjadi alternatif bagi orang yang lebih sensitif atau memiliki riwayat sariawan berulang.
Yang perlu diingat, banyaknya busa bukan indikator utama efektivitas pasta gigi. Fokus utama sebaiknya pada kandungan fluoride, kenyamanan penggunaan, serta kebiasaan menyikat gigi secara rutin dan benar.
Pada akhirnya, pilihan antara SLS dan non-SLS sebaiknya disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing, bukan semata-mata berdasarkan anggapan bahwa salah satunya pasti lebih sehat.







