Skip to main content

BRTV

Setelah 100 Tahun, Ilmuwan Temukan Spesies Penguin Baru di Pulau Terpencil

Ilustrasi penguin. Foto: Pinterest

Dunia penguin ternyata masih menyimpan kejutan. Setelah lebih dari satu abad tidak ada spesies penguin baru yang secara resmi dikenali, para ilmuwan kini menemukan satu spesies baru yang selama ini hidup di sebuah pulau terpencil.

Spesies tersebut merupakan bagian dari kelompok penguin gentoo yang hidup di Kepulauan Kerguelen, wilayah terpencil di Samudra Hindia bagian selatan. Penemuan ini menjadi menarik karena penguin yang ditemukan sebenarnya memiliki penampilan yang nyaris tidak berbeda dari penguin gentoo lainnya.

Perbedaannya justru tersembunyi di dalam DNA.

Penelitian yang melibatkan ilmuwan dari sejumlah negara menemukan bahwa kelompok penguin gentoo yang selama ini dianggap sebagai satu spesies ternyata terdiri dari empat spesies berbeda. Salah satunya merupakan spesies yang sebelumnya belum pernah dikenali secara resmi.

Tersembunyi di Pulau yang Jauh dari Permukiman

Penguin baru tersebut ditemukan di Kepulauan Kerguelen, wilayah yang berada hampir 3.000 kilometer dari daratan berpenghuni terdekat.

Letaknya yang sangat terpencil membuat kawasan tersebut relatif sulit dijangkau manusia. Kondisi geografis ini pula yang diduga menjadi salah satu alasan mengapa populasi penguin tersebut dapat berkembang sebagai kelompok yang berbeda tanpa dikenali sebagai spesies tersendiri selama bertahun-tahun.

Secara kasatmata, penguin baru itu memang tidak langsung menunjukkan ciri yang mencolok. Bentuk tubuh dan pola warna hitam-putihnya masih menyerupai penguin gentoo yang telah dikenal sebelumnya.

Namun, ketika para peneliti melihat lebih jauh melalui analisis genetik, perbedaannya menjadi jelas.

Spesies baru tersebut kemudian diberi nama ilmiah Pygoscelis kerguelensis dan dikenal sebagai penguin gentoo tenggara.

DNA Membuka Identitas yang Selama Ini Tersembunyi

Untuk memahami hubungan antar-populasi penguin gentoo, para peneliti melakukan analisis genom secara menyeluruh.

Mereka mempelajari 64 penguin dari 10 koloni perkembangbiakan yang mencakup hampir seluruh wilayah persebaran penguin gentoo. Selain membandingkan DNA, penelitian juga melihat sejumlah karakter lain, termasuk ukuran tubuh, warna, suara, waktu berkembang biak, pola makan, dan perilaku mencari makanan.

Hasilnya menunjukkan bahwa penguin gentoo yang sebelumnya dianggap satu kelompok ternyata terbagi menjadi empat spesies.

Tiga kelompok yang sebelumnya hanya dikategorikan sebagai subspesies juga dinilai memiliki perbedaan genetik yang cukup untuk dianggap sebagai spesies tersendiri.

Dengan pendekatan tersebut, para ilmuwan tidak hanya menemukan satu spesies baru, tetapi juga mengubah pemahaman mengenai keragaman penguin gentoo.

Terpisah Selama Ratusan Ribu Tahun

Perbedaan antara keempat kelompok penguin tersebut tidak muncul secara tiba-tiba.

Para peneliti memperkirakan keempat spesies gentoo mulai terpisah sekitar 300.000 hingga 500.000 tahun lalu.

Kondisi geografis memainkan peranan penting. Populasi penguin yang hidup di pulau-pulau terpencil menghadapi lingkungan dan sumber makanan yang berbeda. Dalam waktu yang sangat panjang, kondisi tersebut mendorong masing-masing populasi berkembang dengan karakter genetiknya sendiri.

Penguin gentoo juga dikenal memiliki pola makan yang cukup fleksibel. Mereka dapat memangsa ikan, krill, cumi-cumi, hingga sotong.

Kemampuan beradaptasi dengan berbagai jenis makanan memungkinkan mereka bertahan di lingkungan yang berbeda. Namun, dalam perjalanan evolusinya, populasi yang terisolasi kemudian berkembang menjadi kelompok yang semakin berbeda.

Penemuan Baru, Tantangan Baru

Penemuan spesies baru tersebut menjadi kabar menarik bagi dunia ilmu pengetahuan. Namun, para peneliti juga membawa perhatian pada persoalan lain: masa depan habitat penguin-penguin tersebut.

Spesies gentoo yang hidup di kawasan sub-Antarktika menghadapi perubahan lingkungan akibat pemanasan global. Beberapa habitat mereka berpotensi mengalami perubahan kondisi yang signifikan dalam beberapa dekade mendatang.

Para peneliti memperkirakan tiga dari empat spesies gentoo menghadapi ancaman terkait perubahan iklim, meskipun tingkat risikonya berbeda-beda.

Kondisi tersebut membuat identifikasi spesies bukan sekadar persoalan memberi nama baru.

Mengetahui bahwa suatu populasi merupakan spesies tersendiri dapat membantu para ilmuwan dan lembaga konservasi memahami jumlah populasi, wilayah persebaran, serta ancaman yang dihadapi secara lebih tepat.

Penguin yang Selama Ini Ada di Depan Mata

Penemuan ini juga menunjukkan bahwa dunia alam masih menyimpan banyak hal yang belum sepenuhnya dipahami manusia.

Seekor penguin gentoo mungkin terlihat sama dengan penguin lainnya ketika diamati dari kejauhan. Namun, penelitian terhadap DNA mengungkap sejarah evolusi yang jauh lebih panjang.

Selama ratusan ribu tahun, populasi penguin di pulau-pulau terpencil berkembang mengikuti lingkungannya masing-masing. Hingga akhirnya, teknologi genom memungkinkan ilmuwan melihat perbedaan yang sebelumnya tidak mudah dikenali.

Setelah lebih dari 100 tahun tanpa penamaan spesies penguin baru, Pygoscelis kerguelensis kini menambah satu lagi cabang dalam keluarga penguin.

Penemuan tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa di tempat-tempat terpencil yang jarang disentuh manusia, alam masih mungkin menyimpan cerita evolusi yang belum selesai dibaca.