Skip to main content

BRTV

Terlalu Sering Minum Manis Bisa Tingkatkan Risiko Kanker Lambung, Ini Temuan Studi

Ilustrasi kanker lambung. Foto: Pinterest

Kebiasaan mengonsumsi minuman manis mungkin terlihat sederhana dan sering dilakukan sehari-hari. Namun, sebuah penelitian menemukan adanya kaitan antara konsumsi minuman berpemanis dan peningkatan risiko kanker lambung.

Minuman yang masuk dalam kategori ini antara lain soda, minuman energi, serta berbagai minuman kemasan yang mengandung tambahan gula. Temuan tersebut menjadi perhatian karena konsumsi minuman manis semakin umum dalam pola makan modern.

Risiko Bisa Lebih dari Dua Kali Lipat

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Gastro Hep Advances menganalisis data kesehatan lebih dari 112 ribu orang yang berasal dari dua studi jangka panjang di Amerika Serikat.

Selama masa pemantauan, para peneliti menemukan 278 kasus kanker lambung. Hasil analisis menunjukkan bahwa peserta yang mengonsumsi setidaknya satu porsi minuman berpemanis setiap hari, atau sekitar 240 mililiter, memiliki risiko kanker lambung 2,45 kali lebih tinggi dibandingkan mereka yang jarang mengonsumsi minuman tersebut.

Jika dilihat berdasarkan jenis kelamin, peningkatan risikonya tercatat hampir tiga kali lipat pada perempuan dan mendekati dua kali lipat pada laki-laki.

Bukan Hanya soal Gula

Para peneliti juga melihat kemungkinan hubungan antara kandungan fruktosa dan risiko kanker lambung. Fruktosa merupakan salah satu jenis gula yang banyak ditemukan dalam produk minuman berpemanis.

Menariknya, hubungan tersebut tetap terlihat setelah memperhitungkan keberadaan infeksi Helicobacter pylori, salah satu faktor yang selama ini telah diketahui berkaitan dengan kanker lambung.

Artinya, hasil penelitian menunjukkan kemungkinan adanya jalur risiko lain yang berkaitan dengan konsumsi minuman berpemanis, meskipun mekanisme pastinya masih membutuhkan penelitian lebih lanjut.

Bagaimana dengan Minuman Pemanis Buatan?

Penelitian tersebut turut membandingkan minuman yang menggunakan pemanis buatan. Dari analisis yang dilakukan, tidak ditemukan hubungan yang sama antara konsumsi minuman berpemanis buatan dan peningkatan risiko kanker lambung.

Meski demikian, temuan ini tidak serta-merta berarti semua jenis minuman berpemanis aman dikonsumsi tanpa batas. Pola konsumsi secara keseluruhan tetap perlu diperhatikan.

Faktor Risiko Lain Tetap Perlu Diwaspadai

Kanker lambung tidak hanya berkaitan dengan pola konsumsi minuman. Sejumlah faktor lain juga diketahui berhubungan dengan risiko penyakit ini, termasuk infeksi H. pylori, kebiasaan merokok, konsumsi alkohol berlebihan, usia, serta faktor biologis lainnya.

Pola makan juga berperan. Asupan garam yang tinggi dan konsumsi makanan tertentu yang dibakar hingga hangus dapat meningkatkan risiko, sedangkan konsumsi buah dan sayuran dikaitkan dengan efek yang lebih protektif.

Tidak Berarti Minuman Manis Pasti Menyebabkan Kanker

Peneliti menekankan bahwa penelitian tersebut bersifat observasional. Dengan demikian, hasilnya menunjukkan adanya hubungan antara kebiasaan konsumsi minuman berpemanis dan risiko kanker lambung, tetapi belum dapat memastikan bahwa minuman manis secara langsung menyebabkan kanker.

Jumlah kasus kanker lambung yang ditemukan dalam penelitian juga relatif terbatas sehingga diperlukan penelitian tambahan untuk memperkuat temuan tersebut. Meski begitu, mengurangi konsumsi minuman dengan gula tambahan tetap dapat menjadi pilihan yang baik sebagai bagian dari pola hidup sehat. Air putih dan minuman tanpa tambahan gula dapat menjadi alternatif untuk memenuhi kebutuhan cairan sehari-hari sekaligus membantu membatasi asupan gula.