Skip to main content

BRTV

Tidur Cuma 2 Jam Sebelum Half Marathon, Aman? Ini Kata Dokter

Ilustrasi half marathon. Foto: Pinterest

Sebagian pelari mengaku tetap mengikuti half marathon meski hanya tidur sekitar dua jam pada malam sebelumnya. Apakah kurang tidur sebelum lari jarak jauh aman? Dokter olahraga menjelaskan risikonya.

Menjelang perlombaan lari, tidur cukup menjadi salah satu persiapan yang tidak kalah penting dari latihan fisik. Namun, rasa tegang dan antusiasme sebelum race terkadang justru membuat pelari sulit terlelap.

Hal ini belakangan ramai diperbincangkan di kalangan pelari setelah muncul pengalaman seorang pelari yang mengaku hanya tidur dua jam sebelum mengikuti Half Marathon (HM).

Sebagian pelari menganggap kurang tidur sebelum lomba dapat diantisipasi dengan “menabung tidur” beberapa hari sebelumnya. Namun, apakah cara tersebut cukup untuk menggantikan tidur pada malam sebelum race?

Kurang tidur bisa memengaruhi performa lari

Dokter spesialis kedokteran olahraga, dr Andhika Raspati, SpKO, menjelaskan bahwa kurang tidur berpotensi membuat performa seseorang saat berlari menurun.

Menurutnya, dampaknya tidak hanya berkaitan dengan rasa lelah. Kurang tidur juga dapat memengaruhi sistem kardiovaskular, termasuk respons detak jantung selama berolahraga.

Saat tubuh kurang mendapatkan waktu istirahat, detak jantung dapat lebih mudah meningkat. Kondisi tersebut pada akhirnya dapat membatasi kemampuan seseorang untuk mempertahankan performa selama berlari.

“Secara performa jelas bakal turun, nggak bilang pasti sih tapi paling nggak most likely bakal turun,” ujar dr Andhika.

Detak jantung lebih mudah meningkat

Dalam olahraga seperti half marathon, kemampuan tubuh mengatur detak jantung menjadi salah satu faktor penting. Pelari membutuhkan kerja sistem kardiorespirasi yang optimal untuk mempertahankan aktivitas dalam waktu relatif panjang.

Dr Andhika menjelaskan, kurang tidur dapat membuat heart rate lebih mudah meningkat. Ketika detak jantung semakin tinggi, beban tubuh selama berolahraga juga ikut bertambah.

Karena itu, kondisi kurang tidur sebaiknya tidak dianggap sebagai hal sepele, terutama ketika seseorang akan menjalani aktivitas fisik dengan intensitas dan durasi tinggi seperti half marathon.

Sulit tidur sebelum race sebenarnya wajar

Meski begitu, sulit tidur menjelang perlombaan bukanlah hal yang asing bagi pelari. Rasa antusias, gugup, atau memikirkan perlombaan keesokan harinya dapat membuat seseorang lebih sulit merasa rileks.

Ada beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan untuk membantu tubuh lebih siap beristirahat. Salah satunya menciptakan lingkungan kamar yang mendukung tidur, seperti mematikan lampu dan menghindari suara yang mengganggu.

Teknik pernapasan seperti box breathing juga dapat dicoba untuk membantu tubuh menjadi lebih rileks sebelum tidur.

Jangan abaikan kebutuhan tidur

Persiapan mengikuti half marathon sebaiknya tidak hanya berfokus pada latihan dan asupan nutrisi. Tidur juga menjadi bagian penting dari persiapan karena tubuh membutuhkan waktu untuk memulihkan diri.

Jika sulit tidur menjelang race, pelari sebaiknya tidak langsung menganggap bahwa kurang tidur tidak akan memberikan dampak apa pun terhadap performa.

“Menabung tidur” beberapa hari sebelumnya mungkin menjadi salah satu strategi yang dibicarakan di kalangan pelari, tetapi hal tersebut tidak serta-merta membuat kebutuhan tidur pada malam sebelum perlombaan menjadi tidak penting.

Dengan persiapan yang lebih menyeluruh, pelari dapat menghadapi race dalam kondisi tubuh yang lebih siap dan tidak memaksakan diri ketika kondisi fisik sedang kurang optimal.