BRTV

Kabut Asap Karhutla Ganggu Sekolah, Ribuan Satuan Pendidikan di Kalimantan Beralih ke PJJ

Ilustrasi kabut asap akibat karhutla. Foto: Pinterest

Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai mengganggu aktivitas pendidikan di sejumlah wilayah Kalimantan. Kondisi udara dan jarak pandang yang menurun membuat ribuan sekolah harus menyesuaikan kegiatan belajar mengajar demi menjaga keselamatan siswa dan tenaga pendidik.

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mencatat sedikitnya 3.524 satuan pendidikan terdampak kondisi tersebut. Sekolah-sekolah itu melayani sekitar 571.338 murid yang berada di sejumlah kabupaten dan kota di Kalimantan.

Belajar dari Rumah untuk Sementara

Dampak kabut asap membuat kegiatan belajar secara langsung di sekolah tidak selalu memungkinkan. Sebagai langkah penyesuaian, sejumlah satuan pendidikan menerapkan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).

Wilayah yang terdampak mencakup beberapa daerah di Kalimantan Barat, termasuk Pontianak, Kubu Raya, dan Kayong Utara. Selain itu, terdapat pula satuan pendidikan di Palangka Raya, Kotawaringin Timur, dan Banjarbaru yang ikut terdampak.

Penerapan PJJ dilakukan agar kegiatan pendidikan tetap berlangsung tanpa mengabaikan keselamatan warga sekolah.

Keselamatan Siswa Jadi Perhatian

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti mengatakan pemerintah berupaya memastikan siswa yang terdampak karhutla tetap mendapatkan hak pendidikan.

Menurutnya, penanganan kondisi tersebut membutuhkan kerja sama dengan berbagai kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah. Proses belajar diharapkan tetap berjalan secara efektif meskipun dilakukan dengan metode yang menyesuaikan keadaan.

Keselamatan siswa, guru, serta tenaga kependidikan menjadi salah satu pertimbangan utama selama kondisi kabut asap masih mengganggu aktivitas di luar rumah.

Sekolah Diminta Memastikan PJJ Berjalan

Dalam pelaksanaan PJJ, kepala sekolah memiliki peranan penting dalam mengatur sekaligus memantau kegiatan pembelajaran.

Selain kepala sekolah, pengawas, pembina, dan penilik juga diminta melakukan pemantauan terhadap satuan pendidikan yang terdampak. Langkah tersebut diperlukan agar proses pembelajaran tetap berjalan meskipun siswa tidak mengikuti kegiatan belajar secara tatap muka.

Dengan pengawasan tersebut, sekolah diharapkan dapat menyesuaikan metode pembelajaran dengan kondisi siswa dan lingkungan masing-masing.

Banjarbaru Terapkan PJJ Selama Beberapa Hari

Salah satu daerah yang mengambil langkah khusus adalah Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan.

Berdasarkan surat edaran Dinas Pendidikan Kota Banjarbaru tertanggal 21 Agustus 2026, satuan pendidikan di wilayah tersebut menerapkan PJJ pada 24 hingga 28 Agustus 2026.

Meski pembelajaran dilakukan dari jarak jauh, waktu kegiatan belajar tetap mengikuti jadwal normal. Pembelajaran dimulai sekitar pukul 07.30 WITA.

Sementara itu, pendidik dan tenaga kependidikan tetap menjalankan tugas sesuai ketentuan yang berlaku.

Hak Belajar Tetap Harus Terpenuhi

Kabut asap akibat karhutla tidak hanya berdampak terhadap lingkungan, tetapi juga dapat mengubah aktivitas masyarakat, termasuk kegiatan pendidikan.

Penerapan PJJ menjadi salah satu cara agar siswa tetap dapat mengikuti proses pembelajaran ketika kondisi belum memungkinkan untuk belajar secara normal di sekolah.

Pemerintah juga menekankan pentingnya pemulihan setelah bencana direncanakan sejak awal. Dengan demikian, ketika kondisi kembali aman, sekolah dapat segera menyesuaikan kegiatan pembelajaran seperti biasa.

Bagi siswa dan orang tua, kondisi ini tentu membutuhkan penyesuaian. Namun, di tengah situasi darurat akibat kabut asap, keberlangsungan pendidikan dan keselamatan siswa tetap menjadi dua hal yang harus berjalan beriringan.