
Jumlah titik panas atau hotspot yang terpantau di sejumlah wilayah Indonesia mengalami peningkatan. Kondisi tersebut membuat Kementerian Kehutanan bersama tim gabungan memperkuat upaya penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama di wilayah Sumatera dan Kalimantan.
Pemantauan Kementerian Kehutanan melalui sistem SiPongi yang menggunakan data satelit NASA Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA-20 mencatat 717 titik dengan tingkat kepercayaan tinggi serta 12.696 titik dengan tingkat kepercayaan menengah hingga Kamis (27/8) malam.
Meski demikian, pemerintah mengingatkan bahwa hotspot tidak otomatis berarti telah terjadi kebakaran. Titik panas merupakan indikasi adanya anomali suhu permukaan yang terdeteksi melalui satelit. Satu lokasi kebakaran juga dapat menghasilkan lebih dari satu titik panas.
Karena itu, informasi dari satelit tetap perlu diperiksa langsung di lapangan untuk memastikan kondisi sebenarnya.
Kalimantan Tengah Jadi Salah Satu Wilayah dengan Hotspot Tinggi
Dari enam provinsi yang menjadi perhatian, Kalimantan Tengah mencatat jumlah hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi terbanyak, yakni 280 titik. Berikutnya terdapat Kalimantan Barat dengan 128 titik dan Sumatera Selatan sebanyak 82 titik.
Sementara itu, Kalimantan Selatan tercatat memiliki 16 titik, Jambi empat titik, dan Riau satu titik dalam kategori kepercayaan tinggi.
Untuk kategori kepercayaan menengah, Kalimantan Tengah kembali mencatat jumlah terbesar dengan 4.358 titik. Kalimantan Barat berada di posisi berikutnya dengan 1.787 titik, disusul Sumatera Selatan 1.037 titik dan Kalimantan Selatan 825 titik.
Tim Gabungan Bergerak ke Lokasi Kebakaran
Meningkatnya titik panas langsung diikuti dengan penguatan operasi di lapangan. Manggala Agni Kementerian Kehutanan bekerja bersama TNI, Polri, BPBD, pemadam kebakaran, pemerintah daerah, masyarakat, serta Masyarakat Peduli Api untuk menangani lokasi yang masih memiliki api maupun bara.
Di Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat, petugas terlebih dahulu memetakan kondisi lapangan untuk menentukan titik yang harus menjadi prioritas. Tim kemudian dibagi ke sejumlah sektor dan menggunakan pompa serta sumber air yang tersedia di sekitar lokasi.
Keterbatasan air di beberapa tempat menjadi salah satu tantangan dalam proses pemadaman. Petugas menggunakan sistem distribusi air dari kolam menuju tangki penampungan agar kebutuhan air untuk pemadaman tetap tersedia.
Di Kendawangan, Kabupaten Ketapang, misalnya, kondisi parit yang mengering membuat petugas mengandalkan mobil tangki untuk memasok air. Ketika api bergerak mendekati permukiman, tim gabungan segera melakukan pemadaman sekaligus menyisir bara yang masih tersisa.
Lahan Gambut Jadi Perhatian
Penanganan juga dilakukan di sejumlah wilayah Kalimantan Tengah. Selain pemadaman langsung, petugas melakukan patroli, pendinginan, dan upaya menghentikan pergerakan api agar tidak semakin meluas.
Kebakaran di lahan gambut menjadi tantangan tersendiri karena api dapat bertahan di bawah permukaan. Di Palangka Raya, petugas juga menangani titik-titik asap yang berasal dari kebakaran bawah gambut.
Sementara itu, pemantauan menggunakan drone dilakukan di sekitar kawasan Taman Nasional Sebangau. Teknologi tersebut membantu petugas menemukan lokasi yang membutuhkan pemeriksaan dan penanganan lebih lanjut.
Di Kalimantan Selatan, operasi dilakukan dari darat dan udara. Petugas berupaya menghentikan penyebaran api agar tidak mencapai fasilitas publik. Kondisi vegetasi yang kering serta angin yang cukup kencang menjadi salah satu kendala dalam proses pemadaman.
Puluhan Helikopter Disiagakan
Untuk memperkuat operasi di darat, pemerintah juga menyiapkan dukungan udara. Sebanyak 30 helikopter disiagakan di Kalimantan, sementara 22 helikopter berada di Sumatera untuk mendukung patroli udara dan operasi water bombing.
Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) juga terus diupayakan di wilayah yang memiliki kondisi meteorologis yang memungkinkan.
Selain memadamkan api, pemerintah turut memantau dampak asap terhadap kualitas udara dan jarak pandang masyarakat.
Pada 27 Agustus pagi, jarak pandang di Pontianak tercatat sekitar satu kilometer dengan kondisi berasap. Palangka Raya memiliki jarak pandang sekitar 1,2 kilometer. Sementara itu, jarak pandang di Pekanbaru sekitar tiga kilometer, Palembang 3,5 kilometer, dan Banjarmasin sekitar empat kilometer.
Kondisi yang lebih baik tercatat di Jambi dengan jarak pandang sekitar tujuh kilometer. Di Samarinda, jarak pandang mencapai 10 kilometer atau lebih.
Masyarakat Diminta Tidak Membakar Lahan
Kementerian Kehutanan mengingatkan masyarakat agar tidak menggunakan api untuk membuka maupun membersihkan lahan. Masyarakat di daerah yang terdampak asap juga diminta mengikuti informasi mengenai kualitas udara dan kondisi lingkungan dari instansi berwenang.
Warga yang menemukan asap, titik api, atau tanda-tanda kebakaran di sekitar lingkungannya diimbau segera melapor agar petugas dapat melakukan pengecekan dan mengambil tindakan secepat mungkin.







