
BRTV.CO.ID – Kol goreng menjadi salah satu menu favorit masyarakat Indonesia. Sayuran yang digoreng hingga berwarna kecokelatan ini kerap dijadikan pelengkap ayam goreng, pecel lele, hingga aneka hidangan di warung makan. Rasanya yang gurih dan teksturnya yang renyah membuat banyak orang sulit menolak menu satu ini.
Namun, di balik kelezatannya, kebiasaan mengonsumsi kol goreng secara berlebihan patut diwaspadai. Penggunaan minyak dalam proses penggorengan dapat meningkatkan kandungan lemak dan kalori pada makanan. Jika dikonsumsi terlalu sering, terutama sebagai bagian dari pola makan tinggi lemak, hal ini dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, termasuk penyakit jantung.
Kol Goreng Tidak Selalu Berbahaya, tetapi Cara Mengolahnya Perlu Diperhatikan
Kol atau kubis merupakan sayuran yang mengandung serat, vitamin C, vitamin K, serta sejumlah senyawa antioksidan. Jika diolah dengan tepat, kol dapat menjadi bagian dari pola makan sehat dan seimbang.
Masalahnya, proses menggoreng dapat mengubah profil gizi makanan. Kol yang digoreng dengan minyak dalam jumlah banyak berpotensi menyerap minyak, sehingga kandungan kalori dan lemaknya meningkat dibandingkan kol yang dikukus atau direbus.
Risiko juga perlu diperhatikan ketika minyak digunakan berulang kali pada suhu tinggi. Pemanasan berulang dapat memicu perubahan kimia pada minyak dan menghasilkan senyawa yang tidak diinginkan.
Karena itu, bukan kolnya semata yang menjadi persoalan, melainkan cara pengolahan, jumlah minyak yang digunakan, frekuensi konsumsi, serta pola makan secara keseluruhan.
Bagaimana Kol Goreng Bisa Berkaitan dengan Risiko Penyakit Jantung?
Penyakit jantung koroner berkaitan erat dengan berbagai faktor, termasuk kadar kolesterol LDL yang tinggi, tekanan darah tinggi, merokok, diabetes, kurang aktivitas fisik, dan pola makan yang tidak sehat.
Konsumsi makanan yang tinggi lemak jenuh dan lemak trans dapat meningkatkan kadar kolesterol LDL atau kolesterol jahat. Jika berlangsung dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat berkontribusi terhadap penumpukan plak di pembuluh darah.
Kol goreng tidak otomatis menyebabkan penyakit jantung hanya karena dikonsumsi sesekali. Namun, apabila menjadi kebiasaan dan merupakan bagian dari pola makan tinggi kalori serta lemak yang kurang sehat, risikonya dapat meningkat.
Penting pula untuk membedakan jenis minyak yang digunakan. Tidak semua minyak goreng memiliki komposisi lemak yang sama. Minyak yang kaya lemak tak jenuh um







