Skip to main content

BRTV

Kulit Buah Jangan Langsung Dibuang, Bisa Diolah Menjadi Eco Enzyme

Ilustrasi kulit buah. Foto: Pinterest

brtv.co.id – Kulit buah dan sisa sayuran sering kali berakhir di tempat sampah setelah bahan makanan digunakan. Padahal, bagian yang dianggap tidak terpakai tersebut masih bisa dimanfaatkan menjadi produk olahan yang dikenal dengan nama eco enzyme.

Eco enzyme merupakan cairan hasil fermentasi bahan organik, seperti kulit buah dan sisa sayuran, yang dicampur dengan gula serta air. Pengolahannya menjadi salah satu alternatif untuk mengurangi sampah organik rumah tangga.

Selain membantu memanfaatkan limbah dapur, pembuatan eco enzyme juga dapat menjadi langkah sederhana untuk mengenalkan kebiasaan mengelola sampah secara lebih bijak.

Lantas, apa saja bahan yang diperlukan dan bagaimana proses pembuatannya?

Apa Itu Eco Enzyme?

Eco enzyme adalah cairan hasil fermentasi sisa bahan organik dengan campuran gula dan air. Bahan organik yang digunakan biasanya berupa kulit buah dan potongan sayuran yang masih segar.

Proses fermentasi membutuhkan waktu cukup lama hingga bahan-bahan tersebut mengalami perubahan menjadi cairan dengan karakteristik tertentu.

Pemanfaatan eco enzyme juga sering diperkenalkan sebagai salah satu upaya mengurangi jumlah sampah organik yang dihasilkan dari aktivitas rumah tangga.

Bahan yang Dibutuhkan untuk Membuat Eco Enzyme

Sebelum memulai proses pembuatan, ada beberapa bahan dan perlengkapan yang perlu disiapkan, antara lain:

  1. Kulit buah atau sisa sayuran segar.
  2. Gula merah atau molase (tetes tebu).
  3. Air bersih.
  4. Wadah fermentasi berbahan plastik yang sesuai untuk proses tersebut.

Sebaiknya gunakan bahan organik yang masih segar dan tidak berjamur. Hindari sisa makanan matang, bahan hewani, serta kulit buah yang sudah membusuk.

Cara Membuat Eco Enzyme dari Kulit Buah

Pembuatan eco enzyme membutuhkan takaran bahan yang tepat. Salah satu panduan yang umum digunakan adalah perbandingan 1:3:10, yaitu satu bagian gula, tiga bagian bahan organik, dan sepuluh bagian air.

Berikut tahapan pembuatannya:

1. Siapkan Kulit Buah dan Sayuran

Kumpulkan kulit buah serta sisa sayuran yang masih segar. Potong bahan menjadi bagian lebih kecil agar mudah dimasukkan ke dalam wadah.

2. Campurkan Air dan Gula

Larutkan gula merah atau molase ke dalam air hingga tercampur merata. Gunakan wadah yang bersih dan sesuai untuk proses fermentasi.

3. Masukkan Bahan Organik

Tambahkan kulit buah dan potongan sayuran sesuai takaran. Pastikan bahan organik terendam dalam cairan.

4. Simpan dalam Wadah Fermentasi

Simpan campuran tersebut menggunakan wadah yang dirancang untuk fermentasi. Jangan mengisi wadah sampai penuh karena proses fermentasi dapat menghasilkan gas. Pengaturan tekanan gas harus mengikuti petunjuk keamanan wadah agar tidak terjadi penumpukan tekanan.

5. Tunggu Proses Fermentasi

Letakkan wadah di tempat teduh dan tidak terkena sinar matahari langsung. Proses fermentasi umumnya membutuhkan waktu sekitar tiga bulan atau 90 hari.

Selama proses berlangsung, kondisi wadah perlu diperhatikan. Jangan mencicipi cairan hasil fermentasi untuk memastikan keberhasilannya.

Jika muncul bau busuk menyengat, pertumbuhan jamur yang tidak dikenali, atau tanda kerusakan wadah, jangan gunakan hasil fermentasi tersebut.

Apa Manfaat Mengolah Sampah Menjadi Eco Enzyme?

Salah satu manfaat utama pembuatan eco enzyme adalah membantu mengurangi sampah organik rumah tangga. Kulit buah dan sisa sayuran yang biasanya dibuang dapat dimanfaatkan melalui proses pengolahan sederhana.

Selain itu, kegiatan ini juga dapat meningkatkan kesadaran masyarakat untuk memilah sampah berdasarkan jenisnya.

Cairan eco enzyme kerap dimanfaatkan untuk kebutuhan rumah tangga tertentu. Namun, efektivitasnya sebagai pembersih atau disinfektan tidak boleh dianggap sudah terbukti untuk semua penggunaan. Cairan ini juga tidak boleh digunakan untuk dikonsumsi.

Mengurangi Sampah Bisa Dimulai dari Rumah

Mengolah kulit buah menjadi eco enzyme merupakan salah satu cara memanfaatkan kembali sisa bahan makanan yang masih memiliki potensi untuk diolah.

Meski membutuhkan waktu fermentasi cukup panjang, kegiatan ini dapat menjadi langkah awal untuk membangun kebiasaan mengurangi sampah organik.

Dengan pengelolaan yang tepat, masyarakat dapat ikut berkontribusi menjaga lingkungan melalui kebiasaan sederhana yang dimulai dari rumah.