Skip to main content

BRTV

Dari Ikan Nila hingga Caviar: Daftar Seafood Red Flag yang Dihindari Para Chef

Ilustrasi ikan nila. Foto: Pinterest

BRTV.co.id – Seafood menjadi salah satu bahan makanan favorit karena menawarkan cita rasa yang beragam dan kandungan protein yang baik untuk tubuh. Mulai dari ikan air tawar, udang, hingga caviar yang dikenal sebagai makanan mewah, semuanya memiliki karakteristik dan nilai tersendiri di dunia kuliner.

Namun, tahukah Anda bahwa ada sejumlah jenis seafood yang justru dihindari oleh sebagian chef profesional? Alasannya beragam, mulai dari kualitas rasa, risiko kontaminasi, hingga masalah keberlanjutan lingkungan dan praktik budidaya.

Dilansir dari pemberitaan detikFood yang mengutip Food Republic, terdapat lima jenis seafood yang menjadi perhatian sebagian chef, yakni ikan nila atau tilapia, orange roughy, caviar liar, ikan lele impor, dan belut Amerika.

Lantas, apa yang membuat seafood tersebut masuk dalam daftar red flag? Berikut ulasannya.

1. Ikan Nila atau Tilapia

Ikan nila dikenal sebagai salah satu ikan air tawar yang mudah ditemukan dan relatif terjangkau. Ikan ini juga banyak dibudidayakan di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Meski demikian, sebagian chef menyoroti kualitas rasa dan asal-usul ikan nila yang dijual di pasaran. Kualitas dagingnya dapat berbeda-beda bergantung pada pakan, kondisi lingkungan, serta metode budidaya yang digunakan.

Ikan nila memiliki rasa yang cenderung ringan sehingga kualitas bahan dan teknik memasak sangat memengaruhi hasil akhirnya. Bagi chef yang mengutamakan karakter rasa ikan yang kuat, hal ini mungkin menjadi pertimbangan tersendiri.

Namun, bukan berarti ikan nila secara umum tidak aman atau berkualitas rendah. Ikan nila dari sumber yang terpercaya, dibudidayakan dengan baik, dan ditangani secara higienis tetap dapat menjadi pilihan makanan yang baik.

Hal yang perlu diperhatikan: Pilih ikan dari penjual tepercaya dan pastikan ikan disimpan pada suhu yang sesuai. Hindari ikan yang berbau asam atau seperti amonia, serta memiliki tekstur lembek yang tidak wajar.

2. Orange Roughy, Ikan dengan Umur Panjang

Orange roughy merupakan ikan laut dalam yang memiliki daging bertekstur lembut dan rasa yang relatif ringan. Ikan ini pernah populer sebagai bahan hidangan restoran karena dapat diolah dengan berbagai teknik memasak.

Akan tetapi, orange roughy memiliki karakteristik biologis yang membuatnya menjadi perhatian dalam industri perikanan. Ikan ini dapat hidup sangat lama, bahkan mencapai lebih dari satu abad, serta tumbuh dan berkembang biak dengan lambat.

Karakteristik tersebut membuat populasi orange roughy rentan terhadap penangkapan berlebihan. Selain itu, ikan predator yang hidup lama dapat mengakumulasi merkuri sepanjang hidupnya.

Karena alasan tersebut, sebagian chef dan pemerhati keberlanjutan seafood lebih berhati-hati dalam memilih ikan ini.

Hal yang perlu diperhatikan: Pertimbangkan asal tangkapan dan status keberlanjutan ikan sebelum membeli. Untuk konsumsi rutin, pilih jenis ikan dengan kadar merkuri lebih rendah dan sumber yang dapat ditelusuri.

3. Caviar Liar yang Tidak Jelas Asalnya

Caviar merupakan makanan mewah yang berasal dari telur ikan sturgeon. Produk ini dikenal karena teksturnya yang khas, cita rasanya yang kompleks, dan harganya yang relatif tinggi.

Meski demikian, tidak semua caviar memiliki kualitas dan asal-usul yang sama. Caviar liar yang tidak jelas sumbernya dapat menimbulkan kekhawatiran terkait legalitas perdagangan, kelestarian populasi sturgeon, dan kondisi lingkungan tempat ikan ditangkap.

Sejumlah spesies sturgeon menghadapi tekanan akibat penangkapan berlebihan dan kerusakan habitat. Perdagangan internasional banyak spesies sturgeon dan produknya juga diatur melalui ketentuan CITES.

Sebagai alternatif, caviar hasil budidaya yang legal dan memiliki informasi asal-usul yang jelas dapat menjadi pilihan yang lebih mudah ditelusuri. Meski begitu, kualitas produk tetap bergantung pada praktik budidaya, pengolahan, dan penyimpanannya.

Hal yang perlu diperhatikan: Periksa label, identitas produsen, informasi spesies, serta legalitas produk. Pastikan caviar disimpan sesuai petunjuk suhu dan tidak dikonsumsi apabila kemasan atau kondisi produknya menunjukkan tanda kerusakan.

4. Ikan Lele Impor dengan Asal-Usul yang Tidak Transparan

Ikan lele merupakan sumber protein yang populer di berbagai negara, termasuk Indonesia. Harganya relatif terjangkau dan ikan ini dapat diolah menjadi beragam hidangan.

Namun, sebagian chef menyoroti ikan lele impor apabila informasi mengenai asal budidaya, penggunaan obat-obatan, dan pengawasan kualitasnya tidak memadai.

Kualitas ikan budidaya sangat dipengaruhi oleh kondisi air, pakan, kepadatan pemeliharaan, serta penerapan standar keamanan pangan. Penggunaan antibiotik yang tidak sesuai aturan juga menjadi perhatian karena dapat berkontribusi terhadap resistensi antimikroba.

Meski demikian, risiko tersebut tidak berlaku untuk semua ikan lele impor. Negara asal saja tidak cukup untuk menentukan apakah suatu produk aman atau tidak.

Hal yang perlu diperhatikan: Pilih ikan lele dari pemasok yang memiliki standar keamanan pangan dan dapat menjelaskan asal produknya. Untuk ikan segar, perhatikan aroma, tekstur, dan kondisi penyimpanannya.

5. Belut Amerika atau American Eel

Belut Amerika merupakan spesies belut yang hidup di perairan Amerika Utara. Spesies ini memiliki nilai ekonomi dan pernah dimanfaatkan sebagai bahan berbagai hidangan.

Salah satu perhatian utama terhadap belut Amerika adalah keberlanjutan populasinya. Perubahan habitat, hambatan migrasi, dan aktivitas penangkapan dapat memengaruhi kelangsungan hidup spesies tersebut.

Selain itu, belut yang berasal dari perairan tercemar berpotensi terpapar kontaminan tertentu. Karena itu, asal tangkapan dan kondisi lingkungan perairan menjadi faktor penting dalam menilai kualitasnya.

Dalam dunia kuliner, perbedaan spesies belut juga dapat memengaruhi tekstur dan karakter rasa. Belut Amerika tidak selalu memberikan hasil yang sama dengan spesies belut yang lazim digunakan dalam hidangan unagi Jepang.

Hal yang perlu diperhatikan: Periksa asal tangkapan, informasi keamanan pangan, dan status keberlanjutan spesies. Jangan menyimpulkan bahwa semua belut Amerika berbahaya hanya berdasarkan jenisnya.

Mengapa Para Chef Selektif Memilih Seafood?

Dalam dunia kuliner profesional, pemilihan bahan makanan bukan hanya soal harga dan rasa. Ada beberapa faktor yang menjadi pertimbangan sebelum seafood masuk ke dapur restoran.

Kualitas dan Kesegaran                                                        

Seafood termasuk bahan makanan yang mudah mengalami penurunan kualitas jika tidak ditangani dengan benar. Rantai pendinginan, kebersihan, dan waktu penyimpanan berperan penting dalam menjaga kesegarannya.

Keamanan Pangan

Kontaminasi mikroorganisme, paparan zat berbahaya, dan penyimpanan pada suhu yang tidak sesuai dapat menimbulkan risiko kesehatan. Chef perlu memastikan bahan yang digunakan berasal dari pemasok tepercaya dan ditangani sesuai standar keamanan pangan.

Keberlanjutan Lingkungan

Sebagian chef juga mempertimbangkan dampak penangkapan dan budidaya terhadap ekosistem. Spesies yang populasinya terancam atau diperoleh melalui praktik yang merusak lingkungan dapat dihindari demi mendukung konsumsi seafood yang lebih bertanggung jawab.

Konsistensi Rasa dan Tekstur

Kualitas seafood dapat berbeda menurut spesies, pakan, lingkungan hidup, dan cara penanganannya. Chef biasanya memilih bahan yang mampu memberikan rasa, tekstur, dan hasil masakan yang konsisten.

Tips Memilih Seafood yang Aman dan Berkualitas

Agar tidak salah memilih seafood, ada beberapa hal yang bisa diperhatikan saat berbelanja.

  1. Perhatikan aromanya. Seafood segar umumnya memiliki aroma ringan dan khas, bukan bau asam, busuk, atau seperti amonia.
  2. Periksa tekstur dan tampilannya. Daging ikan umumnya terasa padat dan elastis. Hindari produk dengan perubahan warna atau tekstur yang mencurigakan.
  3. Pastikan penyimpanan yang benar. Pilih seafood yang disimpan dalam pendingin atau di atas es yang memadai.
  4. Cari tahu asal produk. Tanyakan apakah seafood berasal dari tangkapan liar atau budidaya dan apakah pemasok dapat menjelaskan sumbernya.
  5. Jangan hanya berpatokan pada harga. Seafood mahal tidak otomatis lebih aman, sedangkan seafood murah tidak selalu memiliki kualitas buruk.
  6. Pilih produk sesuai kebutuhan. Pertimbangkan kandungan merkuri, keberlanjutan spesies, serta cara pengolahan yang tepat.

Kesimpulan

Dari ikan nila hingga caviar liar, setiap jenis seafood memiliki karakteristik dan tantangan tersendiri. Sebagian chef memilih menghindari jenis tertentu karena pertimbangan rasa, keamanan pangan, transparansi sumber, atau keberlanjutan lingkungan.

Namun, istilah red flag bukan berarti seluruh jenis seafood tersebut berbahaya untuk dikonsumsi. Faktor asal produk, kualitas budidaya, cara penanganan, dan kondisi penyimpanan tetap menjadi penentu penting.

Dengan lebih teliti memilih seafood, konsumen dapat menikmati hidangan laut dengan lebih aman sekaligus mendukung praktik perikanan yang bertanggung jawab.

Ikuti berita kuliner, gaya hidup, dan informasi menarik lainnya dengan mengunjungi brtv.co.id.