Skip to main content

BRTV

Jepang Dilanda Suhu Panas Ekstrem, Tokyo Tembus 30,3 Derajat Celsius

Ilustrasi. Foto: Pinterest

Jepang mengalami suhu udara yang tidak biasa pada akhir Oktober 2026. Ibu kota Tokyo mencatat temperatur mencapai 30,3 derajat Celsius pada Rabu (21/10/2026), menjadikannya hari dengan suhu di atas 30 derajat Celsius paling akhir dalam kalender sepanjang sejarah pengamatan di kota tersebut.

Kondisi ini terjadi ketika sebagian wilayah Jepang biasanya mulai memasuki cuaca yang lebih sejuk menjelang musim dingin. Suhu tinggi tersebut dipengaruhi oleh aliran udara hangat dan lembap dari selatan yang bergerak menuju Jepang, terutama kawasan pesisir Samudra Pasifik.

Fenomena tersebut juga terjadi di sejumlah kota lain, termasuk Osaka. Suhu yang melampaui 30 derajat Celsius pada akhir Oktober menjadi catatan tersendiri bagi pengamatan cuaca di Jepang.

Tokyo Catat Suhu 30,3 Derajat Celsius

Suhu di Tokyo melampaui 30 derajat Celsius pada Rabu (21/10/2026). Angka 30,3 derajat Celsius tersebut memecahkan rekor waktu terjadinya suhu di atas 30 derajat Celsius paling akhir dalam setahun di Tokyo. Sebelumnya, rekor tersebut tercatat pada 19 Oktober 2024.

Dalam klasifikasi cuaca Jepang, suhu maksimum 30 derajat Celsius atau lebih disebut manatsubi, yang berarti hari dengan suhu seperti musim panas. Kondisi ini terbilang tidak lazim ketika kalender telah memasuki pekan terakhir Oktober.

Osaka Juga Mengalami Suhu di Atas 30 Derajat Celsius

Tidak hanya Tokyo, Osaka juga mencatat temperatur di atas 30 derajat Celsius pada hari yang sama. Kondisi tersebut memecahkan rekor waktu terjadinya manatsubi paling akhir di kota itu, yang sebelumnya tercatat pada 20 Oktober 1933.

Suhu tinggi di Tokyo dan Osaka menunjukkan bahwa cuaca hangat masih bertahan di sejumlah wilayah Jepang meskipun musim gugur telah berlangsung.

Aliran udara hangat dan lembap dari selatan menjadi salah satu faktor yang mendorong kenaikan suhu, khususnya di wilayah yang menghadap Samudra Pasifik.

Perubahan Iklim Jadi Perhatian

Suhu tinggi yang terjadi di luar periode musim panas turut menyoroti persoalan perubahan iklim. Para ilmuwan menyebut perubahan iklim akibat aktivitas manusia meningkatkan frekuensi dan intensitas sejumlah peristiwa panas ekstrem di berbagai belahan dunia.

Jepang sendiri mencatat musim panas terpanas dalam sejarah pengamatan pada 2025. Kondisi tersebut menjadi bagian dari tren kenaikan suhu yang menjadi perhatian para peneliti dan lembaga meteorologi.

Meski demikian, satu peristiwa suhu tinggi tidak cukup untuk menjelaskan seluruh penyebab perubahan iklim. Analisis jangka panjang diperlukan untuk memahami hubungan antara tren pemanasan global dan kejadian cuaca tertentu.

Pentingnya Menjaga Kesehatan saat Cuaca Panas

Cuaca panas yang terjadi di luar kebiasaan dapat memengaruhi kenyamanan dan kesehatan masyarakat. Karena itu, menjaga asupan cairan, mengurangi aktivitas berat saat suhu tinggi, serta beristirahat di tempat yang sejuk menjadi langkah yang dapat membantu mengurangi risiko gangguan akibat panas.

Masyarakat juga perlu memperhatikan tanda-tanda gangguan akibat panas, seperti pusing, sakit kepala, mual, atau kelemahan yang tidak biasa. Jika mengalami keluhan tersebut, segera cari tempat yang lebih sejuk dan minta bantuan tenaga medis jika diperlukan.

Peristiwa suhu tinggi di Jepang pada akhir Oktober 2026 menjadi pengingat bahwa kondisi cuaca dapat berubah di luar pola yang biasa dirasakan masyarakat. Pemantauan informasi resmi dari otoritas meteorologi tetap penting untuk mengetahui perkembangan suhu dan kondisi cuaca setempat.

Berita internasional, informasi lingkungan, serta kabar terkini lainnya dapat dibaca melalui brtv.co.id.