
BRTV.CO.ID, KALIMANTAN – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menjadi persoalan serius di sejumlah wilayah Kalimantan hingga September 2026. Kondisi panas dan kering membuat titik api terus menjadi perhatian, sementara asap dari kebakaran berdampak terhadap kualitas udara dan kesehatan masyarakat.
Salah satu wilayah yang paling terdampak adalah Kalimantan Barat. Kota Pontianak dan sejumlah wilayah di sekitarnya masih menghadapi kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan.
Data yang dikutip Reuters menunjukkan kualitas udara di Pontianak sempat mencapai indeks 394, yang masuk kategori berbahaya. Kondisi tersebut terjadi ketika aktivitas kebakaran meningkat di sejumlah wilayah Kalimantan dan Sumatera.
Kondisi kabut asap di Pontianak juga masih terlihat dalam beberapa hari terakhir. Hujan yang turun di sejumlah wilayah memang membantu memperbaiki jarak pandang, tetapi asap belum sepenuhnya menghilang. Warga masih menggunakan masker untuk mengurangi paparan asap.
Karhutla Berdampak pada Kesehatan
Dampak karhutla tidak hanya dirasakan dari menurunnya kualitas udara. Paparan asap juga mulai meningkatkan kasus gangguan pernapasan di berbagai daerah.
Kementerian Kesehatan mencatat 113.336 orang mengalami gangguan pernapasan yang berkaitan dengan paparan asap kebakaran hingga 9 September 2026. Jumlah tersebut meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan 1 September yang tercatat sebanyak 50.891 kasus.
Lebih dari 12,5 juta masyarakat di tujuh provinsi disebut telah terpapar kabut asap. Pemerintah kemudian meningkatkan dukungan kesehatan, termasuk distribusi masker, konsentrator oksigen, serta pengerahan tenaga kesehatan ke wilayah terdampak.
Kondisi ini membuat masyarakat di daerah yang terdampak asap diminta lebih memperhatikan kualitas udara dan mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika konsentrasi asap meningkat.
Kondisi Cuaca Membuat Api Sulit Dikendalikan
Karhutla tahun ini juga dipengaruhi kondisi cuaca yang sangat kering. Fenomena super El Niño membuat suhu meningkat dan curah hujan berkurang di sejumlah wilayah.
Data dari layanan pemantauan iklim Copernicus yang dikutip Reuters menunjukkan emisi kebakaran Indonesia pada periode 1–7 September mencapai sekitar 19,7 juta ton, lebih dari sepertiga emisi kebakaran global pada periode tersebut.
Konsentrasi emisi tertinggi berada di wilayah Kalimantan dan Sumatera bagian timur. Musim kebakaran tahun ini bahkan disebut menjadi salah satu yang paling intens dalam lebih dari satu dekade.
Pemerintah juga menghadapi tantangan karena sebagian kebakaran terjadi di kawasan gambut. Api yang berada di bawah permukaan tanah dapat sulit terdeteksi dan membutuhkan penanganan khusus.
Jepang Turunkan Helikopter ke Kalimantan
Penanganan karhutla di Kalimantan kini juga mendapat dukungan dari Jepang.
Jepang mengirimkan tiga helikopter CH-47 Chinook untuk membantu operasi pemadaman kebakaran di Kalimantan Barat. Sebanyak sekitar 300 personel Jepang ikut dalam misi bantuan tersebut dengan kapal JS Kunisaki.
Helikopter tersebut akan mendukung operasi pemadaman dari udara atau water bombing. Bantuan ini menjadi bagian dari kerja sama penanganan bencana antara Indonesia dan Jepang.
Sebelumnya, Indonesia sendiri telah mengerahkan lebih dari 50 pesawat untuk membantu operasi pemadaman dari udara dan modifikasi cuaca. Ribuan personel juga dilibatkan dalam penanganan karhutla di darat.
Asap Berpotensi Berdampak ke Negara Tetangga
Persoalan kabut asap Kalimantan juga tidak hanya berdampak di dalam negeri. Asap dari kebakaran Indonesia dilaporkan telah meningkatkan kekhawatiran di sejumlah negara tetangga, termasuk Malaysia dan Singapura.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa penanganan karhutla membutuhkan kerja sama lintas wilayah dan tidak cukup hanya mengandalkan pemadaman ketika api sudah membesar.
Hingga saat ini, kondisi kebakaran di Kalimantan masih dinamis. Pemerintah dan aparat terus memantau titik panas, melakukan pemadaman dari darat dan udara, serta berupaya mencegah meluasnya kebakaran ke wilayah lain.
Bagi masyarakat, kewaspadaan tetap diperlukan. Ketika kabut asap kembali pekat, penggunaan masker dan pembatasan aktivitas di luar ruangan menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko paparan asap.
Karhutla di Kalimantan bukan hanya persoalan kebakaran hutan, tetapi juga menyangkut kesehatan masyarakat, kualitas udara, lingkungan, hingga hubungan Indonesia dengan negara-negara di kawasan.







