Skip to main content

BRTV

Mindfulness di Tengah Banjir Berita Buruk, Perlukah Kita Menjauh Sejenak?

Ilustrasi. Foto: Pinterest

Membuka ponsel pada pagi hari sering kali berarti berhadapan dengan berbagai kabar terbaru. Dalam hitungan menit, seseorang bisa membaca berita tentang bencana, kecelakaan, konflik, masalah ekonomi, hingga berbagai persoalan sosial.

Paparan informasi yang terus-menerus tersebut membuat sebagian orang memilih mengambil jarak. Salah satu cara yang belakangan banyak dibicarakan adalah mindfulness, yakni upaya untuk menyadari apa yang sedang terjadi dan mengarahkan perhatian pada kondisi saat ini.

Perbincangan mengenai mindfulness di tengah banyaknya berita buruk kembali muncul setelah unggahan aktris Maudy Ayunda tentang mindfulness in the age of bad news mendapat beragam tanggapan dari warganet.

Bukan berarti menutup mata dari kenyataan

Mindfulness kerap dikaitkan dengan ketenangan dan kemampuan mengelola perhatian. Namun, menerapkannya ketika menghadapi berita buruk bukan berarti seseorang harus menghindari seluruh informasi yang tidak menyenangkan.

Ada perbedaan antara mengambil jeda dari informasi dengan benar-benar mengabaikan keadaan di sekitar.

Mengurangi paparan berita untuk sementara dapat menjadi cara memberi ruang bagi pikiran ketika informasi yang diterima sudah terlalu banyak. Setelah kondisi lebih tenang, seseorang tetap dapat kembali memperoleh informasi dari sumber yang dapat dipercaya.

Mengapa berita buruk terasa melelahkan?

Otak manusia secara alami memperhatikan hal-hal yang dianggap penting atau mengancam. Karena itu, kabar buruk sering kali lebih mudah menarik perhatian dibandingkan informasi yang biasa saja.

Masalahnya, media sosial membuat informasi tersebut hadir tanpa henti. Satu berita dapat diikuti oleh unggahan lain, komentar, video, dan berbagai reaksi pengguna.

Jika berlangsung terus-menerus, kebiasaan tersebut dapat membuat seseorang merasa selalu harus mengikuti perkembangan terbaru.

Padahal, tidak semua informasi harus diketahui pada saat yang sama.

Mindfulness dapat dimulai dari hal sederhana

Menerapkan mindfulness tidak selalu membutuhkan waktu khusus yang panjang. Seseorang dapat memulainya dengan memperhatikan kebiasaan ketika menggunakan perangkat digital.

Misalnya, sebelum membuka media sosial, seseorang dapat bertanya kepada dirinya sendiri: apa yang ingin dicari dan berapa lama akan menggunakannya?

Ketika menemukan berita yang membuat tidak nyaman, tidak ada keharusan untuk langsung membaca seluruh komentar atau mengikuti setiap perkembangan.

Berhenti sejenak, menarik napas, kemudian menentukan apakah informasi tersebut memang perlu diketahui saat itu dapat menjadi langkah sederhana.

Tetap mengikuti berita juga penting

Mengurangi konsumsi berita bukan berarti sepenuhnya memutus hubungan dengan informasi. Berita tetap diperlukan agar masyarakat dapat memahami berbagai peristiwa yang terjadi di sekitarnya.

Yang perlu diperhatikan adalah cara seseorang mengonsumsi informasi.

Memilih sumber berita yang kredibel, membatasi waktu membaca berita, serta tidak terus-menerus mengikuti konten yang memicu kecemasan dapat membantu menciptakan pola konsumsi informasi yang lebih sehat.

Dengan begitu, mindfulness bukan digunakan untuk melarikan diri dari kenyataan, melainkan untuk menentukan bagaimana seseorang merespons informasi yang diterimanya.

Beri ruang untuk diri sendiri

Di tengah arus informasi yang bergerak cepat, mengambil jeda bukan berarti tidak peduli.

Ada kalanya seseorang memang membutuhkan waktu untuk beristirahat dari layar, melakukan aktivitas lain, berbicara dengan orang terdekat, atau sekadar menikmati suasana tanpa terus memeriksa kabar terbaru.

Pada akhirnya, menghadapi berita buruk membutuhkan keseimbangan. Tetap mengetahui apa yang terjadi penting, tetapi menjaga perhatian dan memberi waktu bagi diri sendiri untuk beristirahat juga tidak kalah penting. Mindfulness dapat menjadi salah satu cara untuk menemukan keseimbangan tersebut: tetap sadar terhadap dunia di sekitar, tanpa membiarkan arus berita menguasai seluruh perhatian.