
Kisah seorang penggemar sepak bola berusia lanjut di Como, Italia, menjadi gambaran bahwa usia bukan selalu penghalang untuk tetap aktif bergerak. Bruno Mandaglio, 78 tahun, diketahui rutin menggunakan sepeda untuk menghadiri pertandingan klub kesayangannya, Como 1907.
Kebiasaan tersebut bukan hanya menunjukkan kecintaannya terhadap sepak bola. Bersepeda juga termasuk aktivitas fisik yang dapat memberikan manfaat bagi kebugaran tubuh, termasuk kesehatan jantung.
Bersepeda Termasuk Olahraga Aerobik
Bersepeda merupakan salah satu bentuk aktivitas aerobik. Saat dilakukan, tubuh membutuhkan kerja sama antara jantung, paru-paru, dan pembuluh darah untuk memenuhi kebutuhan oksigen selama bergerak.
Aktivitas ini membuat frekuensi pernapasan dan denyut jantung meningkat. Jika dilakukan secara rutin dengan intensitas yang sesuai, bersepeda dapat membantu meningkatkan kebugaran tubuh secara keseluruhan.
Di wilayah Como, bersepeda juga telah menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari masyarakat. Tersedia berbagai jalur sepeda dengan tingkat kesulitan yang beragam, mulai dari rute santai hingga jalur yang membutuhkan kemampuan fisik lebih tinggi.
Apa Manfaat Bersepeda untuk Jantung?
Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, dr Emanoel Oepangat, SpJP(K), menjelaskan bahwa aktivitas bersepeda yang dilakukan secara rutin dapat membantu melatih otot jantung.
Tubuh yang terbiasa melakukan aktivitas fisik akan beradaptasi terhadap beban olahraga. Dengan latihan yang teratur, jantung juga menjadi lebih terlatih dalam menjalankan fungsinya.
Bersepeda juga melibatkan otot-otot tubuh bagian bawah, termasuk betis. Aktivitas otot tersebut turut mendukung pergerakan dan sirkulasi darah selama seseorang berolahraga.
Namun, manfaat tersebut akan lebih optimal jika olahraga dilakukan secara bertahap dan disesuaikan dengan kemampuan tubuh.
Jangan Langsung Mengayuh dengan Intensitas Tinggi
Meskipun bersepeda baik untuk kebugaran, bukan berarti semakin keras mengayuh maka semakin baik pula hasilnya.
Orang yang belum terbiasa berolahraga justru perlu berhati-hati ketika mencoba bersepeda dengan kecepatan atau intensitas tinggi. Memaksakan tubuh tanpa persiapan dapat membuat denyut jantung meningkat terlalu tinggi.
Salah satu cara untuk memperkirakan denyut jantung maksimal adalah menggunakan rumus sederhana, yaitu 220 dikurangi usia. Dari angka tersebut, intensitas olahraga kemudian dapat disesuaikan dengan kondisi dan kemampuan masing-masing individu.
Bagi orang yang jarang berolahraga, langsung melakukan aktivitas dengan intensitas mendekati denyut jantung maksimal dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan.
Konsistensi Lebih Penting daripada Memaksakan Diri
Bersepeda tidak harus selalu dilakukan dengan kecepatan tinggi atau jarak yang jauh. Bagi pemula maupun orang lanjut usia, aktivitas dapat dimulai dari intensitas ringan dan ditingkatkan secara bertahap.
Yang lebih penting adalah menjaga konsistensi aktivitas fisik sambil memperhatikan respons tubuh.
Jika muncul keluhan seperti nyeri dada, sesak napas yang tidak biasa, pusing, atau tubuh terasa sangat lemas ketika berolahraga, aktivitas sebaiknya dihentikan dan kondisi tersebut tidak boleh diabaikan.
Pada akhirnya, kebiasaan bersepeda seperti yang dilakukan Bruno Mandaglio menunjukkan bahwa aktivitas fisik dapat menjadi bagian dari gaya hidup hingga usia lanjut. Dengan intensitas yang tepat dan dilakukan secara rutin, bersepeda dapat menjadi salah satu pilihan olahraga untuk membantu menjaga kebugaran dan kesehatan jantung.







