
DEPOK, 19 Juni 2026 – Di tengah maraknya penggunaan gadget pada anak-anak, Arsip Ceria Event Organizer sukses menyelenggarakan Mantra Land 2026 di Mall Pesona Square, Kota Depok, Jumat (19/6). Kegiatan yang digagas mahasiswa semester 6 Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) Kampus Margonda ini menghadirkan edukasi budaya melalui berbagai permainan tradisional dan pertunjukan seni.
Gelaran tersebut mendapat apresiasi dari Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan, dan Pariwisata (Disporyata) Kota Depok, Eko Herwiyanto. Menurutnya, kegiatan seperti Mantra Land 2026 menjadi ruang belajar kreatif yang relevan di tengah masifnya penggunaan teknologi informasi yang kini juga menyasar anak-anak usia sekolah.
“Atas nama Pemerintah Kota Depok, saya memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada panitia karena telah berhasil menyiapkan acara dengan baik. Sebuah ruang belajar yang sangat kreatif dalam rangka pembudayaan permainan tradisional ini merupakan hal yang sangat positif di era sekarang,” ujar Eko Herwiyanto.
Ia menjelaskan bahwa kegiatan ini sejalan dengan Peraturan Daerah Kota Depok Nomor 3 Tahun 2023 tentang Kemajuan Kebudayaan, di mana permainan tradisional menjadi salah satu dari sepuluh objek pemajuan kebudayaan yang perlu terus dilestarikan dan diperkenalkan kepada generasi muda.
Selain sebagai sarana hiburan dan pelestarian budaya, Eko juga menilai permainan tradisional memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi cabang olahraga prestasi.
“Di samping sebagai permainan tradisional untuk melestarikan budaya, beberapa di antaranya juga memiliki cabang pertandingan. Adik-adik bisa menekuninya dan jika memiliki prestasi yang membanggakan, nantinya dapat mewakili Kota Depok dalam ajang yang lebih tinggi,” tambahnya.
Dukungan terhadap kegiatan ini juga disampaikan oleh Founder Traditional Games Return (TGR), Aghnina Wahdini. Menurutnya, anak-anak saat ini memiliki akses yang jauh lebih besar terhadap permainan digital dibandingkan permainan tradisional, sehingga kegiatan seperti Mantra Land 2026 menjadi penting sebagai sarana memperkenalkan kembali budaya lokal kepada generasi muda.
“Anak-anak sebenarnya bukan tidak mau bermain permainan tradisional, tetapi mereka tidak diperkenalkan. Kesempatan mereka mengenal permainan tradisional jauh lebih sedikit dibandingkan akses terhadap internet dan permainan digital,” ungkap Aghnina.
Sementara itu, Kepala Program Studi Ilmu Komunikasi UBSI, Intan Leliana, menilai kegiatan ini menjadi wadah bagi anak-anak untuk mengekspresikan kreativitas mereka melalui aktivitas yang edukatif dan menyenangkan.
Antusiasme peserta juga terlihat sepanjang kegiatan berlangsung. Naira dan Naila, dua peserta yang hadir, mengaku lebih senang bermain langsung bersama teman-temannya dibandingkan bermain menggunakan telepon genggam di rumah.
Melalui Mantra Land 2026, Arsip Ceria Event Organizer bersama Program Studi Ilmu Komunikasi UBSI Kampus Margonda berharap dapat terus mendorong pelestarian permainan tradisional melalui kolaborasi antara pemerintah, dunia pendidikan, komunitas, orang tua, dan masyarakat.







