BRTV

Tiga Hari di Aceh Tamiang

Perjalanan ini panjang.
Bukan hanya jaraknya, tetapi juga perasaannya.

Saya berangkat mewakili Apindo Kabupaten Bekasi, bersama relawan dari Persatuan Dokter Umum Indonesia, chapter Bekasi. Kami datang sebagai bagian dari tim Sosial Apindo Kabupaten BEkasi, membawa bantuan untuk Aceh Tamiang yang beberapa minggu sebelumnya diterjang banjir bandang besar.

Banjir itu datang setelah hujan deras yang terus mengguyur wilayah Aceh di akhir November 2025. Sungai meluap, arus menjadi tidak terkendali, dan dalam waktu singkat rumah-rumah hanyut. Jembatan terputus. Desa-desa lumpuh.

Saat kami tiba, kota itu terasa seperti kota yang sedang mencoba berdiri kembali, tetapi masih lelah.

Lumpur kering masih membekas di dinding rumah hingga mendekati atap. Ada rumah yang atapnya tampak sejajar dengan tanah, karena bagian bawahnya hilang terseret arus. Pagar-pagar roboh. Batang sawit dan kayu besar tersangkut di tembok. Di kanan kiri jalan, lumpur yang sudah mengering berubah menjadi debu yang beterbangan ketika angin datang.

Kami memilih pergi ke daerah-daerah yang jarang didatangi relawan. Jalannya berbatu, diapit pohon sawit dengan bekas lumpur setinggi lebih dari tiga meter di batangnya. Tanah berdebu, bekas longsoran banjir bandang masih jelas terlihat.

Hari Pertama

Hari pertama kami menuju area yang paling dekat dari base camp. Di sanalah kami bertemu keluarga-keluarga yang kehilangan rumah sepenuhnya akibat musibah ini.

Bukan rusak.
Bukan retak.
Tapi hilang.

Mereka kini tinggal di tenda-tenda sementara. Kami menurunkan bantuan: baju sekolah anak SD, SMP dan SMA, buku-buku dan alat tulis sekolah, Baju bayi, sajadah, celana panjang, daster dan alat shalat —karena mereka kehilangan baju-bajunya.

Malam hari kami menerima pesan dari salah satu perusahaan yang belum sempat utk ikut serta memberikan bantuan. Bantuan yang diberikan alangkah besarnya. Malam itu juga saya mendesign ulang banner dan mencari percetakan banner yang bisa selesai esok hari sebelum perjalanan kami.

Hari Kedua

Hari kedua lebih berat.
Sebelum ke pedalaman Aceh Tamiang, kami ke kota untuk mencari Amplop dan ATM untuk mencairkan uang yang baru dikirim. Saya harus turun naik mobil dengan masker kencang selalu terpasang karena debu tebal yang beterbangan untuk mencari ATM yang berfungsi, 4 lokasi ATM dan 7 mesin ATM sudah kami datangi tidak ada satupun ATM yang berfungsi, entah uangnya tidak ada, tidak ada sinyal atau uangnya tidak ada. Akhirnya saat hampir frustasi, kami menemukan ATM.

Kami memasukkan uang ke amplop dalam perjalan di jalan yang rusak di kanan kiri kebun sawit. Setelah 3 jam perjalanan di jalan rusak, sampai di lokasi Kami harus melewati jembatan sementara yang tidak bisa dilalui kendaraan. Bantuan harus dipanggul. Kardus-kardus diangkat di bahu.

Kami berjalan menembus debu dan jembatan yang goyang saat diinjak dengan bunyi berderit-derit.

Di sepanjang jalan, rumah-rumah rusak berat berdiri diam seperti saksi. Kayu-kayu besar dan batang sawit yang patah masih terdampar. Beberapa bagian jalan masih menyisakan sisa-sisa banjir.

Kami membawa bahan makan mentah utk dimasak bersama, lalu memasak bersama di camp pengungsian. Asap dari wajan panas naik perlahan. Anak-anak mulai mendekat. Untuk pertama kalinya sejak tiba, kami mendengar tawa kecil yang membuat hati terasa lebih ringan. kami makan bersama. Setelah memasak kami membagikan barang bantuan dan uang dalam amplop
Perjalanan terasa lebih panjang dari jaraknya sendiri.

Setelah selesai kami pergi ke tempat kedua, sebenarnya desa ini bertetangga yang dihubungkan oleh jembatan, karen banjir, desa ini terpisah. kami melewati jalan rusak mendaki dan menurun. sampai saya dan teman saya harus turun dari mobil dan berjalan mendaki sampai mendapati tanah landai. disana kami membagi barang bawaan dan uang kembali.

Hari Ketiga

Hari ketiga menjadi perjalanan yang berbeda.

Untuk mencapai desa berikutnya, kami harus menggunakan sampan. Jembatan permanen yang baru dibangun delapan bulan lalu putus diterjang banjir bandang. Infrastruktur yang seharusnya menjadi penghubung kini justru terbelah.

Bantuan dipindahkan dari kendaraan ke tepi sungai. Dari tepi sungai ke sampan. Lalu dari sampan kembali dipanggul menuju desa.

Melelahkan, ya.
Tapi tidak ada yang mengeluh.

Karena setiap kali bantuan sampai, kami melihat sesuatu yang sama: rasa syukur, pelukan hangat, dan mata anak-anak yang kembali berbinar saat menerima mainannya.

Perjalanan ini mengajarkan kami satu hal sederhana.

Banjir memang bisa menghanyutkan rumah, memutus jembatan, dan meninggalkan lumpur di setiap sudut kota.

Namun harapan tidak ikut hanyut.

Dan selama kita mau melangkah—meski harus memanggul, menyeberang, atau menyusuri sungai—kemanusiaan akan selalu menemukan jalannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

google-site-verification: google884c333897a2e291.html