
Kesehatan usus tidak hanya berkaitan dengan kelancaran pencernaan, tetapi juga dipengaruhi oleh makanan yang dikonsumsi setiap hari. Kebiasaan mengonsumsi makanan ultra-proses secara berlebihan dapat memberikan dampak kurang baik bagi saluran pencernaan.
Beberapa makanan bahkan terlihat biasa dan sering menjadi pilihan sehari-hari. Namun, jika terlalu sering dikonsumsi, kandungan bahan tambahan, gula, atau zat tertentu di dalamnya dapat mengganggu kondisi usus.
Berikut tujuh jenis makanan yang perlu diperhatikan.
1. Camilan dengan Pewarna Buatan
Permen, keripik, dan camilan olahan dengan warna sangat mencolok umumnya menggunakan pewarna makanan. Beberapa pewarna sintetis yang digunakan pada produk olahan menjadi perhatian karena konsumsi berlebihan dapat berdampak terhadap kesehatan pencernaan.
Selain rendah nutrisi, terlalu banyak mengonsumsi makanan jenis ini juga dapat membuat pola makan menjadi kurang seimbang.
Sebagai pilihan, camilan dapat diganti dengan makanan yang lebih bernutrisi seperti kacang-kacangan, biji-bijian, atau buah segar.
2. Protein Bar
Protein bar sering dipilih karena praktis dan mudah dibawa. Namun, tidak semua produk memiliki komposisi yang sama.
Sebagian protein bar mengandung gula alkohol dan berbagai bahan tambahan yang pada sebagian orang dapat memicu perut kembung atau gangguan pencernaan.
Jika ingin mendapatkan protein, makanan utuh seperti telur, ikan, lentil, atau produk susu tertentu dapat menjadi pilihan alternatif.
3. Sereal Sarapan Tinggi Gula
Sereal memang praktis untuk sarapan, tetapi beberapa produk mengandung gula tambahan dalam jumlah cukup tinggi.
Mengonsumsi makanan tinggi gula secara berlebihan dapat menyebabkan lonjakan kadar gula darah dan membuat energi lebih cepat naik turun. Karena itu, pilih sereal dengan kandungan gula lebih rendah dan serat lebih tinggi.
Oat utuh, misalnya, dapat dikombinasikan dengan buah segar dan biji chia untuk membuat menu sarapan yang lebih bernutrisi.
4. Produk dengan Pemanis Buatan
Pemanis buatan banyak ditemukan pada minuman rendah kalori, termasuk beberapa jenis minuman bersoda diet. Contohnya adalah sukralosa dan sakarin.
Penggunaan pemanis buatan masih terus diteliti, termasuk kemungkinan pengaruhnya terhadap keseimbangan mikrobiota usus. Karena itu, konsumsi produk dengan pemanis buatan sebaiknya tidak berlebihan.
Sebagai alternatif, air putih, teh herbal tanpa gula, atau air soda dengan tambahan perasan jeruk dapat menjadi pilihan.
5. Daging Olahan
Bacon, sosis, dan berbagai produk daging olahan merupakan makanan yang sebaiknya tidak dikonsumsi terlalu sering.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menggolongkan daging olahan sebagai karsinogen Grup 1 karena terdapat bukti yang mengaitkannya dengan kanker kolorektal.
Untuk memenuhi kebutuhan protein, konsumen dapat lebih sering memilih sumber protein yang minim proses, seperti ikan, telur, atau kacang-kacangan.
6. Saus yang Tinggi Gula
Saus tomat, saus barbeku, dan sejumlah saus salad kemasan dapat mengandung gula tambahan yang cukup tinggi.
Masalahnya, gula dari saus sering tidak terasa karena bercampur dengan rasa gurih atau asam dari makanan. Akibatnya, seseorang bisa mengonsumsi gula lebih banyak tanpa menyadarinya.
Untuk memberikan rasa pada makanan, Anda bisa menggunakan minyak zaitun, perasan lemon, rempah-rempah, atau membuat salsa sendiri dengan bahan segar.
7. Makanan yang Mengandung Banyak Pengemulsi
Pengemulsi merupakan bahan tambahan yang digunakan pada berbagai makanan olahan untuk membantu menjaga tekstur dan mencampurkan bahan yang sulit menyatu.
Salah satu contoh yang ditemukan pada beberapa produk adalah polysorbate 80. Bahan tersebut dapat digunakan dalam makanan seperti es krim dan produk makanan panggang komersial.
Penggunaan bahan tambahan dalam makanan perlu diperhatikan, terutama jika produk ultra-proses dikonsumsi terlalu sering. Sebagai alternatif, yogurt tawar, termasuk Greek yogurt, dapat menjadi pilihan camilan yang lebih sederhana.
Cara Menjaga Kesehatan Usus
Menjaga kesehatan usus tidak berarti harus menghindari seluruh makanan olahan. Hal yang lebih penting adalah memperhatikan frekuensi konsumsi dan menjaga pola makan tetap beragam.
Perbanyak makanan utuh seperti sayur, buah, kacang-kacangan, biji-bijian, serta sumber protein yang minim proses. Asupan serat dan cairan yang cukup juga penting untuk mendukung fungsi pencernaan.
Pada akhirnya, keseimbangan menjadi kunci. Makanan yang kurang baik bagi kesehatan usus sebaiknya tidak menjadi bagian dominan dari pola makan sehari-hari.







