BRTV

Mengenal Penyakit Ginjal Kronik yang Diam-Diam Mengancam Usia Produktif

Ilustrasi anatomi ginjal. Foto: Pinterest

Penyakit ginjal kronik (PGK) tidak hanya menjadi masalah kesehatan pada orang lanjut usia. Saat ini, penyakit tersebut juga mulai ditemukan pada kelompok usia produktif. Perubahan gaya hidup, pola makan yang kurang sehat, kurangnya aktivitas fisik, obesitas, diabetes, dan hipertensi menjadi sejumlah faktor yang dapat meningkatkan risiko gangguan ginjal.

Menurut Prof. Dr. dr. Endang Susalit, SpPD-KGH, FINASIM, penyakit ginjal kronik dapat muncul sejak usia muda. Penyakit ini berkembang secara perlahan sehingga seseorang sering kali tidak menyadari bahwa fungsi ginjalnya mulai mengalami penurunan.

Mengapa Disebut Silent Killer?

Penyakit ginjal kronik sering disebut sebagai silent killer karena pada tahap awal biasanya tidak menimbulkan gejala yang jelas. Ginjal masih mampu beradaptasi meskipun sebagian fungsinya telah menurun.

Seiring waktu, kerusakan dapat semakin berat. Ketika fungsi ginjal sudah jauh menurun, berbagai keluhan mulai muncul, seperti tekanan darah meningkat, gangguan buang air kecil, anemia, serta pembengkakan pada kaki atau perut.

Jika tidak ditangani sejak dini, penyakit ini dapat berkembang menjadi gagal ginjal. Pada kondisi tertentu, pasien akhirnya membutuhkan terapi pengganti fungsi ginjal seperti cuci darah atau transplantasi.

Gaya Hidup Menjadi Salah Satu Faktor Risiko

Meningkatnya kasus penyakit ginjal pada usia produktif berkaitan erat dengan perubahan kebiasaan hidup. Kemudahan memperoleh makanan dapat membuat seseorang lebih sering makan, terutama makanan yang mengandung banyak gula dan garam.

Pola makan yang tidak seimbang, ditambah kurangnya aktivitas fisik, dapat menyebabkan berat badan berlebih. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat meningkatkan kemungkinan seseorang mengalami hipertensi dan diabetes.

Hipertensi dan diabetes sendiri merupakan faktor penting yang dapat menyebabkan kerusakan ginjal. Karena itu, menjaga berat badan, mengatur pola makan, dan rutin beraktivitas fisik menjadi langkah penting untuk mempertahankan kesehatan ginjal.

Lima Tahap Penurunan Fungsi Ginjal

Penyakit ginjal kronik dapat dibagi menjadi lima tahap berdasarkan tingkat fungsi ginjal.

Pada tahap pertama, fungsi ginjal masih lebih dari 90 persen sehingga gangguan yang terjadi tergolong ringan dan sering belum menimbulkan gejala.

Tahap kedua menunjukkan fungsi ginjal mulai menurun, tetapi masih berada di atas 60 persen. Selanjutnya, tahap ketiga berada pada kisaran 30–60 persen dan menunjukkan penurunan fungsi yang semakin nyata.

Pada tahap keempat, fungsi ginjal telah turun sekitar 15–30 persen. Sementara itu, tahap kelima terjadi ketika fungsi ginjal berada di bawah 15 persen. Kondisi ini sudah termasuk gagal ginjal dan dapat membutuhkan terapi pengganti fungsi ginjal.

Namun, tidak semua penderita penyakit ginjal kronik harus langsung menjalani cuci darah. Jika penyakit diketahui sejak awal, pengobatan dapat diarahkan untuk mengatasi penyebabnya dan memperlambat kerusakan ginjal.

Pilihan Pengobatan pada Gagal Ginjal

Ketika penyakit sudah mencapai tahap akhir, terdapat beberapa pilihan terapi. Salah satunya adalah hemodialisis atau yang lebih dikenal sebagai cuci darah. Prosedur ini menggunakan mesin untuk membantu membersihkan darah dari zat sisa dan kelebihan cairan.

Selain hemodialisis, terdapat dialisis peritoneal yang memanfaatkan selaput di dalam rongga perut sebagai penyaring. Pilihan lainnya adalah transplantasi ginjal dengan menggunakan ginjal dari donor yang sesuai.

Transplantasi dapat membuat pasien tidak lagi bergantung pada mesin dialisis. Namun, penerima transplantasi tetap membutuhkan obat-obatan untuk menjaga agar ginjal donor dapat berfungsi dengan baik.

Pentingnya Deteksi Sejak Dini

Karena penyakit ginjal kronik sering tidak menunjukkan gejala pada tahap awal, pemeriksaan kesehatan menjadi hal yang penting. Pemeriksaan urine dapat digunakan untuk mengetahui adanya kelainan pada ginjal.

Jika ditemukan masalah, dokter dapat melakukan pemeriksaan lanjutan, termasuk pemeriksaan kadar kreatinin untuk menilai fungsi ginjal. Pemeriksaan ultrasonografi (USG) juga dapat dilakukan untuk melihat kondisi organ ginjal.

Pengendalian tekanan darah dan kadar gula darah sangat penting bagi orang yang memiliki faktor risiko. Pola makan dan asupan cairan maupun protein juga perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing.

Dengan pemeriksaan secara berkala dan penerapan gaya hidup sehat, gangguan ginjal dapat diketahui lebih cepat. Penanganan sejak tahap awal juga dapat membantu memperlambat penurunan fungsi ginjal dan mengurangi risiko berkembang menjadi gagal ginjal.