Skip to main content

BRTV

Cara Baru Way Kambas Menjaga Gajah Sumatera, Tak Hanya Andalkan Pagar

Ilustrasi gajah sumatera. Foto: Pinterest

Menjaga gajah Sumatera di Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Lampung Timur, ternyata tidak cukup hanya dengan membangun pagar.

Di balik berbagai pembatas yang dibangun di kawasan konservasi seluas sekitar 125.000 hektare itu, ada pendekatan yang lebih luas. Habitat gajah diperhatikan, sumber air disediakan, pergerakan satwa dipantau, sementara masyarakat di sekitar kawasan turut dilibatkan.

Cara ini menjadi bagian dari upaya mengurangi konflik antara gajah Sumatera dan manusia yang selama ini menjadi salah satu tantangan dalam pengelolaan TNWK.

Ketua Komite Gabungan Mitigasi dan Penanganan Interaksi Negatif Gajah Sumatra di TNWK, Brigjen TNI Sriyanto, mengatakan infrastruktur hanyalah salah satu bagian dari sistem perlindungan.

Menurutnya, pagar sekuat apa pun tidak akan menyelesaikan persoalan apabila kebutuhan satwa dan kondisi masyarakat di sekitar kawasan tidak ikut diperhatikan.

Pagar yang Dibuat Mengikuti Perilaku Gajah

Di sejumlah perbatasan kawasan, pembatas memang tetap dibangun. Namun, bentuknya tidak dibuat sembarangan.

Konstruksi dirancang dengan mempertimbangkan kemampuan fisik gajah sekaligus kondisi lingkungan yang rawan banjir dan erosi.

Pembatas memiliki tinggi minimal dua meter di atas permukaan air ketika terjadi banjir atau pasang. Kemiringannya sekitar 60 derajat agar gajah tidak mudah memanjat.

Material beton bertulang juga dipilih untuk menghasilkan struktur yang mampu menahan beban gajah jantan yang beratnya dapat mencapai sekitar lima ton.

Fondasi pembatas diperkuat dengan pasangan batu untuk mengurangi dampak erosi akibat arus sungai ketika musim banjir.

Secara keseluruhan, pembangunan infrastruktur pembatas di TNWK memiliki skala cukup besar. Pagar pipa baja mencapai sekitar 19,6 kilometer, sedangkan kanal dan tanggul dengan dinding beton pracetak mencapai lebih dari 23 kilometer.

Ada pula kanal dan tanggul biasa sepanjang sekitar 76,5 kilometer, pagar H-Beam berlistrik sekitar 18,4 kilometer, serta pagar H-Beam tanpa listrik sepanjang sekitar 22,9 kilometer.

Gajah Juga Butuh Rumah yang Nyaman

Namun, persoalan gajah Sumatera ternyata bukan hanya bagaimana mencegah satwa keluar dari kawasan.

Gajah yang tidak mendapatkan cukup makanan, air, dan ruang hidup tentu akan terus bergerak mencari kebutuhan tersebut.

Karena itu, TNWK juga menyiapkan berbagai fasilitas pendukung habitat.

Sebanyak 46 shelter untuk gajah jantan dan delapan shelter bagi gajah betina disiapkan. Ada pula 58 bak air minum yang tersebar untuk mendukung kebutuhan satwa.

Sebanyak 20.000 bibit serai merah juga ditanam sebagai bagian dari pengelolaan habitat.

Pendekatan tersebut memperlihatkan perubahan cara pandang dalam menangani konflik. Gajah tidak hanya dianggap sebagai satwa yang harus dibatasi pergerakannya, tetapi juga sebagai satwa yang kebutuhan hidupnya harus dipenuhi di dalam kawasan.

Masyarakat Ikut Mendapat Manfaat

Menariknya, upaya menjaga gajah juga mulai dikaitkan dengan kehidupan masyarakat sekitar.

Salah satunya melalui pengembangan koloni lebah. Masyarakat mendapatkan kotak lebah untuk dikembangkan sehingga program konservasi sekaligus dapat membuka peluang ekonomi.

Jumlah kotak lebah yang sebelumnya sekitar 900 unit diproyeksikan meningkat menjadi sekitar 1.500 unit.

Cara tersebut diharapkan menciptakan hubungan yang lebih positif antara masyarakat dan kawasan konservasi.

Artinya, masyarakat tidak hanya diminta menjaga jarak dari gajah, tetapi juga diberikan kesempatan untuk memperoleh manfaat ekonomi dari aktivitas yang mendukung konservasi.

Kenapa Gajah Sering Berkonflik dengan Manusia?

Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Satyawan Pudyatmoko mengatakan persoalan konflik manusia dan gajah juga berkaitan dengan perubahan ruang hidup satwa.

Pertumbuhan permukiman dan aktivitas pertanian di sekitar kawasan membuat ruang yang dahulu menjadi habitat atau jalur pergerakan gajah kini beririsan dengan aktivitas manusia.

Akibatnya, pertemuan antara gajah dan manusia dapat terjadi ketika satwa keluar dari kawasan konservasi.

Karena itu, penanganan konflik tidak cukup dilakukan dengan menghalau gajah kembali ke dalam hutan. Kondisi habitat di dalam kawasan juga perlu dijaga agar kebutuhan satwa tetap tersedia.

Pantau Gajah dengan Teknologi

Way Kambas juga memperkuat pengawasan kawasan dengan berbagai fasilitas.

Sebanyak 15 pos pantau beton dan 10 pos pantau modular dua lantai disiapkan. Pengawasan dilengkapi menara pandang setinggi 43 meter serta empat pintu gerbang gading.

Petugas juga didukung 15 drone, empat kapal patroli, 30 sepeda motor trail, empat kendaraan double cabin 4×4, dan satu kendaraan roda empat.

Ke depan, teknologi digital dan kecerdasan buatan juga diarahkan untuk membantu memantau pergerakan gajah dan kondisi satwa.

Dengan sistem ini, petugas diharapkan bisa mengetahui pergerakan gajah lebih awal sehingga penanganan tidak selalu menunggu sampai konflik terjadi.

Way Kambas Menata Ulang Cara Menjaga Gajah

Pembangunan infrastruktur pendukung juga terus dilakukan. Di antaranya matras beton sepanjang sekitar 53,8 kilometer, perkerasan jalan tanggul sekitar 21,5 kilometer, tujuh jembatan ARMCO, serta jalan akses sepanjang hampir 39 kilometer.

Ke depan, sejumlah program lain disiapkan, seperti pengembangan Dapur Gajah, pembangunan PKG Command Center, perubahan rumah peneliti menjadi klinik gajah, integrasi seksi gajah dengan Elephant Response Unit (ERU), hingga pembangunan jembatan tambahan.

Semua upaya tersebut menunjukkan bahwa menjaga gajah Sumatera di Way Kambas bukan hanya soal membangun pagar.

Ada habitat yang harus dipelihara, kebutuhan satwa yang perlu dipenuhi, pergerakan yang harus dipantau, serta masyarakat yang juga harus mendapatkan ruang untuk hidup dan berkembang. Pada akhirnya, keberhasilan konservasi bukan hanya ketika gajah tetap berada di dalam kawasan. Yang tidak kalah penting adalah bagaimana manusia dan gajah bisa berbagi ruang dengan risiko konflik yang semakin kecil.