Skip to main content

BRTV

The Fed Naikkan Suku Bunga, Ini Strategi BI Menjaga Rupiah

Ilustrasi rupiah. Foto: Pinterest

Pergerakan rupiah kembali menjadi perhatian setelah bank sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve atau The Fed, menaikkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin (bps).

Kenaikan tersebut membawa suku bunga The Fed ke kisaran 3,75 persen hingga 4,00 persen. Kebijakan ini menjadi salah satu faktor yang berpotensi memberikan tekanan terhadap rupiah karena dapat membuat dollar AS tetap menarik bagi investor.

Di tengah kondisi tersebut, Bank Indonesia (BI) memiliki sejumlah langkah untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

BI Diperkirakan Tahan Suku Bunga

Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, memperkirakan BI masih akan mempertahankan suku bunga acuannya dalam waktu dekat.

Menurut Rully, intervensi di pasar valuta asing (valas) kemungkinan tetap menjadi salah satu strategi utama BI untuk meredam tekanan terhadap rupiah.

Langkah tersebut dinilai dapat dilakukan dengan relatif cepat sehingga BI bisa menyesuaikannya dengan kondisi pasar.

Selain intervensi valas, BI juga dapat memanfaatkan instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Penggunaan instrumen tersebut berpotensi diperkuat apabila tekanan terhadap rupiah semakin besar.

Rully memperkirakan penguatan penggunaan SRBI dapat dilakukan apabila nilai tukar rupiah bergerak melemah hingga menembus kisaran Rp17.850-Rp17.900 per dollar AS.

Kenaikan BI Rate Jadi Opsi Berikutnya

BI juga masih memiliki pilihan untuk menaikkan suku bunga acuan apabila tekanan terhadap rupiah semakin kuat.

Suku bunga BI Rate diperkirakan dapat dinaikkan hingga 6 persen jika kondisi pasar membutuhkan respons yang lebih kuat. Namun, perubahan suku bunga memiliki dampak yang lebih luas sehingga menjadi salah satu pilihan yang dapat digunakan ketika instrumen lainnya belum cukup meredam tekanan.

Untuk sementara, perkembangan nilai tukar akan menjadi salah satu pertimbangan penting bagi BI dalam menentukan kebijakan.

Aktivitas lelang SRBI sendiri tercatat mengalami penurunan. Pada Juli 2026, lelang SRBI dilakukan sebanyak delapan kali. Jumlah tersebut turun menjadi tiga kali pada Agustus dan baru satu kali hingga September 2026.

Kondisi tersebut membuat intervensi di pasar valas diperkirakan masih menjadi instrumen penting yang dapat digunakan BI untuk menjaga stabilitas rupiah.

Rupiah Sempat Menguat

Di tengah perhatian pasar terhadap kenaikan suku bunga The Fed, rupiah justru bergerak menguat pada awal perdagangan Jumat (18/9/2026).

Data Bloomberg menunjukkan rupiah berada di level Rp17.731 per dollar AS pada pukul 09.18 WIB. Posisi tersebut menguat 22 poin atau 0,12 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di level Rp17.753 per dollar AS.

Pada saat yang sama, indeks dollar AS atau DXY yang mengukur kekuatan dollar terhadap enam mata uang utama dunia juga bergerak tipis melemah.

DXY tercatat berada di level 100,237 pada pukul 09.00 WIB, turun 0,01 persen.

Pergerakan rupiah selanjutnya masih akan dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk arah kebijakan moneter AS dan kondisi pasar keuangan global.

Menanti Keputusan BI

Perhatian pasar selanjutnya akan tertuju pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI yang dijadwalkan berlangsung pada 22-23 September 2026.

Rully memperkirakan BI masih akan mempertahankan suku bunga acuannya dalam rapat tersebut. Sementara itu, perkembangan nilai tukar rupiah akan menjadi salah satu indikator penting dalam menentukan langkah kebijakan berikutnya.

Kebijakan The Fed juga menjadi perhatian karena keputusan suku bunga AS dapat memengaruhi pergerakan dollar, arus modal, dan pasar keuangan negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.

Dengan berbagai instrumen yang tersedia, BI dapat menyesuaikan kebijakannya berdasarkan perkembangan rupiah dan kondisi pasar secara keseluruhan.