
KUALA LUMPUR — Islamic Tourism Centre atau ITC, lembaga di bawah Kementerian Pariwisata, Seni, dan Budaya Malaysia, mendorong penerapan kerangka Muslim-Friendly Tourism and Hospitality Assurance and Recognition atau MFAR di tingkat internasional.
Langkah ini ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman atau MoU antara ITC dengan dua lembaga sertifikasi halal internasional dalam ajang Global Halal Summit atau GHS 2026 di Kuala Lumpur.
Kedua lembaga tersebut yakni FAMBRAS Halal dari Brasil dan Korea Muslim Federation atau KMF dari Korea Selatan.
Direktur Jenderal ITC, Mohammad Faisal Abu Suaib Khan, mengatakan kerja sama tersebut ditujukan untuk memperluas pengenalan kerangka MFAR di luar Malaysia.
Melalui kemitraan ini, FAMBRAS Halal dan KMF akan turut memperkenalkan MFAR di negara masing-masing melalui kegiatan edukasi, seminar, pelatihan, dan promosi bersama.
Menurut ITC, saat ini lebih dari 500 unit usaha dan layanan di Malaysia telah terdaftar dalam skema layanan ramah Muslim. Angka tersebut mencakup 390 pemandu wisata, 73 hotel, 39 agen perjalanan, dan 11 pusat spa.
Kerangka MFAR dikembangkan ITC bersama Jabatan Kemajuan Islam Malaysia atau JAKIM, Departemen Standar Malaysia, akademisi, serta pelaku industri.
Skema ini dirancang untuk melengkapi standar sertifikasi halal dengan memperhatikan kebutuhan wisatawan Muslim, antara lain fasilitas ibadah, privasi, keramahan keluarga, dan aspek keberlanjutan.
ITC juga menyebut sejumlah jaringan hotel internasional telah mengadopsi kerangka tersebut.
Selain Brasil dan Korea Selatan, Indonesia, Rusia, dan Taiwan disebut menunjukkan ketertarikan terhadap panduan wisata ramah Muslim tersebut.
Potensi pasar wisata Muslim
Pengembangan ekosistem wisata ramah Muslim sejalan dengan pertumbuhan pasar perjalanan Muslim global.
Berdasarkan State of the Global Islamic Economy Report 2025/26, pengeluaran wisatawan Muslim tercatat sekitar US$249 miliar pada 2024 dan diproyeksikan mencapai US$424 miliar pada 2029.
Di Malaysia, jumlah wisatawan Muslim pada 2025 mencapai 9,7 juta orang, berdasarkan data yang disampaikan otoritas pariwisata Malaysia. Pemerintah Malaysia memproyeksikan jumlah tersebut meningkat menjadi sekitar 15 juta wisatawan Muslim pada 2030.
Sementara itu, ITC berencana membangun basis data global yang memuat penyedia layanan pariwisata yang telah mendapatkan pengakuan MFAR.
Basis data tersebut ditujukan untuk membantu wisatawan Muslim memperoleh informasi mengenai layanan ramah Muslim saat merencanakan perjalanan internasional.







