
Pemerintah resmi meluncurkan bahan bakar biodiesel B50 sebagai bagian dari upaya memperkuat transisi energi nasional dan meningkatkan ketahanan energi Indonesia. Peresmian dilakukan Presiden Prabowo Subianto pada Kamis (9/7), sebagai langkah lanjutan dalam pemanfaatan energi baru terbarukan berbasis minyak sawit.
Meski kandungan biodiesel dalam bahan bakar meningkat menjadi 50%, harga Biosolar B50 bagi masyarakat penerima subsidi tetap dipatok sebesar Rp6.800 per liter. Pemerintah memastikan peluncuran bahan bakar minyak (BBM) B50 tidak mengubah harga jual Bio Solar bersubsidi sehingga masyarakat tetap dapat memperoleh bahan bakar dengan harga yang sama. Pemerintah memberikan waktu 2 bulan bagi SPBU untuk menghabiskan stok BBM B40, sebelum diganti dengan BBM B50.
Peluncuran biodiesel B50 ditargetkan mampu mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan bakar minyak (BBM). Selain itu, peningkatan pemanfaatan biodiesel berbahan baku minyak sawit juga diharapkan dapat memperkuat ketahanan energi nasional, sekaligus meningkatkan penyerapan produksi kelapa sawit dalam negeri.
Pemerintah menilai implementasi Biodiesel B50 akan memberikan manfaat bagi sektor energi nasional melalui penguatan bauran energi, efisiensi penggunaan energi fosil, serta peningkatan nilai tambah industri hilir kelapa sawit. Kebijakan ini menjadi salah satu strategi pemerintah dalam mendorong kemandirian energi dan mengurangi ketergantungan terhadap energi impor.







