Skip to main content

BRTV

WNA Diduga Konsumsi Penyu di Raja Ampat, Ini Alasan Penyu Tidak Boleh Dimakan

Ilustrasi penyu. Foto: Pinterest

 Kasus dugaan perburuan dan konsumsi penyu kembali menjadi perhatian setelah seorang warga negara asing (WNA) asal China berinisial WS diamankan di kawasan perairan Piaynemo, Raja Ampat, Papua Barat Daya.

WS diduga melakukan perburuan liar sebelum mengonsumsi penyu. Ia ditangkap pada Senin (14/9/2026). Peristiwa tersebut kembali mengingatkan pentingnya perlindungan terhadap satwa laut yang populasinya menghadapi berbagai ancaman.

Penyu termasuk satwa yang mendapatkan perlindungan di Indonesia. Ancaman terhadap keberadaannya antara lain berasal dari perburuan, perdagangan, serta kerusakan habitat.

Penyu merupakan bagian penting ekosistem Raja Ampat

Raja Ampat dikenal sebagai salah satu kawasan wisata bahari dengan kekayaan hayati yang tinggi. Selain memiliki terumbu karang dan berbagai biota laut, wilayah ini juga menjadi habitat penting bagi sejumlah spesies penyu laut.

Kementerian Pariwisata mengingatkan bahwa wisatawan yang datang ke Raja Ampat wajib menjaga kelestarian lingkungan. Aktivitas seperti memburu satwa dilindungi, mengambil atau melukai biota laut, membunuh satwa, merusak terumbu karang, maupun tindakan lain yang dapat mengganggu ekosistem tidak diperbolehkan.

Pemerintah menilai kekayaan alam Raja Ampat harus dijaga sebagai bagian dari aset lingkungan Indonesia. Karena itu, kegiatan wisata seharusnya dilakukan dengan tetap memperhatikan kelestarian ekosistem.

Mengapa penyu tidak boleh dikonsumsi?

Larangan mengonsumsi penyu tidak hanya berkaitan dengan statusnya sebagai satwa yang dilindungi. Dari sisi kesehatan, daging penyu juga memiliki potensi risiko bagi manusia.

Pakar gizi Universitas Andalas (Unand) Padang, Dr Masrul, menjelaskan bahwa daging penyu berpotensi mengandung zat pencemar, termasuk logam berat.

Risiko tersebut berkaitan dengan karakteristik penyu yang hidup di laut, berpindah dari satu wilayah ke wilayah lain, dan memiliki usia hidup yang panjang. Dalam kondisi tertentu, penyu dapat terpapar lingkungan laut yang tercemar dalam waktu lama.

Pencemar yang masuk ke lingkungan kemudian dapat terakumulasi melalui makanan yang dikonsumsi penyu. Kondisi inilah yang membuat daging penyu berpotensi membawa zat yang membahayakan kesehatan manusia.

Meski demikian, Masrul menjelaskan bahwa tidak setiap penyu secara otomatis menyebabkan gangguan kesehatan. Namun, terdapat kemungkinan adanya individu penyu yang mengandung zat berbahaya dalam jumlah yang dapat menimbulkan dampak serius apabila dikonsumsi.

Atas pertimbangan kesehatan tersebut, masyarakat disarankan tidak menjadikan penyu sebagai bahan pangan.

Wisatawan diminta ikut menjaga penyu

Kasus di Raja Ampat menjadi pengingat bahwa aktivitas wisata tidak hanya berkaitan dengan menikmati keindahan alam. Wisatawan juga memiliki tanggung jawab untuk menjaga satwa dan lingkungan di destinasi yang dikunjungi.

Khusus di kawasan konservasi dan habitat satwa dilindungi, wisatawan perlu mematuhi aturan yang berlaku. Tidak menangkap, membeli, membawa, melukai, maupun mengonsumsi satwa dilindungi merupakan bagian dari upaya menjaga keberlangsungan ekosistem.

Dengan perlindungan yang konsisten, penyu dapat tetap menjalankan perannya dalam ekosistem laut sekaligus menjadi bagian dari kekayaan hayati yang dapat dinikmati generasi mendatang.