
Sejumlah siswa di Kota Blitar dilaporkan mengalami mual dan muntah setelah menyantap menu Makanan Bergizi Gratis (MBG). Peristiwa yang terjadi pada 17 September 2026 tersebut diduga berkaitan dengan adanya kandungan arsenik dalam makanan.
Setidaknya 22 siswa dari SLB dan SMP swasta di wilayah Kepanjenkidul mengalami keluhan kesehatan. Setelah mendapat penanganan medis, kondisi para siswa berangsur membaik dan mereka telah diperbolehkan pulang.
Koordinator Wilayah Badan Gizi Nasional (BGN) Kota Blitar, Titik Nur Azizah, mengatakan terdapat dugaan paparan arsenik pada makanan yang dikonsumsi para siswa. Salah satu kemungkinan yang masih ditelusuri adalah kontaminasi pestisida dari bahan pangan.
Meski demikian, penyebab tersebut belum dapat dipastikan. Sampel makanan telah dikirim ke Surabaya untuk menjalani pemeriksaan laboratorium.
Apa Itu Arsenik?
Arsenik merupakan unsur yang secara alami terdapat di kerak bumi. Zat ini dapat ditemukan di berbagai lingkungan, termasuk tanah, air, dan udara.
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), arsenik dalam bentuk anorganik tergolong sangat beracun. Paparan dapat terjadi melalui berbagai jalur, salah satunya konsumsi makanan atau air yang telah terkontaminasi.
Paparan arsenik juga dapat berkaitan dengan aktivitas industri maupun kondisi lingkungan tertentu.
Dampak terhadap tubuh bergantung pada kadar dan lamanya seseorang terpapar. Paparan dalam jumlah tinggi dalam waktu singkat dapat menyebabkan gangguan kesehatan akut, sedangkan paparan dalam jangka panjang dapat menimbulkan masalah kesehatan yang lebih serius.
Salah satu dampak yang dikenal dalam paparan arsenik anorganik kronis adalah munculnya perubahan atau lesi pada kulit. Paparan jangka panjang juga dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker, termasuk kanker kulit.
Dari Mana Arsenik Bisa Berasal?
Dugaan adanya arsenik dalam menu MBG di Blitar masih membutuhkan pembuktian melalui pemeriksaan laboratorium.
Guru Besar Teknik Pangan IPB, Nuri Andarwulan, menekankan pentingnya mengetahui secara spesifik bahan makanan mana yang memiliki kandungan arsenik sebelum menentukan sumber kontaminasi.
Menurutnya, pemeriksaan perlu memastikan apakah zat tersebut ditemukan pada nasi, sayuran, lauk, atau buah yang menjadi bagian dari menu.
Arsenik secara alami dapat ditemukan pada sejumlah bahan pangan dalam kadar tertentu. Nasi, misalnya, dapat mengandung arsenik karena tanaman padi menyerap unsur tersebut dari lingkungan tempat tumbuhnya.
Namun, keberadaan arsenik pada suatu bahan pangan tidak otomatis berarti makanan tersebut menyebabkan keracunan. Tingkat kandungan, jenis arsenik, jumlah yang dikonsumsi, serta durasi paparan menjadi faktor penting dalam menentukan risikonya.
Hasil Laboratorium Jadi Penentu
Dalam kasus siswa di Blitar, dugaan kandungan arsenik masih harus dibuktikan melalui pemeriksaan laboratorium.
Pemeriksaan tersebut penting untuk mengetahui apakah memang terdapat arsenik dalam makanan, berapa konsentrasinya, serta bahan makanan mana yang menjadi sumbernya.
Hasil pemeriksaan juga diperlukan untuk memastikan apakah keluhan yang dialami para siswa benar-benar berkaitan dengan paparan arsenik atau terdapat penyebab lain.
Karena itu, masyarakat sebaiknya tidak langsung menarik kesimpulan sebelum hasil pemeriksaan resmi keluar.
Sementara proses penyelidikan berlangsung, keamanan makanan tetap menjadi hal yang perlu diperhatikan, terutama dalam penyediaan makanan untuk anak-anak di lingkungan sekolah.







