Skip to main content

BRTV

Asia Tenggara Mulai Melirik Energi Nuklir, Bagaimana dengan Indonesia?

Ilustrasi pembangkit listrik tenaga nuklir. Foto: Pinterest

Sejumlah negara di Asia Tenggara mulai kembali memasukkan energi nuklir ke dalam rencana pemenuhan kebutuhan listrik. Langkah ini muncul ketika permintaan energi terus meningkat, sementara negara-negara di kawasan juga menghadapi tuntutan untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil.

Pertumbuhan industri, penggunaan kendaraan listrik, serta pembangunan pusat data menjadi beberapa faktor yang mendorong peningkatan kebutuhan listrik di kawasan Asia Tenggara.

Hingga saat ini, belum ada negara di Asia Tenggara yang mengoperasikan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) secara komersial. Namun, beberapa pemerintah mulai menghidupkan kembali rencana pengembangan nuklir yang sebelumnya tertunda.

Sejumlah Negara Mulai Menyiapkan Program Nuklir

Vietnam menjadi salah satu negara yang kembali serius mengembangkan energi nuklir. Pada September 2026, perusahaan energi milik negara Petrovietnam menjalin kerja sama dengan perusahaan Korea Selatan, KEPCO, untuk memperdalam rencana pembangunan PLTN Ninh Thuan 2.

Vietnam menargetkan dua PLTN di Ninh Thuan dapat beroperasi pada 2035. Negara tersebut juga berencana mengembangkan setidaknya satu proyek reaktor modular kecil atau Small Modular Reactor (SMR).

Singapura juga mulai mengkaji kemungkinan pemanfaatan energi nuklir. Pemerintah negara tersebut menyatakan masih terbuka terhadap berbagai opsi, termasuk teknologi SMR, meskipun belum mengambil keputusan untuk membangun PLTN.

Thailand pun memasukkan rencana pengembangan SMR dalam rancangan ketenagalistrikan terbarunya. Sementara Malaysia masih berada dalam tahap kajian mengenai kemungkinan pemanfaatan energi nuklir.

Bagaimana Rencana Indonesia?

Indonesia juga mulai menyiapkan kapasitas pembangkit listrik berbasis nuklir.

Rencana awal Indonesia mencakup pembangunan kapasitas nuklir sekitar 500 megawatt (MW). Unit pertama ditargetkan dapat mulai beroperasi pada 2032.

Indonesia juga disebut lebih banyak mempertimbangkan penggunaan teknologi SMR. Teknologi tersebut memiliki kapasitas lebih kecil dibandingkan reaktor konvensional sehingga secara konsep dapat dikembangkan secara bertahap.

Meski demikian, pembangunan PLTN bukan perkara sederhana. Selain membutuhkan investasi besar, Indonesia harus menyiapkan berbagai aspek pendukung seperti regulasi, sumber daya manusia, sistem keselamatan, pengelolaan limbah radioaktif, hingga mekanisme penanganan keadaan darurat.

Mengapa Nuklir Kembali Dipertimbangkan?

Minat terhadap energi nuklir di Asia Tenggara sempat meredup setelah kecelakaan nuklir Fukushima di Jepang pada 2011. Sejumlah rencana pembangunan PLTN di kawasan kemudian mengalami penundaan.

Situasi energi global dalam beberapa tahun terakhir membuat pembahasan mengenai nuklir kembali mengemuka.

Menurut data Badan Energi Internasional (IEA), produksi listrik di Asia Tenggara meningkat sekitar 60 persen sejak 2015. Batu bara menjadi salah satu sumber utama pertumbuhan tersebut.

Di sisi lain, kebutuhan listrik kawasan diperkirakan tetap meningkat. Pada periode 2026-2030, permintaan listrik Asia Tenggara diproyeksikan tumbuh rata-rata sekitar 5,3 persen setiap tahun.

Kondisi tersebut membuat pemerintah harus mencari sumber listrik yang mampu memenuhi kebutuhan energi sekaligus mendukung target pengurangan emisi.

SMR Menjadi Alternatif yang Dipertimbangkan

Perkembangan teknologi SMR turut mengubah pembahasan mengenai energi nuklir.

Berbeda dengan PLTN konvensional yang umumnya memiliki kapasitas sangat besar dan membutuhkan investasi awal serta waktu pembangunan yang panjang, SMR dirancang dalam ukuran lebih kecil.

Konsep tersebut memungkinkan pembangunan dilakukan secara bertahap dan berpotensi lebih sesuai dengan sistem kelistrikan yang kapasitasnya tidak sebesar jaringan listrik negara maju.

Namun, teknologi SMR juga masih menghadapi sejumlah tantangan. Banyak desain SMR masih berada pada tahap pengembangan dan belum memiliki rekam jejak penggunaan komersial secara luas.

Karena itu, klaim mengenai biaya pembangunan yang lebih rendah masih perlu dibuktikan melalui penerapan dalam skala komersial.

Kebutuhan Data Center Ikut Mendorong Permintaan Listrik

Pertumbuhan pusat data menjadi faktor lain yang membuat kebutuhan listrik semakin besar di Asia Tenggara.

Pusat data membutuhkan pasokan listrik dalam jumlah besar dan stabil untuk menjalankan berbagai layanan digital. IEA memperkirakan konsumsi listrik sektor data center di Asia Tenggara akan meningkat lebih dari dua kali lipat hingga 2030.

Sebagian besar kapasitas pusat data yang sudah tersedia di kawasan saat ini terkonsentrasi di Singapura dan Johor, Malaysia.

Kebutuhan terhadap pasokan listrik yang andal membuat sejumlah negara mulai mempertimbangkan berbagai sumber energi, termasuk nuklir.

Tantangan Keselamatan Tetap Besar

Pengembangan energi nuklir tetap memiliki sejumlah tantangan serius. Negara yang baru memulai program nuklir harus membangun sistem pengawasan yang kuat, termasuk regulator independen dan tenaga ahli yang kompeten.

Selain itu, diperlukan sistem pengelolaan limbah radioaktif serta prosedur penanganan keadaan darurat yang dapat diterapkan dalam jangka panjang.

Kondisi geografis Asia Tenggara juga menjadi pertimbangan penting. Beberapa wilayah di kawasan memiliki risiko gempa bumi, aktivitas gunung berapi, hingga tsunami. Karena itu, pemilihan lokasi PLTN dan rancangan sistem keselamatan harus dilakukan secara sangat hati-hati.

Dukungan Masyarakat Masih Beragam

Penerimaan publik terhadap energi nuklir juga berbeda-beda di setiap negara.

Di Filipina, survei pemerintah yang dirilis pada tahun sebelumnya menunjukkan lebih dari 70 persen responden mendukung kemungkinan penggunaan energi nuklir untuk memenuhi kebutuhan listrik.

Sementara itu, laporan Indonesia Energy Transition Outlook 2026 menunjukkan hasil berbeda. Sebanyak 78 persen responden dalam survei tersebut menempatkan energi nuklir sebagai sumber energi yang paling tidak mereka pilih.

Perbedaan pandangan masyarakat tersebut menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan pemerintah sebelum mengambil keputusan mengenai pembangunan PLTN.

Jalan Indonesia Masih Panjang

Meningkatnya perhatian terhadap energi nuklir menunjukkan adanya perubahan dalam diskusi energi di Asia Tenggara. Namun, antara menetapkan target dan benar-benar mengoperasikan PLTN terdapat proses panjang yang harus dilalui.

Indonesia perlu mempertimbangkan kesiapan teknologi, pembiayaan, regulasi, sumber daya manusia, keselamatan, pengelolaan limbah, kondisi geografis, serta penerimaan masyarakat.

Dengan demikian, rencana pembangunan kapasitas nuklir Indonesia tidak hanya berkaitan dengan pembangunan pembangkit, tetapi juga dengan kesiapan ekosistem yang diperlukan agar teknologi tersebut dapat digunakan secara aman dan berkelanjutan.