Skip to main content

BRTV

6 Kebakaran Hutan Terbesar di Dunia, Indonesia Juga Pernah Mengalami Karhutla Dahsyat

Ilustrasi kebakaran hutan. Foto: Pexels

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menjadi salah satu persoalan lingkungan yang dampaknya dapat meluas hingga lintas negara. Dalam sejarahnya, sejumlah wilayah di dunia pernah mengalami kebakaran berskala besar yang menghanguskan jutaan hektare lahan dan menimbulkan kerugian bagi masyarakat maupun ekosistem.

Salah satu peristiwa terbesar tercatat terjadi di Australia pada 1974–1975. Kebakaran yang melanda wilayah tersebut diperkirakan mencapai 117 juta hektare, atau sekitar 15 persen dari total daratan Australia.

Kebakaran hutan dapat terjadi akibat faktor alami, seperti sambaran petir dan kondisi cuaca panas serta kering. Namun, aktivitas manusia juga menjadi salah satu pemicu utama kebakaran yang sulit dikendalikan.

Ketika api menyebar tanpa kendali, dampaknya tidak hanya merusak kawasan hutan. Asap yang dihasilkan dapat mencemari udara, mengganggu kesehatan, serta mengancam kehidupan satwa dan masyarakat di sekitar lokasi.

6 Kebakaran Hutan Terbesar di Dunia

Mengutip laporan Britannica yang dirangkum detikEdu, terdapat sejumlah peristiwa kebakaran hutan berskala besar yang pernah terjadi di berbagai negara. Berikut daftarnya berdasarkan luas wilayah yang terdampak.

1. Australia, 1974–1975: 117 Juta Hektare

Australia mencatat salah satu kebakaran vegetasi terbesar dalam sejarah pada periode 1974–1975. Luas wilayah yang terbakar diperkirakan mencapai 117 juta hektare, setara dengan sekitar 15 persen dari total daratan negara tersebut.

Kebakaran paling banyak terjadi di kawasan tengah Australia yang sebagian wilayahnya tidak berpenghuni. Meski demikian, bencana ini tetap menimbulkan korban jiwa.

Enam orang dilaporkan meninggal dunia akibat peristiwa tersebut. Kebakaran juga merusak sistem komunikasi, fasilitas pertanian, dan berbagai infrastruktur lainnya.

Besarnya wilayah yang terdampak menunjukkan bahwa kebakaran di kawasan dengan vegetasi luas dapat berkembang menjadi bencana lingkungan dalam skala besar.

2. Rusia, China, dan Mongolia, 2003: 22,5 Juta Hektare

Pada 2003, kebakaran besar melanda kawasan taiga di wilayah Rusia timur dan meluas hingga China serta Mongolia. Luas area yang terdampak diperkirakan mencapai 22,5 juta hektare.

Peristiwa tersebut berlangsung ketika kawasan itu mengalami suhu udara yang sangat tinggi. Kepulan asap dari kebakaran bahkan dilaporkan membubung hingga sekitar lima kilometer di atas permukaan tanah.

Luasnya wilayah yang terbakar membuat peristiwa ini menjadi salah satu kebakaran hutan terbesar yang pernah tercatat. Meski begitu, tidak ada korban jiwa yang dikonfirmasi dalam laporan yang dirujuk.

3. Australia, 2019–2020: 19 Juta Hektare

Australia kembali menghadapi kebakaran hutan besar pada periode 2019–2020. Peristiwa yang dikenal sebagai Black Summer tersebut menghanguskan sekitar 19 juta hektare lahan.

Kondisi cuaca yang sangat panas dan kering turut mempercepat penyebaran api. Kebakaran berlangsung di sejumlah wilayah dan menimbulkan dampak serius terhadap lingkungan serta kehidupan masyarakat.

Sebanyak 33 orang dilaporkan meninggal dunia akibat rangkaian kebakaran tersebut. Selain itu, populasi satwa liar mengalami dampak besar karena habitatnya terbakar atau rusak.

Bencana ini menjadi perhatian dunia karena memperlihatkan besarnya risiko kebakaran hutan ketika terjadi bersamaan dengan kondisi cuaca ekstrem.

4. Rusia, 2021: 18,2 Juta Hektare

Rusia kembali dilanda kebakaran hutan berskala besar pada 2021. Luas wilayah yang terbakar diperkirakan mencapai 18,2 juta hektare, menjadikannya salah satu musim kebakaran paling merusak dalam sejarah negara tersebut.

Sebagian kebakaran terjadi di kawasan hutan yang luas dan sulit dijangkau. Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi upaya pemantauan dan penanganan api.

Sejumlah laporan juga menyoroti peran aktivitas manusia dalam memicu kebakaran, termasuk kegiatan di sekitar kawasan hutan dan gangguan pada infrastruktur listrik.

Peristiwa tersebut memperlihatkan bahwa kombinasi kondisi lingkungan yang mendukung dan sumber api dapat meningkatkan risiko kebakaran dalam skala luas.

5. Kanada, 2023: 15 Juta Hektare

Kanada mengalami salah satu musim kebakaran hutan terburuk pada 2023. Sekitar 15 juta hektare lahan dilaporkan terbakar di berbagai wilayah negara tersebut.

Kondisi kering dan suhu tinggi membuat api lebih mudah menyebar. Kebakaran juga menyebabkan gangguan terhadap permukiman, memicu evakuasi warga, serta menurunkan kualitas udara akibat asap yang menyebar.

Delapan petugas pemadam kebakaran dilaporkan meninggal dunia dalam rangkaian peristiwa tersebut.

Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh masyarakat Kanada. Asap dari kebakaran juga bergerak melintasi perbatasan dan memengaruhi kualitas udara di sejumlah wilayah Amerika Serikat.

6. China dan Rusia, 1987: 7,3 Juta Hektare

Kebakaran besar juga terjadi di wilayah perbatasan China dan Rusia pada 1987, tepatnya di kawasan sekitar Sungai Amur atau yang dikenal sebagai Sungai Naga Hitam.

Dalam peristiwa tersebut, sekitar 1,3 juta hektare lahan terbakar di sisi China, sedangkan sekitar enam juta hektare terdampak di sisi Rusia. Jika digabungkan, luasnya mencapai sekitar 7,3 juta hektare.

Kebakaran tersebut menimbulkan kerusakan besar terhadap lingkungan dan permukiman. Sekitar 200 orang dilaporkan meninggal dunia, sementara puluhan ribu warga kehilangan tempat tinggal.

Peristiwa ini menjadi salah satu contoh bagaimana kebakaran di wilayah perbatasan dapat menimbulkan dampak kemanusiaan dan lingkungan yang sangat luas.

Indonesia Pernah Mengalami Karhutla Besar pada 1997–1998

Indonesia juga memiliki catatan kebakaran hutan dan lahan berskala besar. Salah satu peristiwa paling parah terjadi pada 1997–1998, terutama di Kalimantan dan sejumlah wilayah lainnya.

Berdasarkan laporan European Commission Joint Research Centre, Bank Dunia, dan Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP) yang dirujuk dalam pemberitaan, sekitar 9,7 juta hektare lahan di Indonesia diperkirakan terbakar selama periode tersebut.

Kemarau panjang yang berkaitan dengan fenomena El Niño menjadi salah satu faktor yang memperburuk kondisi. Cuaca kering membuat vegetasi dan lahan gambut lebih rentan terbakar.

Selain faktor cuaca, aktivitas manusia turut berperan dalam penyebaran kebakaran. Pembukaan lahan dengan cara membakar menjadi salah satu praktik yang meningkatkan risiko munculnya titik api.

Asap dari kebakaran tersebut menyelimuti sejumlah wilayah di Indonesia selama berbulan-bulan. Dampaknya bahkan meluas hingga Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Thailand bagian selatan, dan Filipina.

Kerugian yang ditimbulkan tidak hanya berkaitan dengan kerusakan hutan. Gangguan kesehatan, transportasi, kegiatan ekonomi, dan hilangnya habitat satwa turut menjadi bagian dari dampak bencana tersebut.

Mengutip laporan Bank Dunia pada 1999, kerugian ekonomi akibat kebakaran 1997–1998 diperkirakan mencapai sekitar 4,5 miliar dolar AS.

Luas Karhutla Indonesia pada 2026

Ancaman kebakaran hutan dan lahan masih menjadi perhatian di Indonesia. Data Sistem Informasi Kebakaran Hutan dan Lahan (SiPongi) Kementerian Kehutanan yang dikutip dalam pemberitaan mencatat luas karhutla mencapai sekitar 202 ribu hektare selama Januari–Juli 2026.

Angka tersebut menunjukkan bahwa karhutla masih menjadi tantangan dalam pengelolaan lingkungan, terutama ketika musim kemarau meningkatkan risiko kebakaran di berbagai wilayah.

Pencegahan menjadi langkah penting untuk menekan dampaknya. Upaya tersebut mencakup pemantauan titik panas, pengelolaan lahan tanpa pembakaran, perlindungan kawasan gambut, serta penanganan cepat ketika kebakaran mulai terdeteksi.

Rangkaian kebakaran besar di berbagai negara menunjukkan bahwa karhutla bukan hanya persoalan lokal. Kerusakan ekosistem, pencemaran udara, dan dampak terhadap masyarakat dapat meluas jauh dari lokasi kebakaran.

Karena itu, penguatan upaya pencegahan dan pengelolaan hutan secara berkelanjutan diperlukan untuk mengurangi risiko bencana serupa pada masa mendatang.