
Munculnya retakan tanah di Kalimantan menarik perhatian karena bentuknya sekilas menyerupai permukaan tanah kering di sejumlah wilayah Afrika. Kondisi ini kemudian memunculkan pertanyaan, benarkah Kalimantan akan menjadi gurun?
Fenomena tanah retak diketahui terjadi di Dusun Limus, Kalimantan Barat. Permukaan tanah terlihat pecah dan membentuk pola retakan akibat berkurangnya kandungan air di dalam tanah.
Meski demikian, kemunculan retakan tersebut tidak serta-merta menjadi tanda bahwa Kalimantan sedang berubah menjadi gurun.
Mengapa Tanah di Kalimantan Bisa Retak?
Guru Besar Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan Fakultas Pertanian IPB University, Prof Widiatmaka, menjelaskan bahwa tanah retak dapat terbentuk ketika tanah kehilangan air dalam jumlah tertentu.
Jenis tanah yang banyak mengandung liat cenderung mengalami penyusutan ketika kadar airnya menurun. Penyusutan ini kemudian dapat menyebabkan permukaan tanah pecah dan membentuk retakan.
Karena itu, penyebab tanah retak tidak selalu berkaitan dengan proses penggurunan. Kondisi tersebut bisa terjadi karena tanah mengalami pengeringan.
Beberapa faktor dapat menyebabkan berkurangnya air dalam tanah, mulai dari perubahan curah hujan, tingginya penguapan, surutnya genangan, hingga perubahan sistem drainase.
Apakah Kalimantan Akan Menjadi Gurun?
Kemiripan antara retakan tanah di Kalimantan dengan permukaan tanah kering di Afrika memang menarik perhatian. Namun, kemiripan bentuk tidak berarti kedua wilayah mengalami proses lingkungan yang sama.
Retakan tanah di Kalimantan lebih menunjukkan adanya perubahan kadar air pada tanah. Untuk menyimpulkan bahwa suatu wilayah sedang mengalami proses penggurunan, diperlukan indikator lingkungan lain dan pengamatan dalam jangka panjang.
Karakteristik tanah, iklim, curah hujan, tutupan vegetasi, hingga perubahan penggunaan lahan juga perlu diperhitungkan.
Dengan demikian, munculnya tanah retak di Kalimantan belum cukup menjadi bukti bahwa Kalimantan akan menjadi gurun.
Faktor Manusia Bisa Memengaruhi Kondisi Tanah
Perubahan kondisi tanah tidak hanya dipengaruhi faktor alam. Aktivitas manusia juga dapat memengaruhi tata air suatu wilayah.
Pembukaan lahan, perubahan drainase, pengambilan air, hingga aktivitas pertambangan berpotensi mengubah kondisi air di sekitar tanah.
Namun, untuk mengetahui apakah faktor-faktor tersebut berperan langsung terhadap retakan tanah di Dusun Limus, diperlukan penelitian lebih lanjut.
Tanah Retak Perlu Diamati
Tanah yang retak tidak selalu menunjukkan kondisi lingkungan yang berbahaya. Akan tetapi, fenomena tersebut tetap perlu diperhatikan jika retakan semakin luas atau disertai perubahan lingkungan lainnya.
Misalnya, vegetasi di sekitar lokasi mulai mengering, sumber air berkurang, atau terjadi penurunan permukaan tanah.
Untuk mengetahui penyebab sebenarnya, diperlukan pemeriksaan terhadap kondisi tanah, air, iklim, dan penggunaan lahan di kawasan tersebut.
Jadi, tanah retak di Kalimantan bukan berarti Kalimantan akan berubah menjadi gurun. Fenomena tersebut lebih tepat dipahami sebagai indikasi adanya perubahan kadar air pada tanah yang masih membutuhkan pengamatan lebih lanjut.







