
BRTV.CO.ID – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang memicu kabut asap menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat. Paparan asap kebakaran dapat meningkatkan risiko gangguan pernapasan, termasuk infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), terutama pada kelompok rentan seperti bayi dan balita.
Data mengenai kasus ISPA di wilayah terdampak karhutla menjadi perhatian karena jumlah penderita dilaporkan mencapai lebih dari 300 ribu kasus, dengan hampir 70 ribu balita turut terdampak.
Tingginya angka tersebut menunjukkan pentingnya upaya pencegahan dan penanganan dampak kesehatan akibat pencemaran udara, khususnya di daerah yang mengalami kebakaran hutan dan lahan.
Namun, angka kasus tersebut perlu dikaitkan dengan periode pelaporan, wilayah pendataan, dan sumber resmi agar tidak disalahartikan sebagai jumlah kasus nasional pada periode tertentu.
Asap Karhutla Berisiko Mengganggu Kesehatan Pernapasan
Asap yang dihasilkan dari kebakaran hutan dan lahan mengandung campuran gas serta partikel halus yang dapat masuk ke saluran pernapasan. Salah satu polutan yang perlu diwaspadai adalah partikel PM2.5, yakni partikel berdiameter 2,5 mikrometer atau lebih kecil.
Partikel berukuran sangat kecil tersebut dapat menembus jauh ke dalam paru-paru dan memicu peradangan. Paparan asap juga dapat memperburuk asma, menyebabkan batuk, mengiritasi tenggorokan, serta meningkatkan risiko gangguan pernapasan lainnya.
Risiko kesehatan bergantung pada konsentrasi polutan, lamanya paparan, kondisi kesehatan seseorang, dan faktor lingkungan lainnya.
Balita Menjadi Kelompok yang Rentan
Bayi dan balita termasuk kelompok yang rentan terhadap pencemaran udara karena sistem pernapasan mereka masih berkembang. Anak-anak juga dapat mengalami paparan polutan yang lebih besar secara relatif terhadap ukuran tubuhnya.
Paparan asap karhutla dapat memicu batuk, napas berbunyi, iritasi saluran pernapasan, dan memperburuk kondisi anak yang telah memiliki penyakit pernapasan.
Orang tua perlu mewaspadai gejala seperti batuk yang terus-menerus, napas cepat, sesak, sulit minum, atau anak terlihat sangat lemas.
Apabila anak mengalami kesulitan bernapas, bibir membiru, atau penurunan kesadaran, segera bawa ke fasilitas kesehatan untuk mendapatkan pertolongan medis.
Langkah Pencegahan Saat Terjadi Kabut Asap
Masyarakat yang tinggal di wilayah terdampak karhutla disarankan mengambil sejumlah langkah untuk mengurangi paparan asap, antara lain:
- Mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk.
- Menutup pintu dan jendela jika udara di luar dipenuhi asap, selama kondisi dalam ruangan lebih aman.
- Menggunakan alat penyaring udara jika tersedia.
- Menggunakan respirator yang sesuai, seperti N95, ketika harus berada di luar ruangan dan menghadapi paparan partikel asap. Masker ini tidak melindungi dari seluruh jenis gas berbahaya.
- Menjauhkan bayi, balita, lansia, ibu hamil, serta orang dengan penyakit jantung atau paru-paru dari area dengan paparan asap tinggi.
- Segera mencari pertolongan medis apabila muncul gejala pernapasan yang berat.
Selain perlindungan individu, penanganan karhutla dan pemantauan kualitas udara secara berkala sangat penting untuk mengurangi dampak kesehatan bagi masyarakat.
Pentingnya Data dan Penanganan yang Terkoordinasi
Besarnya jumlah kasus ISPA yang dikaitkan dengan wilayah terdampak karhutla menegaskan pentingnya kesiapsiagaan sektor kesehatan. Pemerintah daerah, fasilitas pelayanan kesehatan, dan instansi penanggulangan bencana perlu bekerja sama dalam memantau kondisi udara, mendata kasus, dan memastikan masyarakat memperoleh akses terhadap layanan kesehatan.
Informasi mengenai jumlah kasus juga harus disampaikan secara jelas, termasuk periode pencatatan, kelompok usia, dan daerah yang masuk dalam pendataan. Dengan begitu, masyarakat dapat memahami skala masalah secara tepat dan langkah penanganan dapat dilakukan berdasarkan kebutuhan di lapangan.
Kesimpulan
ISPA merupakan salah satu masalah kesehatan yang perlu diwaspadai ketika kebakaran hutan dan lahan menyebabkan pencemaran udara. Bayi dan balita termasuk kelompok yang membutuhkan perlindungan lebih besar terhadap paparan asap.
Masyarakat di wilayah terdampak diimbau mengikuti informasi kualitas udara dari sumber resmi, mengurangi paparan asap, dan segera mencari bantuan medis jika mengalami gejala serius.
Baca berita kesehatan, lingkungan, dan informasi terbaru lainnya di BRTV.CO.ID.
Website: https://brtv.co.id







