Skip to main content

BRTV

Beras dan Ikan Bisa Mengandung Arsenik, Kapan Kondisinya Perlu Dikhawatirkan?

Ilustrasi beras. Foto: Pinterest

Arsenik dikenal sebagai salah satu zat yang dapat membahayakan kesehatan. Namun, tanpa disadari, paparan arsenik dalam jumlah tertentu bisa berasal dari makanan yang dikonsumsi sehari-hari.

Beras menjadi salah satu pangan yang sering dikaitkan dengan paparan arsenik. Selain beras, arsenik juga dapat ditemukan pada sejumlah makanan yang berasal dari lingkungan perairan, termasuk ikan dan makanan laut.

Lantas, apakah keberadaan arsenik pada bahan pangan berarti masyarakat harus menghindari makanan tersebut?

Tidak selalu. Hal yang lebih penting untuk diperhatikan adalah jenis arsenik, jumlah paparannya, dan seberapa sering seseorang terpapar.

Mengapa Arsenik Bisa Masuk ke Makanan?

Arsenik sebenarnya merupakan unsur yang dapat ditemukan secara alami di lingkungan. Zat ini bisa berada di tanah, air, maupun sedimen.

Dalam kondisi tertentu, arsenik dari lingkungan dapat masuk ke tanaman atau organisme yang hidup di perairan. Dari sinilah arsenik kemudian dapat masuk ke rantai makanan manusia.

Beras menjadi salah satu bahan pangan yang mendapat perhatian karena tanaman padi umumnya tumbuh dalam kondisi lahan yang tergenang. Kondisi tersebut dapat memengaruhi kemampuan tanaman menyerap arsenik dari lingkungan.

Sementara pada ikan dan makanan laut, keberadaan arsenik berkaitan dengan lingkungan perairan tempat organisme tersebut hidup.

Tidak Semua Arsenik Memiliki Risiko yang Sama

Salah satu hal yang perlu dipahami adalah arsenik tidak hanya memiliki satu bentuk.

Secara umum, arsenik dapat ditemukan dalam bentuk organik dan anorganik. Arsenik anorganik lebih menjadi perhatian dari sisi kesehatan karena paparan dalam jumlah tertentu dan dalam jangka panjang dapat menimbulkan risiko bagi tubuh.

Sebaliknya, arsenik organik yang banyak ditemukan pada makanan laut umumnya memiliki tingkat toksisitas yang lebih rendah.

Karena itu, ketika membicarakan arsenik dalam makanan, tidak cukup hanya melihat apakah suatu bahan pangan mengandung arsenik atau tidak.

Kapan Paparan Arsenik Mulai Mengkhawatirkan?

Risiko kesehatan berkaitan erat dengan jumlah arsenik yang masuk ke tubuh dan lamanya seseorang mengalami paparan.

Paparan arsenik anorganik secara terus-menerus dalam jangka panjang dapat meningkatkan risiko sejumlah gangguan kesehatan. Karena itu, paparan yang berlangsung terus-menerus menjadi hal yang perlu mendapat perhatian.

Namun, menemukan arsenik dalam satu jenis makanan tidak berarti seseorang otomatis mengalami keracunan.

Risiko perlu dilihat secara keseluruhan, termasuk pola makan, sumber air minum, lingkungan tempat tinggal, serta kemungkinan sumber paparan lainnya.

Mengapa Beras Sering Menjadi Perhatian?

Beras dikonsumsi secara rutin oleh masyarakat Indonesia sehingga potensi paparannya menjadi lebih relevan dibandingkan makanan yang hanya dikonsumsi sesekali.

Tanaman padi memiliki karakteristik yang membuatnya relatif lebih mudah menyerap arsenik dari tanah dan air dibandingkan sejumlah tanaman pangan lainnya.

Meski demikian, hal tersebut bukan berarti masyarakat harus berhenti makan nasi.

Salah satu langkah sederhana yang dapat dilakukan adalah menerapkan pola makan yang beragam. Tidak bergantung pada satu sumber makanan secara terus-menerus dapat membantu mengurangi kemungkinan paparan berlebihan dari satu sumber tertentu.

Bagaimana dengan Ikan?

Ikan tetap menjadi sumber protein yang penting. Kandungan arsenik pada ikan juga perlu dilihat berdasarkan bentuk arseniknya dan jenis ikan yang dikonsumsi.

Pada makanan laut, arsenik organik umumnya lebih dominan. Bentuk ini berbeda karakteristiknya dengan arsenik anorganik yang lebih mendapat perhatian dalam kaitannya dengan dampak kesehatan jangka panjang.

Karena itu, ikan tidak perlu otomatis dihindari hanya karena adanya kemungkinan kandungan arsenik.

Cara Sederhana Mengurangi Paparan

Ada beberapa kebiasaan yang dapat diterapkan untuk mengurangi potensi paparan arsenik dari makanan.

Salah satunya adalah menjaga variasi menu harian. Konsumsi berbagai sumber karbohidrat, protein, sayuran, dan buah membuat pola makan menjadi lebih beragam.

Untuk beras, cara pengolahan dan memasak juga dapat memengaruhi kadar arsenik pada hasil akhirnya. Namun, metode memasak tertentu tidak dapat dianggap sebagai cara untuk menghilangkan seluruh kandungan arsenik.

Yang tidak kalah penting adalah memastikan sumber air minum aman dan memenuhi standar kualitas yang berlaku.

Jadi, Perlukah Takut Mengonsumsi Beras dan Ikan?

Jawabannya, masyarakat tidak perlu langsung panik.

Beras dan ikan tetap dapat menjadi bagian dari pola makan sehari-hari. Yang perlu diperhatikan adalah menjaga keseimbangan konsumsi serta memahami bahwa risiko arsenik sangat dipengaruhi oleh bentuk senyawa, jumlah paparan, dan durasi paparan.

Jika seseorang memiliki kekhawatiran khusus mengenai paparan arsenik, terutama karena faktor lingkungan atau sumber air tertentu, konsultasi dengan tenaga kesehatan dapat menjadi langkah yang tepat.

Pada akhirnya, mengenali sumber paparan bukan berarti harus menghindari semua makanan yang berpotensi mengandung arsenik. Pola makan beragam, keamanan pangan, dan perhatian terhadap sumber air menjadi bagian penting dalam mengurangi risiko paparan dalam kehidupan sehari-hari.